Memasuki Dunia Sang Jendral Candu (Thailand)

Khun Sa Old Camp

Khun Sa Old Camp

Febuari 2012

Udara  terasa begitu sejuk saat menyelusuri pegunungan Doi Me Salong disisi utara kota Chiang Rai, Thailand.  Perjalanan kami kali ini mengarah ke daerah bernama Ban Thoed Thai. Rimbunnya pepohonan, dengan medan jalan yang berkelok-kelok, menemani kami sepanjang perjalanan. Usai, dua jam berkendara dari Kota chiang Rai, sebuah bangunan tua berlapis bata merah pun tiba-tiba mengintip dibalik pepohonan. Suasananya nampak sepi, bisa dibilang minim sekali kendaraan yang melewati pegunungan ini.

 

Jendral Khun Sa

Jendral Khun Sa

Sebuah patung pria sedang menunggang kuda, lengkap dengan pistol dipinggangnya, nampak begitu gagah berdiri di seberang bangunan berbata tersebut. Dia adalah, Jendral Khun Sa, sang penguasa opium. Khun Sa menjadi tokoh yang paling berperan dalam menulis sejarah hitam Pegunungan utara Thailand, Ialah penguasa Segitiga Emas.

Singkat cerita, pada 1963, Khun Sa menguasai Doi Tung, wilayah pegunungan yang gersang dan kritis. Sang jenderal mengarahkan masyarakat untuk menanam opium. Ia juga memonopoli pembelian seluruh opium hasil panenan warga. Khun Sa kemudian turut mengatur jalur peredaran dan distribusi opium dari segitiga emas ke belahan dunia lain.

Selama bertahun-tahun upaya memerangi kekuasaan Khun Sa dan opiumnya terus dilancarkan. Mulai penangkapan, percobaan pembunuhan atas desakan United State Drug Enforcement Agency, hingga dakwaan penyelundupan opium internasional dilancarkan. Pengejaran terhadap Khun Sa membuat ketergantungan masyarakat Doi Tung pada opium pun berakhir. Namun, kondisi ekonomi mereka jadi berantakan. Khun Sa akhirnya menyerahkan diri kepada pemerintah Burma pada 1996. Dan  dibalik pegunungan Doi Mei Salong inilah maskas besar sang Jendral berada. Dan kini, masyarakat bisa dengan bebas memasuki Markas yang konon sulit ditembus karena selalu dikelilingi oleh 200 penjaga ini.

DSCN8619

DSCN8615

DSCN8616

“Khun Sa Old Camp”, Tulisan besar berwarna kuning tertoreh di dinding luar bangunan. Ya, bangunan di tengah hutan ini merupakan bekas markas besar Jendral Khun Sa. Disinilah, Sang Jendral Candu beristirahat, rapat mengatur strategi, dan melatih pasukan-pasukan miliknya. Tapi kini, eks markas ini berubah menjadi museum yang telah dibuka untuk umum. Museum ini sering didatangi oleh para pelancong lokal maupun mancanegara yang ingin mengetahui Sejarah Jendral Khun Sa. Terdapat beberapa ruangan yang berisi berbagai gambar-gambar besar, antara lain dokumentasi (foto-foto) masa-masa kejayaan Khun Sa.  Melihat gambar-gambar tersebut, anda akan terasa bagai tertarik merasakan kehidupan kelam di masa lampau tersebut.

Tapi, disini anda juga bisa belajar sejarah masyarakat asli pegunungan Doi Me Salong. Karena disini, terdapat pula, beberapa gambar yang menunjukkan  sejarah daratan Shan yang terkenal terdiri dari banyak suku (multietnik).
DSCN8642DSCN8648

 

Disisi bangunan lainnya, terdapat beberapa ruangan pribadi Jendral yang bisa anda intip. Salah-satunya ruang rapat Khun Sa, yang biasa digunakan Jendral mengatur strategi bersama panglima-panglimanya. Ruangannya tidak terlalu luas, hanya berukuran sekitar 3×4 meter. Didalamnya terdapat meja kayu lebar, dengan kursi panjang di tiga sisinya. Sementara, patung Khun Sa yang sedang duduk menjadi pusat dari ruangan tersebut.  Seolah-olah beliau sedang duduk memimpin rapat. Tidak ketinggalan, foto Khun sa yang sedang berkuda di tengah ruangan. Ya,  Jendral yang satu ini memang dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Hampir setiap hari dirinya terlihat berkuda patroli mengelilingi ladang-ladang opium di pegunungan tersebut.

