Swiss Pan Java

Juli 2012

Kota Garut yang dipotret dari Lereng Gunung Guntur

Kota Garut yang dipotret dari Lereng Gunung Guntur

Candi Cangkuang

Swiss Pan Java, inilah julukan yang diberikan pada Garut, Jawa Barat yang dikenal memiliki gunung-gunung yang menjulang. Tak kalah dari tetangganya Paris van Java (Bandung), beragam wisata alam menarik lahir dari daratan pegunungan ini. Salah-satunya Candi Cangkuang di daerah Leles. Objek wisata ini bisa anda tempuh dari Jakarta sekitar 4-5 jam berkendara. Kondisi jalan lingkar Nagreg menuju Garut pun sudah baik, membuat Candi peninggalan Hindu di abad ke-8 ini mudah dijangkau karena berada di jalur utama.

Sesampainya disana, nuansa ketenangan langsung jelas terasa. Danau (Situ) Cangkuang yang mengelilingi kawasan candi ditengahnya begitu tenang, rangkaian pegunungan mulai dari Gunung Guntur, Kaledong, Mandalawangi, dan Haruman terlihat dari kejauhan mengelilingi kawasan sejuk ini. Sementara itu, Rakit panjang mirip getek dari bambu berwarna-warni, berderet di pinggiran situ siap mengantar pengunjung menuju Pulau Panjang yang berada ditengah danau tempat Candi bernaung.

Suasananya begitu tenang, nyaman dan sejuk

Suasananya begitu tenang, nyaman dan sejuk

Pelan-pelan kami menyeberang, Tak sampai 5 menit, rakit berlabuh di Pulau Panjang. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki, terlebih dahulu kami memasuki Kampung Adat Pulo. Kawasan perkampungan adat ini terdiri dari enam buah rumah panggung kayu dan Satu bangunan mushola yang keseluruhan bernuansa putih. Yang merupakan simbol dari 6 putri dan 1 laki-laki yang merupakan anak dari Embah Dalem Arif Muhammad, Tokoh yang menyebarkan agama Islam di kawasan ini pada abad ke-17. Jumlah rumah adat ini tetap dari tahun ke tahun yang merupakan ketentuan adat disana, yang saat ini ditempati generasi ke 8,9,dan 10. Beberapa pengunjung terlihat asik mengabadikan foto mereka di kampung adat tersebut.

Candi Cangkuang

Candi Cangkuang

Setelah melewati kampung Pulo yang unik, kami lanjut menapaki anak-anak tangga menuju Candi Cangkuang. Bangunan candi bentuknya persegi dengan ukuran sekitar 5×5 meter dengan tinggi 2,5 meter. Tepat di samping Candi, terdapat Makam dari batu hitam tempat bersemayamnya Mbah Arif Muhammad. Sementara disekitarnya, terdapat beberapa nisan dari batu-batu yang merupakan makam dari pengikutnya. Cangkuang sendiri diambil dari nama pohon Cangkuang (sejenis pandan) yang pada zaman dahulu banyak tumbuh di kawasan ini.Siang itu, beberapa pengunjung terlihat menikmati kunjungannya di sekitaran Candi.

Makam Embah Dalem Arif Muhammad, samping Candi Cangkuang.


Makam Embah Dalem Arif Muhammad, samping Candi Cangkuang.

“Ini kali pertama saya dan keluarga kesini, suasana enak dan menenangkan,” ungkap Yai, 34 tahun, Ibu rumah tangga yang datang dari Bandung, Jawa Barat bersama keluarganya.

Dengan merogoh kocek Rp5000, anda dapat menyewa tikar yang bisa anda pakai untuk istirahat dan makan siang bersama keluarga di sekitar kawasan candi. Jangan lupa, pulangnya, anda bisa membeli beragam souvenir kerajinan tangan unik yang diperdagangkan para pedagang di sekitar kawasan.

-INFO-

Jam buka : 8 pagi-17.00 wib.

Tiket Masuk : Rp3000 (dewasa), Rp2000 (anak-anak)

tiket naik rakit (pp): Rp4 ribu (dewasa), Rp2 ribu (anak-anak), sewa satu rakit Rp80 ribu.

