Menembus Kegelapan Goa Batu Cermin (NTT)

Nusa Tenggara Timur (NTT)

_September 2013_

Siap Menjelajahi Gua Batu Cermin, Desa Wae Sambi, Labuan Bajo, NTT

Siap Menjelajahi Gua Batu Cermin, Desa Wae Sambi, Labuan Bajo, NTT

Akhirnya saya menginjakkan kaki di ‘Tanah Manggarai’. Sebelum menyeberang ke Pulau Komodo di keesokan harinya, saya penasaran ingin mengeksplor daratan Labuan Bajo. Menurut penduduk setempat, “Goa Batu Cermin” bisa menjadi pilihan yang menarik. Letaknya pun cukup dekat, yakni di Desa Wae Sambi yang hanya sekitar 4 kilometer dari Pusat Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

berJalan kaki menuju mulut goa

berJalan kaki menuju mulut goa

Welcome To Batu Cermin, Mirror Stone Cave, tulisan besar ini menyambut saya dan rombongan lainnya sesampainya di pintu masuk lokasi wisata. Saya pun semakin penasaran seperti apa sih batu cermin itu?. Tapi untuk menjelajahinya, anda wajib didampingi para pemandu lokal agar tidak tersesat. Cukup merogoh kocek Rp10 ribu untuk tiket masuk dan tambahan Rp10 ribu/orang untuk jasa pemandu. Fatir, 25 dan Sipri, 19, rangers lokal Wae Sambi menemani saya dan beberapa rekan serombongan saya dari Jakarta. Ya, untuk menjelajah, memang dibatasi hanya sekitar 10-15 orang/rombongan. Demi keamanan dan kenyamanan, katanya.

Peralatan wajib : Helm goa dan Senter.

Peralatan wajib : Helm dan Senter.

Sebelumnya, masing-masing dari kami diberikan helm dan senter oleh Fatir. Helm gunanya untuk menghindari kepala dari stalaktit dan senter tentunya untuk membantu penglihatan kami saat didalam goa nanti. Kami pun lanjut berjalan sekitar 15 menit menuju Mulut Goa. Sesampainya kami di mulut gua, Sipri mengumpulkan kami, dan menjelaskan sejarah Goa Batu Cermin ini.

Berkumpul di Mulut Gua Batu Cermin

Berkumpul di Mulut Goa Batu Cermin

Jadi, di tahun 1951, seorang Pastor yang juga arkeolog bernama Theodore Verhoven menemukan goa ini. Kemudian, di tahun 1986 akhirnya dibuka untuk wisata umum hingga saat ini.  Sayangnya, lokasi wisata seluas 19 hektar ini belum banyak yang mengenalnya. Kebanyakan yang datang justru wisatawan mancanegara dari Eropa.

Sipri menceritakan sejarah gua.

Sipri menceritakan sejarah goa.

Komodo 065

Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Sipri, kami melanjutkan perjalanan. Sejenak kami menelusuri bebatuan, dan juga sebuah tangga yang baru dibangun beberapa tahun lalu, hingga akhirnya sampai di mulut Goa sungguhan.

Menapaki anak tangga memasuki bagian dalam goa.

Menapaki anak tangga memasuki bagian dalam goa.

Komodo 075

Komodo 077

Dari luar, saya melihat goa itu begitu gelap dan sempit. Kami semua menyalakan senter masing-masing, didampingi pemandu, satu persatu kami memasuki sela-sela goa yang super gelap itu.

Helm siap! senter siap! siappp menembus kegelapan Goa Batu Cermin!

Helm siap! senter siap! siappp menembus kegelapan Goa Batu Cermin!

Tantangan pun dimulai, diawal perjalanan kami harus menunduk sejauh dua meter, kemudian kembali menelusuri sela dinding-dinding gua, dan kembali harus jalan menunduk sejauh lima meter. Sesekali, “PRAKK!!” Bunyi helm membentur stalaktit diatas kami. “Untung pake helm! Ucap Diding, 29, salah satu pengunjung yang barusan terbentur stalaktit.

Semakin dalam, semakin menunduk, semakin merangkak :p

Semakin dalam, semakin menunduk, semakin merangkak :p

Semakin dalam,semakin menantang...Semangatt!!

Semakin dalam,semakin menantang…Semangatt!!

