“Ora, Eksotisme Nan Khas Seram Utara”

Ora, Seram Utara

Ora, Seram Utara

Ora, Saleman, Seram Utara, Maluku.

Agustus 2015

 

Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIT, langit jingga menyelimuti Desa Saleman, Seram Utara, Maluku yang damai. Saya duduk di dermaga Saleman, mengarahkan pandangan saya ke arah pegunungan Roulessi di belakang desa. Saya menantikan Luusiala, burung keramat yang dipercaya sebagai pelindung desa Saleman. Menariknya, menurut penduduk setempat burung yang tak pernah tertangkap kamera ini selalu keluar dari goa di tebing bukit, yang menjadi sarangnya setiap harinya, pada pukul 18.30.

Dan benar, tak lama ribuan kawanan Luusiala keluar dengan gagah dari Goanya. Terus menerus, membentuk formasi yang tak henti. Terlihat dari kejauhan, bagaikan naga yang meliuk-liuk di langit dan menghilang di kejauhan. Tak pernah ada yang tahu, kemanakah burung keramat tersebut pergi. Sungguh, pengalaman yang mengagumkan bagi saya.

Desa Saleman, menjadi gerbang pembuka pengalaman saya mengeksplorasi kecantikan Ora Seram yang namanya begitu populer belakangan ini. Dan Kawanan Luusiala hanya satu dari sekian pengalaman khas yang akan saya nikmati di ujung utara Pulau Seram ini. Saya pun bertolak dari dermaga Saleman, menaiki perahu motor menuju Pantai Ora yang hanya berjarak 10 menit dari dermaga. Saya tiba di Ora Beach Resort dan tak sabar memulai cerita saya disini.

Tebing Batu

Keesokan dini hari, dari Pantai Ora saya menaiki perahu motor, menuju perairan di Teluk Saleman. Bapak Iqbal (40 tahun) dan Bapak Teko (41 tahun) , penduduk lokal Saleman, yang menjadi Juru Kapal, menemani saya pagi itu. Sesampainya di tengah laut, mesin perahu dimatikan, Langit masih gelap. Dengan sabar saya menunggu Sang surya menanjak naik.

IMG_9569

Sambil menunggu, Bapak Teko pun menuturkan cerita lokal Desa Saleman, termasuk burung Luusiala yang saya lihat kemarin. Penduduk lokal percaya, bahwa Luusiala menjadi pelindung Desa. Jika Burung Luusiala tidak keluar dari Goa, maka menjadi pertanda buruk bagi warga. Salah-satunya, saat tragedi kerusuhan Maluku terjadi beberapa tahun silam, burung tersebut sama-sekali tidak keluar dari goanya dan warga percaya bahwa itu menjadi pertanda buruk.

Ora Sunrise

Ora Sunrise

Tak beberapa lama, Lukisan keemasan di langit pun terlihat. Matahari pagi nan hangat menanjak pelan dari ujung laut, begitu menenangkan. Sinaran matahari pagi membuat pemandangan deretan pegunungan yang membentengi Teluk Saleman semakin jelas terlihat. Kegagahan Gunung Hatusaka, sebagai ‘Sang Komandan’ dari deretan pegunungan tersebut menampakkan diri.  Terlihat dari kejauhan deretan pondok-pondok penginapan Ora Beach Resost tempat saya menginap menghiasi kaki pegunungan.

Setelah puas menikmati sunrise, saya bergeser menuju “Tebing Batu”, salah-satu spot favorit di perairan teluk Saleman. Lokasinya hanya 5 menit dari lokasi saya berada atau 15 menit dari Ora Beach Resort.

Tebing Batu

Tebing Batu

Sebuah tebing berbatu karst menjulang begitu tinggi berhadapan langsung berhadapan dengan perairan (tanpa pantai) menjadi pemandangan yang begitu unik. Disinilah, lokasi favorit para wisatawan yang ingin senorkeling ria.

IMG_9548    IMG_9540   IMG_9625 - Copy

Penduduk setempat membuat pondok kecil beratap jerami diatas laut, memudahkan pengunjung untuk beristirahat. Kapal kami bersandar disamping pondokan. Matahari sudah cukup tinggi menyinari laut, dan nampaklah pantulan terumbu karang nan subur beraneka ragam dari dalam air. Tak membuang waktu, saya memasang alat senorkeling saya dan langsung berenang di perairan ini.