Menikmati Sore di Situ Bagendit

Sunset at Situ Bagendit, Garut

Sunset at Situ Bagendit, Garut

Tak jauh dari Candi Cangkuang, kita bergeser ke Situ Bagendit yang terletak di Desa Bagendit, Banyuresmi. Untuk menggapai lokasi ini, hanya butuh waktu 30 menit berkendara dari Candi cangkuang mengarah Garut Kota. Danau seluas 125 hektar membentang, tampak indah dengan latar gunung Guntur yang gagah dari kejauhan. Sementara, hamparan Eceng gondok, terlihat tumbuh subur di beberapa titik danau.

Disini, anda bisa menikmati bermain mengayuh perahu bebek-bebekan berkeliling danau atau menggunakan perahu rakit menuju warung sederhana yang terletak di tengah danau. Disini, anda bisa menikmati sajian makanan dan minuman hangat.

Dibalik keindahannya, danau ini pun, memiliki legenda tersendiri yang dipercaya dari generasi ke generasi. Zaman dahulu, ada seorang wanita bernama Nyai Bagendit yang kaya, namun kikir dan tamak. Ia didatangi pengemis tua namun dengan kasar Nyai mengusirnya. Esok harinya, terdapat sebuah lidi yang tertancap di tanah tersebut, yang tidak mampu dicabut oleh warga. Pengemis tua pun datang dan mencabut lidi yang kemudia keluarlah pancuran air terus menerus yang kini menjadi danau. Warga mengungsi dan selamat, namun Nyai Bagendit enggan meninggalkan rumah dan hartanya yang akhirnya mati tenggelam. Pelajaran untuk tidak kikir didapat dari legenda situ ini.

Penyimpanan Senjata Ppeninggalan Kolonial Belanda di tahun 1919

Penyimpanan Senjata Ppeninggalan Kolonial Belanda di tahun 1919

Selain itu, dulunya lokasi ini juga merupakan tempat penyimpanan senjata Tempo Doeloe peninggalan kolonial Belanda di tahun 1919. makasnya, disini masih terlihat beberapa lubang dan bangunan kecil penyimpanan belanda. Tak ketinggalan bekas rel kereta peninggalan Belanda. bekas rel ini pun dimanfaatkan untuk arena permainan kereta, dimana pengunjung bisa menaikinya dan berkeliling di sekitar Danau.

Anda bisa menikmati indahnya matahari yang tenggelam berlatar Gunung Guntur di situ yang menenangkan ini, sambil menyeruput minuman hangat yang dijual warung-warung disekitar bibir danau.

-INFO-

Jam buka: pukul 8.00-17.00 wib

Tiket masuk : Rp3000 (dewasa) , Rp2000 (anak-anak).

Sewa bebek-bebekan : Rp15 ribu/30 menit

Gunung Guntur Yang Gagah

Curug Citiis di Punggung Gunung Guntur,Garut

Curug Citiis di Punggung Gunung Guntur,Garut

Tak afdol rasanya jika ke Garut, tanpa berkunjung ke Cipanas. Wisata pemandian air panas menjamur di kawasan berhawa dingin ini. Tapi, bagi para pecinta alam bisa melakukan sedikit pelarian dari keramaian Cipanas dengan mengunjungi air terjun Curug Citiis dipunggung Gunung Guntur. Ya, gunung yang begitu gagah merupakan Salah-satu gunung Terbesar di daratan Garut.

Dari Cipanas bisa dijangkau dengan berkendara 30 menit menuju desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong. Ditengah perjalanan anda juga bisa menyaksikan sisa-sisa reruntuhan bangunan pabrik minyak kayu putih milik Belanda yang beridir sejak tahun 1800an yang terletak diantara kawasan penambang pasir di kaki gunung.

Usai memarkirkan kendaraan di kantor RW setempat, kita masih harus harus menanjak menelusuri jalan setapak ditengah hutan. Ditemani, Amin, 50 tahun, pemandu lokal, kami menelusuri hutan dengan waktu 20 menit pendakian sejauh 500 meter, menelusuri aliran sungai kecil.

Rasa lelah mendaki gunung pun terbayarkan dengan dengan keindahan curug Citiis yang alami. Curug Citiis terdiri dari tiga buah air terjun, yang pertama ditemui curug setinggi 4 meter, dengan kolam air terjun tidak begitu lebar dengan kedalaman hanya selutut. Naik lagi keatas sekitar 20 menit, terdapat curug kedua dengan ketinggian 6 meter. Sementara terdapat satu lagi curug dengan ketinggian lebih dari 15 meter yang terletak diantara kedua curug lainnya itu, hanya agak sulit dijangkau. Sesuai dengan namanya Citiis yang dalam bahasa Sunda berarti air yang dingin, aliran air disini begitu dingin sejuk dan alami dan bisa diminum. Padahal, didalam bumi Gunung Guntur menjadi sumber air panas untuk wilayah keseluruhan Cipanas.