Beberapa menit berjalan, kami menelusuri lorong goa. Kemilau stalaktit yang cantik dan unik disuguhkan. Semakin menelusup kedalam gua, perjalanan semakin menantang.

Kemilau Stalakmit

Kemilau Stalakmit

Asik memotret di dinding dan langit goa.

Asik memotret di dinding dan langit goa.

Kegelapan terus menyelimuti kami, dan hanya cahaya senter kecil yang menjadi penerang kami. Kami pun harus jalan jongkok dan merangkak sesekali. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah ruangan goa yang cukup besar. Ruangan ini hanya setinggi 3 meter,sehingga kami bisa menyentuh dindingnya.

Fosil Penyu di langit goa.

Fosil Penyu di langit goa.

Fatir menunjukkan sebuah fosil penyu yang menempel di langit goa. “ribuan tahun lalu daratan dan gua ini berada di bawah permukaan laut,” katanya.

Semakin diperkuat dengan lubang-lubang yang memenuhi dinding langit ruangan gua yang tercipta akibat arus laut dan penemuan fosil ikan di dinding gua bagian luar yang juga kami temui.

Gelap total, hanya bermodal cahaya senter.

Gelap total, hanya bermodal cahaya senter.

Puas melihat fosil penyu, kami kembali melanjutkan perjalanan menelusuri goa. Menariknya, kami pun sempat menemui batuan bercahaya yang menempel didinding yang bentuknya seperti “Bunda Maria”.

Batu ini begitu bercahaya dibandingkan yang lain, dan kalau diperhatikan seksama, bentuknya seperti Bunda Maria.

Batu ini begitu bercahaya dibandingkan yang lain, dan kalau diperhatikan seksama, bentuknya seperti Bunda Maria.

Terus berlanjut, hingga akhirnya kami tiba di titik Batu Cermin. Jangan membayangkan ada batu seperti kaca cermin disini. Jadi kami ada di sela dinding gua, dimana bagian atas gua ada lubang kecil tempat cahaya masuk.

Lubang Di langit goa.

Lubang Di langit goa.

Jadi, jelas, Fatir, Batu Cermin merupakan fenomena yang terjadi di waktu tertentu. Sekitar pukul 9 pagi hingga 12 siang, cahaya akan masuk dari lubang dengan kemiringan tertentu, memantul kedalam direfleksikan oleh dinding gua sehingga akan terang benderang. Jika terjadi saat musim hujan, dan terdapat genangan air dibawah lantai gua, akan terpantul sempurna seperti cermin. Sayangnya, kami tak sempat melihat fernomena langka ini, karena memang langka terjadi.

Fosil ikan purba yang ditemukan di dinding Goa

Fosil ikan purba yang ditemukan di dinding Goa

Berkeliling bagian luar Goa. Kalau dilihat2 batu ini seperti weajah manusia.

Berkeliling bagian luar Goa. Kalau dilihat2 batu ini seperti wajah manusia.

Beringin tua yang menyelimuti bagian luar goa hingga akarnya menembus bagian dalam goa.

Beringin tua yang menyelimuti bagian luar goa hingga akarnya menembus bagian dalam goa.

Namun, kekecewaan kami cepat sirna, karena kami terus menemui pemandangan unik dan langka dalam perjalanan selama 30 menit ini. Medan penelusuran pun masih tergolong tidak terlalu ekstrem, sehingga anda bisa mengajak keluarga atau anak-anak kesini. Jika ingin sensasi yang lebih optimal,anda bisa meminta pemandu mengantarkan anda ke puncak goa. Disana, anda bisa melihat pemandangan Desa dan laut dari ketinggian. Tentu,ada tambahan ongkos untuk pemandunya.

Komodo 118

Ya, meskipun kami tidak bisa melihat perwujudan fenomena cermin tersebut, namun perjalanan menelusuri Gua ini, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

_info_

– tiket masuk: lokal Rp10 ribu/orang

mancanegara Rp20 ribu/orang

– biaya pemandu: Rp10 ribu/orang

-sebaiknya memakai sepatu kets.

buka: 7 pagi -5 sore.

2 thoughts on “Menembus Kegelapan Goa Batu Cermin (NTT)

  1. Pingback: Menembus Kegelapan Goa Batu Cermin (NTT) | siskanurifah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s