Bertamu Di Rumah ‘Ora’

Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur

September 2013

Sulphu

Sulphurea Hill, Komodo Island, NTT.

Pulau Komodo tentu saja menjadi tujuan perjalanan kami selanjutnya di Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapainya, anda bisa menyewa kapal penduduk lokal yang berlabuh di Kampung Udjung di Labuan Bajo. Pagi hari, kami berangkat menggunakan kapal ‘speed’ menuju Pulau yang menjadi rumah ‘Ora’, sebutan Komodo oleh penduduk lokal. Kita patut berbangga, karena hewan bernama latin Varanus komodoensis ini, yang menjadi satu-satunya hewan purba tersisa di dunia ini hanya bisa ditemui di Indonesia. Dan di tahun 2012, UNESCO resmi menetapkan Komodo sebagai New Seven Wonder of Nature.  Dan kami begitu penasaran ingin menyapanya langsung.

Menuju Pulau Komodo

Menuju Pulau Komodo

Kami disuguhkan keindahan Kepulauan nan Eksotik dalam perjalanan menuju P. Komod

Kami disuguhkan keindahan Kepulauan nan Eksotik dalam perjalanan menuju P. Komod

Dermaga Loh Liang, P. Komodo

Dermaga Loh Liang, P. Komodo

Usai satu jam perjalanan menyebrang lautan, kami berlabuh di Loh Liang, salah-satu lokasi di Taman Nasional Pulau Komodo. Sandy, 21 dan Juan, 21, Ranger TN Komodo menyambut kami.

Rangers Pulau komod

Rangers Pulau komodo

Komodo 550

Mereka masing-masing membawa tongkat sepanjang 2 meter dengan ujung bercabang dua. Inilah alat utama para pemandu untuk menghalau jika sewaktu-waktu komodo menyerang.

Menerima arahan singkat sebelum tracking

Menerima arahan singkat sebelum trekking

Sebelum berjelajah, kami pun menerima beberapa informasi dan aturan yang harus ditaati. Maklum, Komodo yang kami hadapi merupakan hewan  buas yang mampu menyerang jika merasa terganggu. Kecepatan berlarinya saja bisa mencapai 20km/jam. Jadi, kalau dikejar kami diminta untuk lari zig-zag. Dan, sebelumnya perempuan yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan untuk berjelajah, karena akan memancing si Ora yang memiliki penciuman tajam hingga berkilo-kilometer tersebut.

Jalur Tracking

Jalur Trekking

Ada tiga rute yang bisa pengunjung pilih untuk trekking. Short (1 kilometer), Medium (5 kilometer), dan Long (10 km). Saya dan rombongan pun memilih yang medium. Setelah siap, kami memulai perjalanan.  Tentu saja, tak hanya penasaran ingin bertemu Ora, tapi penelusuran perbukitan Pulau Komodo juga menjadi pengalaman yang kami tunggu.

Perjalanan dimulai...

Perjalanan dimulai…

Sandy, salah-satu ranger kami, ternyata mahasiswa sebuah sekolah wisata di Bandung, Jawa Barat yang sudah sebulan disini untuk penelitian dan tugas akhir. Ia mengantarkan kami, sambil memberikan penjelasan seputar kehidupan Komodo. Beberapa menit berjalan, kami sampai di Hutan Asam, Hutan yang lebat begitu menyejukkan.

Terlihat Rusa yang berkeliaran. Rusa menjadi buruan favorit para Ora alias Komodo.

Terlihat Rusa yang berkeliaran. Rusa menjadi buruan favorit para Ora alias Komodo.

Kami menemui banyak Rusa-rusa yang sedang berkeliling mencari makan. Rusa memang menjadi makanan utama para Komodo disini. Sayangnya, beberapa menit perjalanan kami, belum ada tanda-tanda kemunculan Komodo.

