Larut Dalam Musik Di Tengah Alam ( Float2Nature 2013 )

Tanakita, Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat

November 2013

Float2Nature 2013

Float2Nature 2013

Matahari senja melukiskan warna kejinggaan di langit Situgunung, sore itu. Ratusan escaper’s (sebutan bagi mereka yang sejenak melarikan diri dari kepenatan kota)  termasuk saya berkumpul di Villa Merah (Villa Sederhana di sebuah bukit di kawasan Tanakita). Bersama, kami menikmati keindahan alam yang ditawarkan tersebut. Tepat pukul 17.30, Hotma “Meng” Roni Simamora (vokalis Float Band), Windra “Bontel” Benyamin, dan Raymond “Remon ” Agus Saputra (para pentolan Band Float) memanggil kami yang berkumpul disana. Beralaskan rerumputan para peserta Float2Nature 2013 ini duduk mengelilingi panggung  sederhana berselimutkan tenda putih. Panggungnya unik, ditambah sebuah pohon kecil ditaruh ditengah panggung yang dikelilingi beragam alat-alat band tersebut. Lebih tepatnya Keren!

 IMG_3887

“Sudah siap?!Marih kita bernyanyi. Disini kita saling bercerita dan berbagi,” seru Meng (vokalis Float) membuka acara bertajuk Float2Nature 2013 tersebut.

 IMG_3945

Lagu-lagu hits Float seperti “Pulang”, “Sementara”, “Stupido Ritmo”, “3 Hari Untuk Selamanya”, dan lainnya dimainkan mulai dimainkan. Para peserta yang kebanyakan juga penggemar band Float pun  larut dengan keromantisan yang dihadirkan. Hawa dingin pegunungan pun tak dirasakan, kami melupakan kepenatan yang ada dan larut  bernyanyi bersama. Tentu saja, ditemani pengusir dingin kopi dan teh panas, tak ketinggalan jagung bakar.🙂

 IMG_3935

IMG_3899

 

Sensasi menikmati musik ditengah alam ini sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Salah-satu yang menikmatinya adalah Valdano, 23 tahun. Pria yang berprofesi sebagai Konsultan Hukum di Jakarta ini memang sengaja ingin mencari sensasi berlibur yang berbeda lewat Float2Nature ini.  Ia menjadikan Float2Nature sebagai pelarian dari kepenatannya bekerja di Jakarta.

IMG_3905

“Aku bisa menikmati Float dan musik dengan nuansa alam, yang sensasinya sungguh berbeda dengan konser kebanyakan. Ini pelarianku dari kepenatan jakarta, tekanan pekerjaan, kemacetan, dan lainnya. Suasananya menyenangkan dan banyak bertemu orang baru, seru!” ungkap Valdano yang baru kali ini mengikuti Float2Nature ini.

IMG_3987

Tak ketinggalan, sejumlah bintang tamu juga mengisi acara tersebut.  Yakni band-band indie seperti “Payung Teduh” dan “Banda Neira”. Sajian musik tersebut berlangsung hingga menjelang tengah malam. Beberapa larut dalam romantisme bersama kekasihnya, ada yang bernyanyi bersama dengan sahabat tercinta. Nah, bagi yang datang “dewekan” alias sendiri, tak perlu galau karena semua gabung bersama. Meski baru kenal, tapi kebersamaannya membuat bagai bertemu teman lama.

Payung Teduh

Payung Teduh

IMG_3956

Banda Neira

Banda Neira

IMG_3982

Tak sampai disana saja, karena keesokan paginya tepat pukul 5. 30, Float memberikan kejutan dengan memainkan musik kembali di pinggir Danau Situgunung yang letaknya tak jauh dari camp. Meng dan kawan-kawan ‘nge-jam’ bareng Dilatar belakangi danau dan pegunungan, ditambah sinar matahari pagi yang begitu hangat.