 

DSCN8635

Ruang tidur jendral Khun Sa

Ruang tidur Jendral Khun Sa

DSCN8628

Ruang Rapat Jendral

Ruang Rapat Jendral

Jendral dan para Ajudannya :p

Jendral dan para Ajudannya :p

 

Kami pun mencoba lebih dalam memasuki dunia Jendral Khun Sa yang sebenarnya ini.  Usai puas mengintip bangunan markas, kami pun memutuskan untuk melanjutkan berjalan kaki menanjak sebuah bukit yang terletak di hadapan Museum. Tak sampai 5 menit menanjak, kami bertemu dengan sebuah Sumur tua. Dan ini bukan sembarang sumur, bukanlah sumur untuk menimba air seperti pada umumnya.

Buluk kuduk kami langsung berdiri saat tahu, lubang sumur tersebut adalah Penjara bagi anak buahnya yang melakukan kesalahan fatal dan membuat marah Jendral. Bagi mereka yang Terhukum, akan dipenjara didalam sumur tersebut dengan bagian atas ditutup rapat. Biasanya hukuman bisa mencapai waktu 3 hari, tanpa diberi makan sama sekali.

Sumur itu tidak dalam, yakni kurang dari1 meter saja. Dan hanya muat tiga orang saja dengan posisi duduk. Bayangkan, anda menerima hukuman kejam tersebut duduk didasar sumur, gelap tanpa penerangan, dingin menusuk, kelaparan. Antara hidup dan mati.

Menanjak bukit menuju Sumur Penjara

Menanjak bukit menuju Sumur Penjara

DSCN8676

Sumur Penjara

Sumur Penjara, diperuntukkan bagi anak buah yang melanggar aturan Jendral.

Lubang Sumur Penjara

Lubang Sumur Penjara

Pose

Me n Jendral khun Sa

Membeli Oleh-oleh

Anda juga bisa berbur oleh-oleh. Membeli beberapa CD yang berisi film dokumenter jendral

HALL OF OPIUM

DSCN8686

 

Perjalanan kami pun berlanjut menuju Hall of Opium yang letaknya tak jauh dari perbatasan The Golden Triangle. Hall of Opium ini merupakan museum yang berisi tentang sejarah opium dan dampak narkoba di dunia. Dijamin anda akan mendapatkan tambahan  wawasan yang luas soal opium di dunia.

menelusuri lorong gelap dan mencekam. Dinding yang melukiskan ekspresi kelam para pengguna narkoba.

menelusuri lorong gelap dan mencekam. Dinding yang melukiskan ekspresi kelam para pengguna narkoba.

Pengunjung akan diajaka menelusuri lorong gelap dan mencekam sepanjang 130 meter dengan dinding-dinding berbentuk guratan ekspresi kelam para pengguna narkoba. Sementara, di ruang berikutnya kita diajak menelusuri sejarah keberadaan opium di dunia, perang opium antar bangsa, lengkap dengan simulasi arsitektur masa silam, seperti kapal-kapal penyelundup opium dari India hingga ke Eropa dan China. Terdapat pula ruangan dengan foto-foto parakorban pengguna narkoba, dan video kesaksiannya. Bangunan luar biasa ini terbagi menjadi 16 ruangan di tiga lantai. Menelusurinya menjadikan pengalaman yang unik.  Dan dijamin, usai mengunjungi museum ini anda akan berpikir berkali-kali lipat, jika anda ingin menggunakan narkoba!

Ibu Suri Srinagarindra

Ibu Suri Srinagarindra

 

Info

– Biaya masuk museum sebesar 150 bath untuk lokal dan 200 bath (Rp60 ribu) untuk turis asing.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s