Menelusuri The Little Netherland, Semarang

Juni 2012

Menelusuri Little Netherland, Semarang

Bangunan-bangunan tua terlihat begitu kontras ditengah kemegahan gedung pencakar langit yang moderen. Menginjakkan kaki di Kota Lama, Semarang, bagai tertarik kembali ke masa lampau dan menyelusuri setiap jengkal sisa-sisa tempo dulu.

Ya, Semarang, kota yang dikenal menyerap beragam budaya di masa lampau. Mulai dari budaya Thionghoa hingga Eropa.Semua jejak perkawinan dan pengaruh budaya tersebut tersirat jelas saat anda menjejakkan kaki anda di Kawasan Kota Lama. Outstadt atau Little Netherland, inilah julukan yang diberikan Kota Lama Semarang. Bangunan yang berada di kawasan yang hanya ditempuh 15 menit dari Lawang Sewu ini dahulu merupakan pusat perdagangan jaman kolonial Belanda di abad ke 18 ini memang sarat akan sentuhan arsitektur Eropa.

Bangunan Art Deco khas Eropa, dengan sentuhan indis menghiasi beragam bangunan disini. Mirip seperti kota di Eropa serta benteng besar dan kanal yang mengelilinginya menjadikan Kota Lama seperti miniatur Belanda di Semarang. Terdapat beberapa jalan-jalan penghubung di dalam benteng dengan jalan utama bernama de Herenstaart yang sekarang berubah menjadi Jalan Letjend Suprapto. Atmosfernya mampu membuat anda seolah tak berada di Indonesia, melainkan di sebuah kota di Eropa. Salah-satu bangunan yang menjadi ikon disini adalah GPIB Immanuel atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk. Gereja ini dibangun tahun 1753, yakni 250 tahun dilam. Disebut demikian karena kubahnya yang membelenduk, sehingga masyarakat biasany menyebutnya demikian.

Orgel Tua Gereja Blenduk

Gereja Blenduk hanya satu dari ratusan bangunan lama yang mampu bertahan dari zaman ke zaman. Tak hanya bangunan, semua isi Gereja masih dipertahankan. Mulai dari alat musik gereja yang sudah ada sejak gereja berdiri, yakni Orgel antik berwarna silver dengan ornamen patung malaikat meniup terompet, lonceng gereja yang dibuat tahun 1703, kaca jendela mozaik dengan desain ornamen kuno, hingga kursi-kursi jemaat berwarna hitam dari kayu jati berpadu anyaman rotan yang masih sama sejak dulu. Sementara di sisi dinding terdapat 82 nama Pendeta yang pernah memimpin gereja sejak tahun 1753 Hingga saat ini, yang kebanyakan berasal dari Belanda.

Nuansa ketenangan dan kedamaian begitu terpancar dari Gereja yang sempat dijadikan lokasi shooting film “?” (tanda tanya) garapan Hanung Bramantyo. Karena desain yang unik, jika dilihat dari satelit bangunan tua ini berbentuk Salib, sementara jika dilihat dari bawah tidak begitu jelas. Sayangnya, beberapa bangunan juga terlihat yang mulai hancur karena tak berpenghuni.

Jika ingin lebih puas mengeksplorasi Kota Lama, anda bisa menyewa becak yang mangkal di sekitar Kota Lama. Seperti yang dilakukan Janet, 50 tahun, seorang Turis asal Filipina yang siang itu terlihat bersama seorang temannya hendak menyewa becak berkeliling.

“Ini sudah tiga kalinya saya ke Semarang dan mengunjungi Kota lama. Saya senang dengan desain bangunan-bangunan tua disini, saya suka memotretnya sebagai koleksi pribadi saya,” ungkap Janet yang rencananya akan berkeliling Kota Tua, termasuk juga mengunjungi Bangunan Lawang Sewu.

Perjalanan menyelusuri Kota Lama tak sampai disana saja. Seorang tukang becak yang mangkal di depan gereja pun menyarankan kami tuk menengok gang Pasar Ayam yang letaknya tak jauh dari gereja tua ini. Penasaran, Kami pun meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke lokasi yang berada sekitar 200 meter dari Gereja.

Pemandangan unik terpajang, diantara tembok bangunan tua berhiaskan pohon rambat, dibawahnya terpajang deretan Sangkar ayam. Kokok ayam jago pun sahut menyahut. Di gang pasar ayam ini, menjadi salah-satu pusat perdagangan ayam kampung populer di Semarang. Aneka Ayam jago dengan bulu-bulu indah dan lengkingan kokok yang nyaring disini dibandrol dengan harga Rp150 ribu hingga Rp250 ribu perekor. Anda juga bisa melihat atraksi ayam jago yang diadu di pasar ayam yang hadir setiap hari ini.