 Untuk kedua kalinya, Float manajemen kembali menggelar Float2Nature. Sebelumnya, tahun lalu perhelatan yang sama diadakan di Gunung Dieng, Jawa Tengah. Float2Nature sendiri merupakan proyek tahunan yang memadukan tiga elemen utama, yakni musik, perjalanan, dan alam. Proyek ini adalah kolaborasi tim manajemen Float (sebuah band asal Jakarta) bersama sekelompok pendukungnya yang memiliki latar belakang profesi di berbagai bidang pekerjaan seperti hiburan, periklanan, pariwisata, komunikasi, perfilman, desain visual, dan lainnya.

Float

Float

“Kita ingin mengajak mereka sejenak melarikan diri dari kepenatan Jakarta dan menikmati alam, ibaratnya seperti kita mengundang teman-teman kita untuk menikmati garden party disini,” ungkap Meng vokalis Band Float.

Mencicip Alam Situgunung

Danau Situgunung

Danau Situgunung

Sebelum menikmati sajian musik dari Float dan kawan-kawan, saya dan para peserta yang berjumlah sekitar 175 orang itu, tiba di Tanakita di siang harinya. Ada yang datang sendiri-sendiri, tapi kebanyakan, datang dari Jakarta secara bersama-sama. Sejak pukul 4 pagi (sabtu pagi, 2/11) mereka sudah berkumpul di daerah Kuningan, Jakarta selatan dan berangkat dengan menggunakan Bis yang telah disediakan. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, kami tiba di kawasan Tanakita yang berada di kaki gunung Pangrango, Sukabumi tersebut. Sesampainya disana, kami sejenak melepas dahaga dan lelah dengan menyeruput segelas bandrek hangat dan beberapa gorengan.

IMG_3849

IMG_3852

IMG_3855

 

Meski sedikit lelah karena perjalanan, para peserta begitu antusias mengikuti kegiatan ini. Beberapa tenda (camp) berwarna hijau telah dipersiapkan berjejer di hamparan rumput yang menjadi camping ground para peserta.

IMG_3859

Kami pun masuk ke tenda masing-masing yang telah dipersiapkan panitia. Bayangan susah payah membangun tenda sendiri pun langsung sirna. Karena, di kawasan “5 Star Camp” Tanakita ini, semua tenda bergaya modern, dengan fasilitas yang cukup memudahkan mereka-mereka yang tidak terbiasa kemping di alam.

IMG_4117

Di siang harinya pun, beberapa peserta menyempatkan diri untuk mencoba kegiatan outbond lain. Salah-satunya, River Tubing. Para peserta menelusuri Sungai Cigunung. Helm, jaket pelampung,dan pelindung betis digunakan para peserta. Dengan semangat, mereka satu persatu menelusuri aliran sungai Cigunung yang terletak hanya 20 menit berjalan kaki dari lokasi tenda mereka. Selama 45 menit, mereka menikmati petualangan menelusuri sungai yang bergejolak sepanjang 1,5 kilometer itu. Mereka membaur bagaikan teman lama. Padahal, banyak dari mereka yang baru berkenalan saat itu juga. Hanya saja, nuansa kebersamaan dan kekeluargaan begitu kental terasa hingga menyatukan mereka. Selain River Tubing, beberapa lainnya juga ada yang memilih tracking menuju Curug Sawer yang lataknya tak jauh dari camping ground. Selain itu, mereka juga mencoba adrenalin menghadapi ketinggian dengan mengikuti kegiatan high rope.

IMG_4052

 IMG_4070

IMG_4065

IMG_4090

IMG_4098

Kami pun tak mau melewatkan menikmati pagi kami di Danau Situgunung. Sekalian intip Banda Neira yang bersantai sambil latihan disini.

IMG_4014

Sore kembali menjelang, saatnya pulang kembali ke Jakarta. Kembali ke rutinitas.😦

Santai sejenak menunggu pulang.

Santai sejenak menunggu pulang Kembali Ke Jakarta.

IMG_4109

Foto Bareng

Foto Bareng

IMG_4133

IMG_4137

Bagi yang ingin ikut merasakan sensasi melarikan diri dari kepenatan kota dan sejenak menikmati musik di alam terbuka. Anda bisa mengikuti Float2Nature yang rencananya akan kembali dilaksanakan di tahun mendatang. Untuk menikmati liburan keren ini, anda bisa mengintip info-infonya di  float2nature.com.

Why Can't We Just Stay This High?

