Dieng, Negeri Diatas Awan

Menikmati Keindahan Telaga Warna Dari Ketinggian

Juni 2012

Telaga Warna di Dieng

Dataran tinggi Dieng (Dieng plateau), begitu nan subur. Pertanian, perkebunan, tumbuh subur di Desa tertinggi di Jawa Tengah ini. Udara bersih dan suasana yang sejuk. Desa yang tenang dengan masyarakatnya yang ramah. Wajar saja, banyak banyak yang menjuluki Dieng sebagai Negeri Diatas Awan.

Ya, kami pun menutup perjalanan Travelista Jawa Tengah ini dengan menelusuri kekayaan alam dn Budaya di dataran tinggi Dieng plateau. Pegunungan yang berada 2000 meter dpl ini terletak 55 kilometer dari Banjarnegara. Dataran tinggi ini menyimpan  banyak kekayaan alam dan budaya yang menarik.

Pagi ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Telaga Warna yang tersohor akan keindahan warna danaunya. Jika banyak pengunjung biasanya menikmati keindahan langsung dari bibir danau. namun, Sugeng, 43 tahun, warga asli dieng yang menjadi pemandu kami kali ini menyarankan untuk mencoba menikmati Telaga warna dari ketinggian.

“Telaga warna akan lebih indah dinikmati dari ketinggian, ketimbang dari pinggir danau. Keindahan warna dari akan lebih jelas terlihat. Lebih baik pagi-pagi karena langit masigh cerah dan kabut belum turun,” ungkap Sugeng.

Penasaran, dtemani Sugeng kami mengarahkan kendaraan menuju Dieng Plateau Theater di dataran atas Telaga warna. Disini, pengunjung akan menampilkan pertunjukan berupa pemutaran film dokumenter yang berisi gambaran pembentukan kawah di Dieng Plateau, kehidupan masyarakat, dan lainnya.

Usai 15 menit berkendara, Kami tiba di Dieng Plateau theater dan meneruskan perjalanan lewat jalan setapak yang berada tepat dibelakang Gedung. Jalan mudah untuk dilalui, dengan pendakian yang mudah, namun terdapat beberapa percabangan, sehingga disarankan untuk ditemani pemandu agar tidak tersasar.

Usai berjalan kaki sepanjang 200 meter, sampailah di titik bukit. Dan benar apa kata Sugeng, Kami berada tepat diatas telaga warna. Pemandangan menakjubkan terpampang. Sungguh, spot Terbaik untuk menikmati panorama sekaligus mengambil gambar bagi para pecinta fotography.

Keindahan Telaga Warna sekaligus kembarannya Telaga Pengilon yang letaknya berdampingan begitu jelas terlihat. Kedua telaga kembar itu begitu indah, denganw warna danau yang berbeda, ditambah hijaunya pepohonan dan indahnya bunga-bunga yang berada disekitarnya. Didukung dengan langit pagi yang begitu cerah. Telaga Warna memiliki kandungan belerang sehingga warnanya terlihat biru muda agak keputihan-putihan, sementara pengilon yang tidak memiliki kandungan belerang berwarna hijau tua dan jernih.

Telaga ini pun menyimpan legenda tersendiri dengan banyak versi. salah-satunya, Telaga dipercaya masyarakat terbentuk dari tangis Ratu Purbamanah (istri Prabu Suwartalaya raja salah-satu kerajaan Jawa zaman dahulu), yang sedih melihat putrinya Gilang Rukmini yang menolak hadiah kalung cantik darinya. Setelah tangis Ratu pecah, seketika air deras keluar dari tanah dan menenggelamkan istana. Keindahan warna yang keluar dari Telaga Warna dipercaya beraal dari kalung pemberian Ratu yang berada di dasar telaga.

Kawah Sikidang yang Misterius

Kawah Sikidang

Puas menikmati Telaga dari ketinggian, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang yang ter;etak 1 kilometer dari Telaga Warna . Titik-titik wisata di kawasan Dieng, letaknya berdekatan sehingga mudah untuk dijangkau. Pagi itu, terlihat banyak pengunjung sudah berdatangan di sekitar kawah. Kebanyakan dari mereka justru merupakan turis mancanegara, terutama Eropa.

Dataran tanah mengandung belerang di sekitar kawah berwarna cokelat keputihan, begitu kontras dengan pegunungan hijau yang menyelimutinya. Gumpalan uap panas keluar dari lubang kawah penuh lumpur berwarna abu-abu itu. Lumpur abu-abu terlihat bergejolak dan medidih yang konon bersuhu 98 derajat.

Sementara, pagar pengaman dari bambu dibuat mengelilingi lubang membatasi pengunjung yang ingin melihat dasar kawah. Anda pun jangan sembarangan membuang rokok, atau menyalakan api disekitar kawah ini. Lubang kawah sendiri bisa berubah-rubah. Dimana, saat musim hujan diameter bisa melebar, sementara saat musim kemarau mengecil.

Tetap diluar pagar dan hati-hati aroma belerangnya,,

Bau belerang begitu tercium, namun masih dalam tingkat aman. Asalkan anda tidak berlama-lama disekitar kawah. Uap yang mengandung belerang ini dipercaya berkhasiat untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan jerawat. Dengan merogoh kocek Rp40 ribu, anda bisa menaiki kuda berkeliling kawasan kawah. Atau asik berkeliling dengan sepeda yang bisa disewa Rp10 ribu. sementara didekat pintu gerbang, beberapa kios pedagang siap menawarkan sayuran segar dan kuliner. Jangan lupa membeli bambu Gondani, yakni oleh-oleh khas Dieng berupa bambu ramping dengan ruas rapat yang dikenal begitu kuat. Bambu ini dikenal langka karena mencarinya harus di hutan-hutan terdalam, sangat bagus untuk alat pancing, maupun sekedar oleh-oleh unik.