Lets Swimming ^_^

Lets Swimming ^_^

Lautnya begitu tenang. Terumbu karang beraneka ragam menghiasi eksplorasi saya dibawah laut. Aneka ikan laut bermain-main dan menyambut saya. Saya menyiapkan sebuah roti terbungkus plastik, dan sedikit demi sedikit saya berikan, dan ikan-ikan mendekati dan berebutan remahan roti tersebut. Terumbu karang dan ikan disini masih terjaga dengan baik. Tak bosan-bosan saya berkeliling.

Sebuah cela di tebing

Sebuah cela di tebing

IMG_9614 (2)

Tak sampai disitu saja, sembari berenang saya mendekati tebing karst dihadapan saya. Uniknya, terdapat cela di tebing ini, dan anda bisa berenang menelurusi kedalam sejauh 10 meter (buntu). Saya pun tertarik tuk menelurusinya, tak perlu berenang karena dari pintu cela tebing , ketinggian air hanya sepinggang. Saya masuk kedalam, cela tidak begitu luas hanya selebar 1 meter dengan ketinggian langit sekitar 15 meter dan ternyata terdapat sarang burung-burung walet . Kicauan burung bergema di cela tebing ini. Pengalaman yang begitu menyenangkan.

Terdapat Goa lainnya di dekat Tebing Batu. Jika masuk didalmnya terdapat sebuah ruang goa.

Terdapat Goa lainnya di dekat Tebing Batu. Jika masuk didalmnya terdapat sebuah ruang goa.

Pondok Mengambang Diatas Laut

Ora - Seram

Ora – Seram

Ora Beach Resort di Pantai Ora, memang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Ora (Seram). Resort ini berada di kaki pegunungan Teluk Saleman. Menariknya, deretan pondok penginapan bergaya tradisional beratapkan jerami ini dibuat menjorok diatas laut. Bagai mengambang diatas laut. Gaya penginapan yang tidak banyak ditawarkan di Indonesia. Ada tujuh pondok penginapan diatas laut yang ditawarkan disini.

unnamed  unnamed (1)

Untuk menjangkau tempat ini juga cukup mudah. Dari Kota Masohi Seram, anda bisa menyewa mobil menuju Desa Saleman. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5-3 jam, dan anda akan disuguhi pemandangan perbukitan yang indah sepanjang perjalanan.

Bersantai di Balkon

Bersantai di Balkon

Disini, saya menginap di salah-satu kamar diatas laut. Beristirahat disini begitu nikmat, saya bersantai di balkon yang menghadap langsung ke lautan teluk saleman. Pegunungan Roulessi juga bisa saya lihat dari balkon ini.

Ikan-ikan bermain di bawah balkon kamar

Ikan-ikan bermain di bawah balkon kamar

Dibawah balkon saya bisa langsung menimati pemandangan terumbu karang. Air laut nan jernih membuat terumbu karang dan ikan-ikan laut yang bermain, begitu jelas terlihat. Anda yang ingin senorkeling juga bisa langsung menyelam dari atas balkon. Bagi anda, pasangan bulan madu, bisa menikmati dinner di balkon sambil ditemani langit Saleman bertabur bintang. Suasananya begitu tenang dan nyaman, sangat tepat bagi anda yang ingin bersantai dan melepas kepenatan.

Dari balkon kamar, bisa langsung berenang ke laut

Dari balkon kamar, bisa langsung berenang ke laut

Jika ingin berjalan santai, anda juga bisa menelusuri pantai Ora berpasir halus yang berada di kawasan ini.  Makan pagi, siang dan malam disiapkan oleh Ora Resort dan anda bisa menikmati sajian nikmat, di pondok makan yang juga menjorok keatas laut. Ingin menikmati lobster khas laut Saleman, juga bisa disini. Para nelayan lokal siap menjajakan lobster hasil tangkapan mereka dengan harga yang sangat murah.