Anda memasuki zona Komodo. waspadalah...;D

Anda memasuki zona Komodo. waspadalah…;D

Kami melanjutkan trekking menuju Bukit Sulphurea (Sulphurea Hill). Perjalanan semakin seru, karena medan yang cukup menantang saat penanjakan.

Menuju Sulphurea Hill

Menuju Sulphurea Hill

Komodo 577

Komodo 578

Hingga akhirnya, kami pun sampai di Bukit Sulphurea. Nama ini diambil dari Cacatua Sulphurea, nama latin Kakatua Jambul Kuning, yang banyak ditemui disini.  Rasa lelah selama perjalanan pun terbayarkan dengan pemandangan alam dari bukit ini yang begitu indah.

Bukit Sulphurea. Dari sini kita bisa melihat keindahan perbukitan Pulau Komodo dan Birunya laut flores.

Bukit Sulphurea. Dari sini kita bisa melihat keindahan perbukitan Pulau Komodo dan Birunya laut flores.

Komodo 596

Perbukitan pulau komodo yang berwarna hijau kecokelatan, berpadu dengan pemandangan lautan biru di kejauhan, dengan langit yang cerah. Sejenak, kami melepas lelah sambil memandangi keindahan alam, dan tentu saja sesekali mengabadikan moment dengan kamera di genggaman.

Komodo 595

Puas menikmati Bukit Sulphurea, kami melanjutkan perjalanan menuju restauran yang menjadi titik akhir kami.

Genk Ora asik berjemur di bawah pohon dipinggir pantai...

Genk Ora asik berjemur di bawah pohon dipinggir pantai…

Beruntung, akhirnya kami menemui enam ekor Komodo yang sedang asik ‘leyeh-leyeh’ di bawah pohon besar. Ternyata, mereka banyak disini,salah-satunya terpancing wangi masakan dari sbuah dapur yang letajnya tak jauh dari pantai.

Komodo 612

“Seru banget trackingnya. Sayang tidak bertemu komodo di alam bebas, tapi untungnya sekarang ketemu, senangnya,” ujar Rini, 26, pengunjung dari Jakarta yang asik memotret Komodo dihadapannya.

Komodo 640

Mumpung bertemu Komodo langsung,kami pun asik memotret mereka. Sesekali, Komodo berjalan menjauhi kawanan menuju dekat pantai, ada pula yang berjalan mendekat ke arah kami, karena merasa terganggu. Oleh sebab itu kami tak boleh terlalu antusias dan terlalu mendekat.Karena jarak yang diharuskan sekitar 5 meter. Tak bosan-bosannya kami memandangi kegagahan Komodo ini.

Para pengunjung asik memandangi Komodo.

Para pengunjung asik memandangi Komodo.

Komodo 642

Komodo 649

Kami begitu senang, akhirnya bertemu hewan langka dan mengagumkan ini. Terakhir, kami menyempatkan berkunjung ke perkumpulan pedagang lokal yang menjual souvenir disini. Selain P. komodo, anda juga bisa berkunjung ke Pulau Rinca yang letaknya bersebelahan. Di Pulau Rinca anda bisa lebih sering menemui komodo karena pulaunya yang lebih kecil, Namun karakter ukuran Komodo di Pulau Rinca lebih kecil dibandingkan dengan di Pulau Komodo yang dipengaruhi oleh makanan Rusanya yang lebih sedikit. Anda pun bisa juga menemui Ora di Pulau Gili Motang, dan Gili Dasami.

-Info-

– perempuan yang menstruasi sebaiknya tidak diperkenankan berkeliling.

– tiket masuk TN Komodo: nusantara: Rp2500, mancanegara Rp20 ribu. tarif gudining Rp50 ribu per grup (1-5 orang)

– Sewa kapal dari labuan bajo: Rp1,5 juta-Rp2 juta, kapasitas 12 orang (perjalanan 3 jam/sekali jalan). atau Rp3 juta-Rp3,5 juta (speed, 1 jam perjananan/sekali jalan).