Kedamaian Candi Arjuna

Candi Arjuna, Dieng

Sebagai penutup perjalanan kali ini, kami singgah di komplek Candi Arjuna. Kedamaian begitu terpancar saat memasuki Candi yang menjadi umat Hindu ini. Candi yang berdiri sejak abad ke-8 ini, nampak begitu kokoh, berselimut kabut pagi yang sudah mulai turun dari pegunungan yang berada didekatnya. Candi Arjuna sendiri memiliki luas 6 meter persegi. Dengan atap candi membentuk kubus bersusun, semakin ke atas semakin mengecil. Didalam Candi arjuna terdapat Yoni berbentuk meja bagian tengah berlubang menampung tetesan air dari langit atap candi.

Selain Candi Arjuna, disekelilingnya terdapat Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa. Candi Semar letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Atap candi semar berbentuk limasan. Sementara, candi Sembadra berbentuk dasar bujur sangkar, dengan atap berbentuk kubus. Dan Candi Srikandi berberbentuk dasar kubus. Cand-candi ini terbuat dari bahan dasar batu kali (andesit). Beberapa reruntuhan Candi lainnya pun bertebaran di kawaan sekitar candi.

Di Candi Semar sendiri, ada kepercayaan yang dipegang masyarakat setempat. Salah-satunya, jika anda mengadahkan tangan di sebuah batu ditengah bagian dalam candi dan air dari dingding bagian atas menetes ke tangah anda, maka air tersebut dipercaya merupakan air anugerahan. Dimana jika anda terkena tetesan konon akan bernasib baik, namun hal tersebut jarang terjadi.

Hanya berselang beberapa menit, kabut mulai turun dan menyelimuti Candi

Pengunjung terlihat asik berfoto didepan candi. Beberapa berkeliling menikmati arsitektur candi. Ada pula yang duduk-duduk santai mendengarkan alunan musik dari rombongan pengamen lokal yang menyanyikan lagu-lagu lawas.

Nah, bagi pecinta fotography, yang ingin menangkap sisi lain Candi arjuna. Anda juga bisa menangkap keindahan panorama Candi Arjuna bertabur bintang. Namun sebaiknya, anda ditemani pemandu . jangan lupa membawa jaket tebal, karena malam hari Dieng begitu dingin. Selain Candi Arjuna, Anda juga bisa mengunjungi Candi Bima yang juga berada di dalam kawasan Dieng.

-Info-

– Jam buka : 8 pagi – 5 sore
– Tiket masuk : Rp 6000 (Telaga warna), Rp10 ribu (candi arjuna dan Kawah Sikidang).
– Sebaiknya datang ke loaksi wisata saat pagi hari (sebelum jam 10 pagi), langit masih cerah dan kabut belum turun. Terutama bagi mereka yang ingin memotret.
– Jika ingin menikmati Telaga warna dari ketinggian, anda bisa meminta bantuan pemandu lokal dan sewa motor sekitar Rp50 ribu seharian.
– Disini juga tersedia Homestay (penginapan) terjangkau dengan harga Rp100 ribu-Rp250 ribu permalam.
– Jika menginap bawalah Jaket, selimut, kaos kaki ekstra karena udara di malam hari sangat dingin hingga 10 derajat celcius.
– Jika anda ingin merasakan sensasi turun salju, datanglah di sekitar bulan Juli-Agustus.
– terdapat banyak pemandu lokal yang siap mengantar anda berkeliling.

10 thoughts on “Dieng, Negeri Diatas Awan

  1. Rencana libur lebaran ini,saya sekeluarga pengin main ke sana,btw musim apakah kira” bln agustus nanti di dieng yak?nice sharing sis

    • nah,kalo dateng di bulan Juli dan Agustus (kemarau), biasanya suhu disana lagi dingin-dinginnya banget. bahkan bisa sampai 0 derajat celcius. kudu siapin baju berlapis. waktu itu saja aku dateng di bulan juni, menjelang juli. suhu sudah cukup dingin. dinginnya bahkan bisa menembus selimut. Tapi disaat malam saja. Keliling Dieng seru loh, terutama menikmati telaga warna dari ketinggian, cobalah…^_^

  2. Mohon info , untuk menuju bukit dibalik gedung dieng teather katanya ada jalan bercabang , nah klo mau sampe ke bukit tanpa nyasar ambil jalan sebelah mana saat berada di cabang jalan tesebut?soalnya saya mau bawa teman2 saya sekitar 25orang , dan sepertinya menikmati telaga warna dari ketinggian jauh lebih indah
    Makasih atas infonya

    Salam jalan2🙂

    • waduh saya sudah lama kesana, dan rada lupa jalurnya. Tapi saat itu, saya memilih untuk didampingi pemandu. Sebaiknya rombongan didampingi pemandu setempat. Saat itu, pemandu saya yakni salah-satu tukang ojek di sekitar dieng. Banyak dari tukang ojek disana hafal jalan menuju bukit dibalik gedung dieng teather kok, dan mereka sudah sering memandu wisatawan, jadi bisa diminta bantuannya. Mereka bahkan bersedia mengantar pengunjung terutama para fotografer yang ingin mengambil gambar malam hari di candi Arjuna. Bahkan tengah malam sekalipun. Paling anda mengeluarkan sedikit ‘uang rokok’.Tapi dinegosiasikan terlebih dahulu,tawar menawar sebelum memakai jasanya. semoga info ini bisa membantu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s