IMG_9694

Dikarenakan Ora Beach Resort yang berada langsung di kaki pegunungan, maka menginjak pukul 14.00 keatas, kabut pegunungan pun mulai menyelimuti dan turun menuju Ora. Pemandangan inilah yang membuat Ora semakin unik. Dan menghabiskan hari demi hari disini, membuat anda begitu nyaman malas untuk beranjak kemana-mana.

IMG_9700

 

Dermaga Ora

Dermaga Ora

Mata Air Belanda

Pantai "Mata Air Belanda"

Pantai “Mata Air Belanda”

Teluk Saleman memang menawarkan kecantikannya yang khas. Saya penasaran dengan “Mata Air Belanda”, yang menjadi tujuan saya berikutnya. Lokasi ini hanya berjarak 5 menit dari Ora Beach Resort.

Pantai berpasir halus

Pantai berpasir halus

unnamed (5)

Hamparan pantai landai berpasir halus menyambut kedatangan saya. Bagi anda yang ingin bersantai-santai di pantai, lokasi ini tepat sekali.

Sungai Mata Air Belanda yang langsung menuju lautan

Sungai Mata Air Belanda yang langsung menuju lautan

Siang itu, nampak beberapa pengunjung turis dari Jakarta asik bermain-main disini. Dari bibir pantai terlihat sebuah sungai membelah pantai, airnya begitu dingin dan menyegarkan langsung bertemu dengan lautan. Inilah yang membuat, sensasi yang unik siang itu saat saya turun dari kapal dan kaki saya menginjak perairannya yang justru begitu dingin begitu kontras dengan suasana yang saat itu matahari bersinar terik.

Menelusuri Sungai menuju mata air

Menelusuri Sungai menuju mata air

Saya pun, pergi menuju Mata Air Belanda tersebut, dengan menelurusi sungai tersebut. Airnya tidak dalam, hanya setinggi lutut orang dewasa. Saya menelurusi mata air yang menjorok ke hutan tersebut, pemandangan pepohonan rindang nan subuh dan meneduhkan menghiasi perjalanan. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari bibir pantai. Saya pun tiba di Mata Air Belanda, bentuknya seperti kolam kecil.

IMG_9475

Konon, dahulu saat kolonial Belanda masih menduduki Pulau Seram. Pasukan Belanda yang berada di Saleman, menjadikan mata air ini sebagai tempat mereka untuk mandi. Saya pun menyempatkan untuk mencuci muka disini, airnya begitu dingin dan menyegarkan.

Teluk Saleman Dari Ketinggian

 

Gunung Hatusaka

Gunung Hatusaka

Sementara, bagi anda yang ingin menikmati pemandangan perairan teluk saleman dari ketinggian. Tak perlu bersusah payah menaiki deretan gunung saleman. Anda bisa menuju sebuah bebatuan karang yang letaknya tak jauh dari lokasi Mata Air Belanda.

Sebuah PAntai tak jauh dari Mata Air Belanda. Jika ingin melihat pemandangan Teluk Saleman dari ketinggian.

Sebuah PAntai tak jauh dari Mata Air Belanda. Jika ingin melihat pemandangan Teluk Saleman dari ketinggian.

Masjid di pinggir pantai

Masjid di pinggir pantai

Pondok diatas Karang, bagi anda yang ingin melihat teluk Saleman dari ketinggian

Pondok diatas Karang, bagi anda yang ingin melihat teluk Saleman dari ketinggian

Menelusuri Bukit Karang

Menelusuri Bukit Karang

Disini, terdapat tumpukan karang menjulang tinggi di pinggir pantai. Anda hanya perlu sedikit menanjak bebatuan ini. Pondokan kecil pun menyambut anda sesampainya diatas, anda bisa bersantai, sambil menikmati landscape teluk Saleman dari sini. Birunya Lautan luas dihiasi pegunungan hijau begitu indah untuk dipandang.

IMG_9429

IMG_9448

IMG_9443 - Copy

11846682_10207507522469960_7472492894089580306_n

Penduduk lokal juga siap menawarkan anda kelapa muda yang dipetik langsung dari pohon kelapa di sekitarnya. Menyeruput kelapa muda sambil menikmati pemandangan teluk Saleman terasa begitu nikmat.

unnamed (8)unnamed (9)

Satu lagi kecantikan tersembunyi yang ditawarkan Pulau Seram. Nusantara memang terlalu luas dan tak pernah akan habis untuk dieksplorasi kecantikannya yang masih banyak tersembunyi. Begitu bersyukur dilahirkan di negeri indah ini.