Menikmati keindahan Kota Garut dari punggung Gunung Guntur

Menikmati keindahan Kota Garut dari punggung Gunung Guntur

Tak hanya masyarakat lokal, pengunjung mancanegara seperti dari Paris, Jerman, Belanda, dan lainnya sering mengunjungi curug ini. Dari sini, kita bisa menikmati Kota Garut dari ketinggian sekaligus memandangi pengunungan Cikurai dan Papandayan dari kejauhan.

Medannya cukup menantang

Medannya cukup menantang

Wisata ini lebih cocok untuk para pecinta alam dan tidak direkomendasikan bagi mereka yang membawa anak dibawah umur, karena medannya agak sedikit menanjak dan melewati hutan dan semak. Dijamin memberikan pengalaman mendaki yang tidak terlupakan.

-INFO-

– Jika mengunjungi Curug Citiis sebaiknya ditemani pemandu setempat agar tidak tersesat. Sebaiknya disarankan berkunjung saat pagi hingga sore hari.

– Dan jika ingin berwisata di sekitar Cipanas, harus pintar-pintar memilih penginapan yang menjamur. Pilihlah penginapan yang memiliki kolam rendam air panas di dalam kamar, beberapa cukup terjangkau asal rajin berkeliling.

– Jangan lupa membawa jaket dan selimut ekstra karena kawasan Cipanas dan Gunung Guntur cukup dingin terutama di malam hari.

Mulih k’ Desa_Makan dan Tidur Di Pematang Sawah

Nah jika anda dan keluarga, ingin merasakan sensasi pulang kampung halaman, jangan lupa mampir ke kawasan wisata Mulih K’Desa, yang terletak di Jalan raya Samarang-Kamojang, sekitar 11 km dari Cipanas.

Sesuai dengan namanya, Mulih k’ desa yang berarti pulang ke desa, kawasan yang dibuka sejak tahun 2005 ini memang menawarkan pengalaman pedesaan yang menarik. Nuansa pedesaan begitu kental terasa. Pematang sawah menghiasi hampir keseluruhan kawasan seluas 2 hektar ini. Disini anda dan keluarga bisa menikmati wisata bernuansa pedesaan, mulai dari bermain engrang, main bakiak, menanam padi di pematang sawah, memandikan kerbau, menangkap ikan di balong. Terdapat pula arena gebuk bantal diatas kubangan, balap karung, Lintas Bambu memberikan keseruan berwisata. Ada juga Flying fox, kolam pancing bisa memancing ikan mas dan ikan nila yang nantinya juga bisa langsung dimasak di dapur.

Terdapat, 25 saung dari bambu beratap jerami siap menjadi tempat anda bersantap, ada yang terletak di atas kolam berisi teratai dan ikan koi dan mas yang asik berenang, ada pula yang diletakkan diatas lahan pematang sawah yang mampu memberikan sensasi bersantap yang berbeda. Anda pun bisa menikmati beragam sajian kuliner unik khas pedesaan seperti Tumis kadedemes yang berasal dari kulit singkong, tumis genjer, tumis Kiciwis (tunas kol), pecok Lenca, ayam kampung goreng ditemani nasi liwet dan teh khas kampung. Tersedia beberapa paket murah meriah yang bisa dinikmatyi keluarga. Semua dimasak dengan menggunakan kayu bakar, sehingga memberikan aroma masakan yang khas dan disajikan diatas piring dan gelas kaleng khas tempo dulu. Dapur tradisional (pawon) pun terbuka yang bisa anda dikunjungi bagi mereka yang penasaran dengan nuansa dapur tradisional dengan tungku-tungku jadul.

Anda juga bisa menginap di penginapan Gubug Sawah yang disediakan disini, tentu saja dengan nuansa pedesaan seba kayu dan bambu dengan pemandangan pematang sawah. Dengan kamar yang dinamain dengan istilah khas bertani, seperti babakan Nyaplak (meratakan tanah sebelum menanam), Ngawaluku (menggaris tanah), Namingan (membersihkan tanah dari rumput) dan lainnya, yang tentu memberikan wawasan tersendiri dalam mengenal istilah pedesaan.