– sebaiknya berangkat pagi hari sekitar-6-7 pagi, agar lebih puas dan tidak kesorean, karena ombak semakin tinggi disore hari.


 MANISNYA PANTAI PINK

Pantai Pink, Pulau Komodo, NTT, nampak dari kejauhan.

Pantai Pink, Pulau Komodo, NTT, nampak dari kejauhan.

Sudah cukup bertegursapa dengan Komodo, kami pun merapatkan kapal kami menuju Pantai Pink, yang letaknya tak jauh dari Loh Liang, masih di sisi lain Pulau Komodo. Usai 20 menit menyebrang laut, kami sampai di pantai yang terkenal unik dengan gugusan pasir nya yang berwarna pink ini.

Beberapa kapal nampak berada di sekitaran laut dekat pantai. Tidak ada dermaga atau jetty kayu di pantai tak berpenghuni ini. Jadi bagi anda yang ingin menuju pantai bisa menggunakan jaket pelampung dan alat snorkeling anda sambil berenang menuju pantai. Tapi, tidak perlu khawatir bagi anda yang membawa tas dan bawaan, atau yang malas berenang menuju pantai, karena disini terdapat sebuah kapal kecil milik penduduk lokal yang memberikan jasa untuk mengantarkan anda berlabuh  ke pantai. Anda cukup mengeluarkan kocek Rp20 ribu seorang untuk jasa ini.

Pantainya begitu unik, berwarna pink...

Pantainya begitu unik, pasirnya berwarna pink, butiran merahnya berasal dari Foraminifera yang hidup didasar laut dan terbawa hingga ke pantai…

Beberapa dari kami, termasuk saya memutuskan untuk menaiki kapal lokal. Dari kejauhan memang belum terlihat warna pink, tapi semakin dekat dan berlabuh, benar warna pink itu jelas terlihat. Penasaran, saya mengambil pasir tersebut melihat jelas-jelas, dan terdapat butiran berwarna merah di pasir ini. Warna kemerahan ini berasal dari Foraminifera, hewan bersel satu yang hidup di dasar laut. Hewan itu terbawa ombak sehingga warna cangkangnya menyatu dengan pasir pantai. Dan ternyata, pantai Pink di Pulau Komodo ini memiliki kembaran di kepulauan Karibia, tepatnya di Harbour Island. Bahkan, karena pasirnya yang unik, tak jarang beberapa pengunjung membawa pulang sedikit pasirnya sebagai kenang-kenangan.

 Beberapa pengunjung terlihat asik mengabadikan moment dengan kamera mereka di sepanjang pantai unik ini. Adapula yang asik bersantai di bawah pohon menikmati keindahan pantai, laut dan pemandangan bukit sekitarnya. Tentu saja, tak ketinggalan wajib mengeksplor keindahan bawah lautnya. Kami pun bersnorkeling di sekeliling pantai. Terumbu karang disini begitu terjaga, dan jenisnyapun bervariasi. Pectinia lactuca yang merekah,Lobophyllia hemprichii,Oxypora lacera, dan banyak jenis lainnya, dengan beragam ukuran dan warna. Kami pun seperti masuk ke sebuah akuarium dengan beragam ikan laut yang cantik.  Angelfish, ikan badut, Moorish Idol, dan masih banyak lagi. Dijamin anda akan dimanjakan dengan pesona bawah lautnya yang mengaggumkan.

 Komodo 679

Tapi sebaiknya anda membawa alat-alat senorkeling sendiri, karena di pantai pink tidak adaa penyewaan. Dan juga, bawalah makanan sendiri, karena pantai ini tidak ada pedagang apapun. Terdapat 42 dive site di dalam kawasan TN. Komodo yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara untuk menyelam dan snorkeling.

-info-

-membawa alat-alat snorkeling dan diving sendiri dari Labuan Bajo. (sewa alat snorkeling sekitar Rp30 ribu-Rp50 ribu)

-membawa perbekalan makanan dan minuman sendiri. (tidak ada pedagang berjualan di pantai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s