(Siska Nurifah)

INFO :

  • Bandara Pattimura (Ambon) – Pelabuhan Tulehu : sewa mobil Rp150.000-Rp200.000 (30 menit perjalanan)
  • Pelabuhan Tulehu – Pelabuhan Amahai Masohi (Pulau Seram) : Kapal cepat , Rp70.000-Rp150.000 (1-1,5 jam)
  • Pelabuhan Masohi – Desa Saleman (Ora) : Sewa mobil+driver , Rp1 juta, pulang-pergi (Masohi-Saleman-Masohi) (3 jam)
  • Pelabuhan Desa Saleman – Ora Beach Resort : sewa kapal motor, Rp100.000-Rp300.000(PP) (10 menit)
  • Penginapan Ora Beach Resort : Kamar diatas laut Rp700.000/kamar/malam, Kamar di darat (Rp500.000/kamar/malam)
  • Ora Tour : Batu Tebing, Mata Air Belanda, Sunrise (Rp500.000, sudah termasuk kapal)

 

 

Terbuai Keindahan Tanjung Ringgit

Lombok Timur, NTB

April 2014

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Puas bersenang-senang di Gili Kondo, saya dan Agus (driver yang saya temui di Kota Mataram) melanjutkan perjalanan kembali ke arah ujung tenggara pulau Lombok. Tanjung Ringgit, menjadi target eksplorasi wisata saya berikutnya di Lombok Timur. Beruntung, saya ditemani Agus yang paham betul seluk-beluk Lombok. Ia mengarahkan kendaraan menuju daerah Jerowaru. Butuh waktu sekitar 2 jam dari Padak Guar (Gili Kondo) hingga akhirnya kami tiba di Tanjung Ringgit yang letaknya di Desa Pamongkang, Kecamatan Jerowaru. Tapi sebelumnya kami harus menghadapi sekitar 10 km terakhir jalan tak beraspal menelusuri hutan. Letak lokasinya sesudah Pantai Tangsi (pink), karena memang sejalur. Tenang, jalanannya masih kondusif dilalui kendaraan. Dan tak perlu takut tersasar, karena jalannya hanya satu jalur saja (tidak bercabang) dan mentok di Tanjung Ringgit, karena memang lokasi ini merupakan ujung daratan bagian tenggara Lombok.

IMG_5714

Akhirnya, sebuah Rambusuar yang menjulang tinggi menyambut kami di Tanjung Ringgit. Rambusuar ini menjadi ‘pintu gerbang’ menuju Tebing di Tanjung Ringgit. Disini, selain pemandangannya yang indah, juga terdapat beberapa situs peninggalan tentara Jepang jaman perang dunia II dulu. Letaknya sekitar 500 meter dari pintu masuk rambusuar. Jalan lanjutannya bisa dilalui kendaraan, namun kami harus menyisir pinggiran perbukitan kecil yang agak miring. Ini menjadi sensasi berkendara yang unik.

IMG_5715

Sayangnya tak ada marka (petunjuk jalan) lanjutan. Jadi kami harus mengira-ngira, sekitar 500 meter dari rambusuar, kami  turun dari kendaraan dan melanjutkan sedikit berjalan kaki di jalan setapak yang sudah ada.

Menelusuri jalan menuju lokasi Meriam Jepang.

Menelusuri jalan menuju lokasi Meriam Jepang.

Dan benar, kami menemukan sebuah meriam raksasa dibalik semak-semak yang mengarah ke laut lepas. Disini, ada beberapa Meriam yang tersebar. Tak ketinggalan, sebuah goa peninggalan jepang juga kami temui dibalik meriam tersebut. Sayangnya goa telah ditutup untuk menghindari pengunjung tersesat. Karena goa ini dikenal panjang bahkan bisa menembus hingga ke mulut goa lainnya yang letaknya di tebing bawah dekat laut.

