Mengintip Pura Mangkunegaran (Solo)

 Mengintip Pura Mangkunegaran

_Solo, Juni 2012_

Pura Mangkunegaran

Puas berburu barang antik, kami pun singgah ke Keraton (Pura) Mangkunegaran yang jaraknya berdekatan dengan Pasar Triwindu (cuma 3 menit berkendara). Ya, Solo memang dikenal memiliki dua keraton, yakni Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta. Pura Mangkunegaran sendiri dibangun oleh Raden Mas Said tahun 1757.

Setibanya di Keraton, kami pun langsung menuju pendopo utama. Pari anom (padi muda), menjadi warna khas dihampir seluruh bangunan yang ada di komplek Pura ini. Terdapat motif batik modang (api menyala) pada lambang Pura yang berarti semangat yg tidak pernah pudar. Dan lambang Suryo sumirat (sinar matahari) menyinari seluruh rakyat, jadi pemimpin harus bisa mengayomi.

Tarian Panji Sekar Taji

Kami beruntung, saat berkunjung pagi itu, kebetulan bertepatan dengan hari latihan para penari Pura. Terlihat di pendopo utama, sejumlah penari lengkap dengan topengnya begitu gemulai membawakan tarian Panji Sekar Taji yang diambil dari cerita sebuah wayang. Sementara, sejumlah pengunjung yang kebanyakan turis asing duduk menyaksikan dengan hikmat. Beberapa, ada pula yang asik memotret para penari.

Tarian Panji Sekar Taji dimainkan oleh para penari dengan begitu gemulainya, kami pun dibuat larut menyaksikannya. Tarian menceritakan wayang Beber, yakni Kisah Cinta Panji Asmoro Bangun yang merajut cintanya dengan Dewi Sekartaji Putri Jenggolo. Diiringi alunan musik gamelan Kyai Kanyut Mesem yang dimainkan dengan lihai oleh para abdi dalem. Tak ketinggalan, para Sindhen dengan lembut melantunkan nyanyian Jawa.

Saking hafal diluar kepala, bapak2 ini bahkan bisa mendendangkan gamelan2 ini sambil tidur…

Puas menyaksikan tarian, kami pun lanjut dengan menyelusuri kawasan keraton. Dimulai dnegan bangunan utama keraton, disini terdapat Krobongan sebuah tempat tidur singgasana penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Padi). Terdapat beberapa lemari kaca yang menampilkan koleksi kerajaan seperti perhiasan emas para putri raja zaman dulu, medali kehormatan, koin-koin lama, pedang-pedang dan keris pusaka, hingga alat makan dan mainan anak dari emas hadiah Ratu Yuliana dari Belanda. Melihat koleksi bernilai sejarah tinggi ini, seolah menarik kami ke kejayaan kerajaan masa lampau.

Patung Singa di Depan Pura

Bingkai-bingkai foto anggota keluarga kerajaan juga bisa anda temui saat memasuki kawasan keputren (Putri). Anda juga bisa melihat enam koleksi kereta kuda keraton, termasuk kereta kencana Kyai CondroRetno buatan tahun 1850. Kereta buatan Inggris ini begitu cantik dengan dominasi warna hijau tua dengan ukiran-ukiran berwarna emas, biasa digunakan untuk upacara adat, atau pernikahan kerajaan.

Kyai Condroretno , umurnya sudah ratusan tahun

Adapula beberapa pohon langka yang menghiasi kawasan Pura, seperti pohon Sempoko Mulyo (hidup mulia dan tentram) yang bunganya berbau pisang. Beberapa anggota keluarga keraton masih tinggal disini, jadi sebagian wilayah keraton tidak bisa dikunjungi sembarang oleh pengunjung umum.

-Info-

1. Pura Mangkunegaran dibuka untuk umum setiap hari jam 09.00-14.00, Jumat jam 09.00-12.00, Minggu jam 09.00-14.00.

2. Latihan tari setiap Rabu dan Sabtu 10-12 siang. Sebaiknya datang sebelum pukul 12 siang. Supaya anda bisa ikut menyaksikannya.

3. Patuhi dan hormati peraturan keraton yang ditetapkan.  Termasuk Tidak mengambil foto di ruangan, dan melepas alas kaki saat berkeliling bangunan.

4. Jika ingin berkeliling keraton, sebaiknya ditemani pemandu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s