-INFO-

– jam buka: wisata&kuliner pukul 9 pagi-20.00 malam, Penginapan 24 jam.

– Masuk gratis, permainan semua gratis, kecuali flying fox Rp15 ribu seklai luncur.

– Kolam pancing Rp40 ribu perkilogram.

– Jika ingin menginap lebih baik reservasi terlebih dahulu

– Terdapat 25 Gubug Sawah (penginapan), dengan beragam ukuran mulai dari harga Rp350 ribu-Rp850 ribu (permalam).

– paket outbond min.25 org: Rp125 ribu/orang (beragam permainan tarik tambang, tanam padi, bajak sawah, tangkap ikan, dll termasuk makan siang dan snack)

Sauna Alami Di Kamojang

Abah juru kunci Kawah Kereta Api mulai beraksi menghibur pengunjung. _Kawah Kamojang_.

Abah juru kunci Kawah Kereta Api mulai beraksi menghibur pengunjung. _Kawah Kamojang_.

Uap panas keluar perlahan dari balik tumpukan batu-batuan tersusun. terlihat Abah Koko, 66 tahun, sang pawang Kawah Kamojang membacakan sebuah doa sambil tangannya menunjuk kearah uap, seketika uap panas yang keluar dari perut bumi tersebut mampu berubah suhu menjadi panas dan hangat, tak ketinggalan uap yang menyerupai awan putih tebal tersebut mampu dikendalikan arahnya bagai menurut kehendak sang pawang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung disekelilingnya. Ya, sensasi tersebut hanya bisa anda temui saat anda berkunjung ke Kawah Kamojang. Salah-satu destinasi andalan Garut ini bisa anda tempuh 1 jam dari Cipanas Garut ke arah kamojang.

Sauna alami ala Kawah Kamojang, angettt, suegerrr.... disini ada abah Koko, juru kunci yang bisa mengendalikan arah uap dan mengatur suhu sumber uap...beuhh

Sauna alami ala Kawah Kamojang, angettt, suegerrr…. disini ada abah Koko, juru kunci yang bisa mengendalikan arah uap dan mengatur suhu sumber uap…beuhh

Terdapat beragam kawah di kawasan yang terletak di ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut di punggung Gunung Guntur ini. Namun salah-satu yang populer adalah kawah hujan. Disini, anda bisa puas menikmati sensasi sauna alami yang menyehatkan.

Seolah foto diantara kepulan awan

Seolah foto diantara kepulan awan

Anda bisa duduk di sekitar sumber uap panas, sesekali uap panas keluar menyelimuti anda. Uap hangat bersuhu 15-20 derajat celcius ini dipercaya mampu menyehatkan tubuh, menyembuhkan beragam penyakit seperti penyakit kulit, asma, jantung, paru-paru, dan lain-lain. Bau belerang pun tidak terlalu menyengat sehingga anda bisa aman untuk berlama-lama menikmati uap atau sekedar berfoto bersama di sekitar kawah dan sumber uap yang membumbung bagai awan tebal. Terdapat pula Sumber uap lain yang disebut Tusuk Jarum, dimana, uap dan cipratan air panas keluar terus menerus mirip rintikan hujan, dan jika anda berdiri didekatnya terasa punggung ditusuk-tusuk jarum, menjadi terapi pijat sehat.

“Saya senang bermandi uap disini, badan jadi segar, belum lagi atraksi dari pawang yang mempu mengendalikan uap begitu menarik,’ ungkap Iqbal, 52 tahun, yang datang bersama istri dan anak-anaknya dari Jakarta.

Uap panas bumi dgn tekanan besar, mengalir diantara pipa bambu, menghasilkan bunyi yang melengking, mirip kereta api uap.

Uap panas bumi dgn tekanan besar, mengalir diantara pipa bambu, menghasilkan bunyi yang melengking, mirip kereta api uap.

Tak ketinggalan, uap Kereta api, yakni lubang uap yang menyembur dengan kekuatan tinggi. Disini, anda bisa melihat atraksi menghibur dari pawang setempat yang mampu mengeluarkan bunyi kereta api dengan media sebuah bambu panjang, atau mengajak pengunjung melakukan atraksi melempar botol kosong ke arah sumber uap yang mampu terlempar tinggi ke langit dan memberikan hiburan tersendiri.

-INFO-

– Tiket masuk Kawah Kamojang: Rp3000 perorang.

 

One thought on “Swiss Pan Java

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s