Why Can’t We Just Stay This High?

^_^

########

Ngobrol Bareng Float

– Sebelum naik panggung Float2Nature, terlebih dulu gue culik Meng, Bontel, dan Remon. Berikut obrolan sore gue dengan “Trio Leo” (Ketiganya berzodiak Leo) di pojok Villa Merah: ^_^

IMG_3872

Bagaimana sih awal mula pertemuan kalian? 
Meng: Awalnya gue tergabung ke band “Zero”, bareng  Svendpri Sanderson Umpel temen SMA gue. Nah, saat itu Bontel yang tergabung band lain, suka nongkrong bareng kita.
Bontel: Suatu saat kita ketemu bareng, ngejam, caur-cauranlah. Entah kenapa tiba-tiba Gue nanya ke Meng, punya lagu tidak? yuk kita main bareng, iseng-iseng aja. saat itu tahun 2002 akhir.
Meng: Nah, di tahun 2003, gue dan Bontel mulai bikin projek bareng. Rekamannya di rumah Bontel. Setahun lebih jalan, agak ngadet karena kesibukan kita masing-masing.saat itu mikir, ini pasti gak jadi. Suatu saat, tiba-tiba Bontel kena musibah, filenya rusak, gak bisa kebuka sehingga kita harus memulai dari awal. Inilah yang memaksa kita harus mengerjakan ulang dari awal, bontel akhirnya lanjutin dengan serius. Kita mulai berkomitmen untuk serius mengerjakan bareng. Dan akhirnya Bontel pun mengajak Remon yang juga teman SMAnya untuk menjadi basistnya.
Gimana tuh tercipta Album “No-Dream Land”?
Meng: Akhirnya kita rekaman segala macem. Diawali dengan “Pulang” yang gue tulis sudah lama sekitar tahun 1990an. Tiba-tiba lompat ke lagu baru “Stupido Ritmo” dan “No-Dream Land”. Saat itu, kita juga sudah hengkang dari band kita yang lama.  Eh ternyata Stupido Ritmo yang duluan selesai. Terus lagu itu kita pamerin ke temen-temen dekat. Tau-taunya salah-satu teman kita diam-diam kasih ke music directornya Radio Prambors. Dipasang disebuah acara radio itu (November 2004). Pertama rilis Stupido Ritmo langsung masuk chart nomor satu. Kita pikir, ya sudah bikin CDnya (3 lagu). Di tahun 2005, Kita patungan bikin 1000 biji, sebar sendiri, ke distro-distro dan lainnya.
Kenapa jadinya bikin band?
Bontel: Pas lagu dah di radio, mereka nanya nama band. Kita bingung. kenapa bingung? karena tadinya gue mo produserin Meng. Dia punya lagu, gue aransemen dan yang produksi, ntar kalau ada apa-apa gue minta bantuan Remon. Tadinya mau seperti itu, lebih ke Meng yang solo. Eh malah ditanya band, ya sudah akhirnya kita putuskan bentuk band ajalah. Waktu itu udah nemui tiga buah nama, salah-satunya Gathering Leo, soalnya kita semua bintangnya Leo. Tapi kayanynya enggak cocok, hehehe.
Meng: Nah, gue juga gak mau kalau tampil sendiri. Karena gue ngerasa, ini temen nongkrong baru yang asik, jadi pengennya band. Akhirnya gue yang cari nama bandnya. Dimulai dari awalan F, kayaknya seksi, identik dengan F hold biola. Terus nyari-nyari di kamus. Float kayaknya lucu dan mereka (Remon dan Bontel) setuju.
Nama “Float” ada filosofi tersendiri?
 