-Info-

Jam buka Gereja: 9-4 sore
Tiket masuk: 10 ribu perorang
Sewa becak : Rp15ribu-Rp30 ribu (perjam) dengan rute Kota lama-Stasiun Tawang-Lawang Sewu

Pagoda Tertinggi Di Indonesia

Pagoda Buddhagaya Watugong

Beres berkeliling Kota lama, kami pun merapat ke daerah Watu Gong (mengarah ke ungaran). Usai 45 menit berkendara, Kami pun sampai Pagoda Avalokitesvara di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang. Pagoda berwarna merah ini begitu unik karena dibangun tujuh tingkat dan memiliki tinggi 45 meter. Saking tingginya, dari kejauhan pun Pagoda ini sudah nampak gagah terlihat, menarik siapa saja penasaran untuk menghampiri.

Pagoda yang ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia ini memiliki memiliki banyak keistimewaan. Keseluruhan aksesoris pagoda mulai dari relief tangga dari batu (9 naga), kolam naga, lampu naga, air mancur naga, semua diimpor dari China. Selain itu, pagoda itu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap tingkat memiliki empat buah patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru. Sementara, di dekat Pagoda juga terdapat patung besar Budha tidur.

Siang itu, beberapa pengunjung terlihat beribadah. Ada pula yang sekedar berjalan-jalan di sekitar Pagoda, duduk santai, dan mengambil foto bersama Pagoda yang menawan tersebut. Tak hanya didatangi oleh penganut Budha, penganut agama lain pun bisa mendatangi lokasi ini. Salah-satunya, agung, 41 tahun, yang datang bersama istri dan anaknya. Meski beragama islam, namun Keunikan arsitektur pagoda yang cantik dan nuansa ketenangan membuat pengusaha asal Semarang ini mampir sejenak.

“Disini suasananya tenang dan nyaman. Pagodanya juga menarik dna bisa bersantai sedikit disekitarnya,” ungkap Agung yang terlihat asik berfoot bersama keluarganya.


Bagi yang ingin memohon Jodoh, bisa berdoa di sebuah Patung dewi yang membawa bunga dan teratai. Ada pula Patung Dewi yang membawa anak laki-laki atau perempuan, yang digunakan untuk berdoa memohon anak. Terakhir, patung Dewi Kwan Im digunakan pengunjung untuk memohon panjang umur. Keindahan dan atmosfer kedamaian pasti membuat siapa saja yang datang akan betah dan enggan beranjak.

Mengintip Lokomotif Tua

Salah-satu lokomotif Tertua di Indonesia

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah Ambarawa. Tak sabar rasanya tuk mengunjungi salah-satu stasiun Kereta Tertua di Indonesia, yang menyimpan puluhan Lokomotif tua peninggalan kolonial belanda ini. Setelah 1 jam berkendara dari Semarang, kami pun tiba di Stasiun yang juga menjadi Museum Kereta api Ambarawa ini. Tanpa basa-basi, kedatangan kami langsung disambut oleh beberapa Lokomotif tua berwarna hitam yang terpajang di berbagai titik di sekitar stasiun yang sudah tak aktif tersebut. Bangunan stasiun sendiri dipertahankan keasliannya. Mulai dari ubin, dinding, desain bangunan, hingga jendela dan pintu masih dalam kondisi asli seperti zaman dahulu.

Disini terdapat 20 koleksi lokomotif tua yang kebanyakan buatan Jerman. Dan Tertua adalah lokomotif seri C1140 yang diproduksi tahun 1891 dan aktif hingga 1970an. Tak hanya untuk angkutan penumpang, Lokomotif tua ini pun dahulu sering dijadikan sebagai angkutan masal untuk memngangkut serdadu perang. Pengunjung bisa melihat lebih jelas kegagahan Lokomotif yang mampu menarik rangkaian gerbong sepanjang ribuan meter ini. Sore itu, Beberapa pengunjung terlihat asik berkeliling melihat lokomotif dan stasiun tua, berfoto, dan bersantai.

Mesin Cetak karcis kereta peninggalan belanda

Tak hanya lokomotif tua, kami pun berkesempatan mengunjungi ruang-ruang pamer yang menyajikan beragam koleksi barang-barang seputar perkeretaapian tempo dulu. Mulai dari, roda kereta api uap bergerigi, yang merupakan satu dari tiga yang masih tersisa di dunia selain di Swiss dan India, mesin pencetak karcis Edmunson yang berusia ratusan tahun. Tak ketinggalan, telegrap, mesin hitung, dan lainnya. Tak ketinggalan, beragam foto-foto lama, yang menggambarkan dokumentasi pembuatan jalur kereta api oleh Belanda di semarang.

Stasiun Tua Ambarawa

Saat ini, terdapat dua lokomotif yang bisa diaktifkan. Sayangnya, jika anda ingin menikmati langsung perjalanan dengan lokomotif tua nan eksotis ini, pengunjung harus menyewa secara rombongan. Dimana, dikenakan biaya Rp5-7 juta untuk dua gerbong berkapasitas 80 orang. Yang mengambilm rute Tuntang-Ambarawa-Jambu.

Jam buka: 8-5 sore
tiket masuk: Rp6000 perorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s