Meng: Gue percaya jodoh, gue percaya semuanya ini sudah diatur Tuhan. Dan nama Float akhirnya pas banget untuk kita. Saat itu, kita punya profesi masing-masing. saat itu, gue sibuk motret, Remon kerja sebagai Programer IT, sementara bontel bikin musik, iklan, dan sebagainya.  Ternyata, kita main musik untuk bikin kita ringan lagi, seperti liburan. Kita cuma ingin bikin musik, yang menurut kita asik. Nama band aja tidak kita pikirin. Tapi setelah dipikir-pikir “Floater” dalam kamus inggris itu, artinya orang yang shift kerjaan, pindah-pindah kerjaan saat kapan ia dibutuhkan. Dan artinya begitu nyambung dengan kita.
Musik seperti apa sih yang ingin kalian sajikan?
Bontel: Saat produksi lagu, tadinya kita ingin bikin lagu, gitar dan vokal, diaransemen, musik yang tidak pernah didengar, dan jadi gambaran di kepala yang benar.
Meng: Bahan mentahnya, lagu yang aku bikin, dan Remon dan Bontel yang bereaksi. Meski sering, mereka tidak memperhatikan liriknya saat pembuatan, tapi hasilnya selalu pas dengan yang aku bayangkan. Reaksi mereka, selalu pas dengan misi dari lagunya. Kadang suka bingung kenapa bisa tercipta chemistry seperti itu.
Kalian sempet gak sih ngalamain masa-masa sulit, terus kenapa kalian sempat vakum?
Meng: Terakhir kita main bareng di Febuari 2008. Abis itu, Bontel ngambek, bilang ingin liburan (off). Akhirnya kita menjalani projek masing-masing. Gue sempet pusing, karena harus nyumbang satu lagu untuk film Laskar Pelangi. Itu gue kerjakan sendiri akhirnya. Kita vakum sampai tahun 2010. Dan akhirnya, di tahun 2010, gue bikin lagu “I.H.I”, “Ke Sana”, dan beberapa lagu lainnya. gue mencoba menghidupkan kembali Float Di tahun 2011. Sempet plinplan, mau Float atau Float project. Karena gue tahu, mereka (anggota baru: Timur Segara, Leo Christian, David Qlintang, Iyas Pras) punya band lain, tapi gue ngerasa sayang  jika nama float dihilangkan. Akhirnya, muncul dengan nama Floatproject ini jalan setahun lebih dan merilis single “I.H.I”. Dan akhirnya, mereka juga mengikuti Float2Nature pertama di Dieng 2012. Namun, akhirnya ada beberapa anggota yang keluar karena hendak merilis album dengan band utama mereka.
Terus apa yang membuat kalian (Float) bersatu kembali?
Meng: setelah gue jalanin setahun itu, ya gue kangen mereka berdua (Remon dan Bontel). Pulang dari Float2Nature 2012, gue kembali hubungi Bontel. gue butuh mereka main lagi. Akhirnya kita putuskan barengan lagi, dan ini Float2Nature pertama buat kita bertiga. Dan bagi gue, musik yang gue bikin harus dikerjakan sama mereka berdua.
Bontel: Karena, gue bisa pol bikin musik pake lagu dia (Meng). hehehe
Remon: Lagu yang dibuat Meng, kita memang gak pernah punya ramuan untuk menjadi seperti apa. Sampai akhirnya sekarang, kalau buat lagu, gue ingin rasanya Indonesia, atau rasanya ngambang, masing-masing kita berpikir keras. Itu yang gue suka dari kerja kita bertiga. Kita saling memberitahu kekurangan masing-masing. Kan, tukang cukur gak bisa nyukur sendiri.
Kenapa terus komitmen ke indie?
Meng: Partner adalah Proiritas utama. Kalau kita jalani ini umur belasan, kita berantem ya sudah bubar. Diumur kita ini, kita tak bisa tidak  temenan. Mereka partner dan sahabat. Kita bertiga bisa jalani, ini semua, bermodal komitmen dan passion. Dan Kita sih tidak pernah milih untuk indie atau tidak, karena kita terlalu asik untuk memikirkan dan mewujudkan musik dan mimpi  kita. Kalau kita mikirin kita band, manajer, label, terus rilis, pasar. Waktu berkarya kita habis, dan tidak menyenangkan pula.
Remon: kita tidak mau lagi terpatok untuk mikirin gimana mendistribusikan lagu, karena tanpa kita mikirin metodenya gimana, sudah tersebar sendiri. Lebih bagus kita fokus ke karyanya, bagus atau tidaknya kita lempar lagi ke pendengar. Tak ada beban juga, kita ngerasa lebih jujur di musik. Tak perlu dibuat-buat, ada yang senang kita bersyukur, kalau tidak ya sudah.
Inspirasi musik dari mana aja sih?
Remon: inspirasi kita daapat dari dengerin beragam jenis musik. Dan tak semua musik yang dibuat meng, kita bereaksi dan menjadikan musik utuh. Kadang, belum tentu jadi sebuah lagu, kadang disimpen untuk dijadikan kelengkapan utnuk lagu yang lain.
Meng: Inspirasi banyak datang dari cerita orang sekitar. Kadang, kita nongkrong dan remon cerita tentang buku Mataram kuno. Intinya gue ingin membuat lagu kalau ada suatu hal yang ingin gue ceritain. Karena itu gue tak akan, pamer lagu, ke bontel dan remon, kalau gue tidak pede. kita sama-sama ingin bikin suatu yang enak.
Anggota float, sibuk dengan profesi masing-masing?gmn aturnya?
Remon: Sederhana saja, sesibuk apapun, saat diminta kumpul ya kumpul saja, semua dijalani spontan. Dan ini menyenangkan. Kita ada kesibukan sendiri, ada kangennya terus ngumpul lagi, akhirnya passionnya lebih kuat. Tidak ada ramuan khusus yang gimana gimana.
Apa yang membuat, kalian percaya diri bahwa jalan bermusik yang dipilih itu benar?
 
Meng: Karena semua karya yang kita bikin, paling tidak, sejauh pengamatajn kita, memberikan hal baik tuk orang lain. Hal ini cukup meyakinkan kita bahwa, We do the right thing. Bukan karena kita di chart nomor satu, atau muncul di videoklip, atau banyak fansnya, bukan bukan karena itu.
Album baru kapan keluar nih?
Remon: kita bekerja tetap pakai target namun biar gimana pun suatu yang dikerjakan dnegan target bisanya kualitasnya akan kurang. Karena kita mengedepankan mood untuk bikin yang terbaik. misal pulang itu bisa setahun sendiri. kadang satu lagu tiga hari. Dan saat ini kita merencana untuk membuat album baru. Kita ingin melahirkan suatu album dan tetap indie. Tapi untuk pastinya kapan, ya tunggu saja.
Harapan kedepannya?
Meng: kita berharap ini semua tumbuh, kita bisa bertahan lama untuk membuat musik yang kita anggap berkualitas. Dan kita bisa memberikan sesuatu yang baru untuk didengerin, kita bisa punya tempat di telinganyang dengerin karya kita. kalau bisa nyangkut di hatinya, dan ada di hidupnya sehari-hari.
 
“FLOAT”
Nama: Hotma Roni Simamora (Meng)
TTL : Kuala Lumpur, 15 Agustus 1974
Profesi : – Vokal & Gitar Band Float
– Fotografer
Nama :  Raymond Agus Saputra (Remon)
TTL : Jakarta, 22 Agustus 1972
Profesi : – Bass di Band Float
-Karyawan perusahaan IT
Nama: Windra Benyamin (Bontel)
TTL : Jakarta 12 Agustus 1972
Profesi : – Gitar & Aransemen di Band Float
– Music Produser & Song Desainer
Album:
– Mini Album “No-Dream Land” (2005).
–  Mengisi album soundtrack untuk film “3 Hari Untuk Selamanya” (2007).
–  Lagu yang berjudul “Surrender” digunakan dalam film seri “Heroes” (Season 2) produksi Satellite Television for the Asian Region (STAR), Hongkong (2008).
– Lagu “Waltz Musim Pelangi”, Float ikut berkolaborasi dalam album kompilasi “Songs Inspired by Laskar Pelangi” (Miles Music / Trinity Optima).
– “Songs Of Seasons” yang dirancang khusus sebagai lagu tema iklan tv “Wonderful Indonesia”, salah satu media kampanye promosi pariwisata Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Prestasi:
– Reward sebagai band yang jenis musiknya dianggap ‘out of the box‘ dalam ajang ‘Prambors Blast The Rewards’ 2005.
– Abhinaya Trophy untuk Soundtrack Terbaik di ajang Jakarta Film Festival dan Best Theme Song MTV Indonesian Movie Awards (2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s