 

Meriam Raksasa Peninggalan Jepang.

Meriam Raksasa Peninggalan Jepang.

 

Goa persembunyian di balik Meriam.

Goa persembunyian di balik Meriam.

Disini juga terdapat Sumur air tawar yang terletak di bawah tebing, dekat laut. Tak ketinggalan, Goa besar peninggalan Jepang (selain goa kecil di balik meriam). Tapi, untuk menuju kesana anda sebaiknya ditemani masyarakat lokal yang paham betul lokasi Tanjung Ringgit agar tidak tersesat. Tapi bukan hanya  situs peninggalan Jepang ini yang menarik untuk ditelusuri. Daya tarik utama Tanjung Ringgit ini justru terletak pada pemandangan alamnya yang menakjubkan dan belum tentu bisa anda temukan ditempat lain.

Welcome To Tanjung Ringgit

Welcome To Tanjung Ringgit

 

IMG_5739

Yup, Tanjung Ringgit dihiasi tebing karang nan eksotis yang menjulang tinggi dari permukaan laut.  Tebing karang eksotis lainnya pernah saya temui di Uluwatu Bali, tapi Tanjung Ringgit jauh lebih spektakuler bagi saya. Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak, sambil menikmati deretan tebing berwarna krem kehitaman yang yang menjadi ujung tenggara pulau lombok ini.

IMG_5725

IMG_5740

Tembok tebing menjulang dengan tekstur seperti membentuk sebuah relief unik. Sementara bagian atasnya, daratan perbukitan rumput dengan beberapa pepohonan menghiasinya. Begitu kontras dengan laut biru bergradasi yang letaknya puluhan meter dibawah tebing. Deru ombak besar yang mengalun mengantam tebing karang akan membawa anda larut. Laut lepas Samudera Hindia dan Penampakan Pulau Sumbawa dari kejauhan menjadi pemandangan tambahan yang indah untuk dinikmati.

Berdiri diujung tebing,,

Berdiri diujung tebing,,

IMG_5737

Saya memilih menuruni pelan-pelan bukit yang menurun ini menuju sebuah pohon cantik yang berdiri manis di pinggir tebing.  Sungguh pemandangan yang luar biasa, sangat cocok bagi mereka pecinta fotografi. Tanjung Ringgit, layak disebut Mutiara yang Tersembunyi.

 IMG_5798

IMG_5799

 Saat sedang asik menikmati keindahan Tanjung Ringgit, kami bertemu dengan masyarakat lokal yang hendak memancing di bawah tebing.

Pergi memancing

Pergi memancing

Ya, disini merupakan salah-satu lokasi favorit masyarakat yang hobi memancing. Biasanya mereka memancing kerapu. Tapi, mereka terlebih dahulu harus menelusuri tebing ini, mencari jalan untuk turun kebawah. Mereka yang terbiasa sudah hafal dengan jalannya, tapi bagi mereka yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini akan sulit untuk menemukan jalan turun kebawah. Jadi bagi anda yang penasaran ingin memancing di bawah tebing karang Tanjung Ringgit, sebaiknya menggunakan jasa masyarakat lokal yang terbiasa memancing disini, untuk menunjukkan jalan.

IMG_5793

Tak ada penjual makanan disini. Jadi sebaiknya anda membawa sendiri makanan anda. Dan sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi karena disini tidak ada angkutan umum. Dari kota Mataram bisa ditempuh dengan berkendara selama 2 jam. Sungguh Tanjung Ringgit memiliki potensi besar untuk menjadi daerah wisata seru di Lombok Timur. Tinggal, Pemerintah Daerah-nya saja yang harus lebih berperan aktif mempromosikan dan tentu saja memperbaiki fasilitas dan jalur transportasinya.

SUNSET DI PANTAI TANGSI (Pantai Pink)

Pantai Tangsi (Pantai Pink), Lombok Timur, NTB.

Pantai Tangsi (Pantai Pink), Lombok Timur, NTB.

Saatnya saya pulang kembali ke Kota Mataram. Hari menjelang sore, masih ada waktu untuk saya  menikmati sunset di pantai Tangsi atau yang populer disebut pantai pink di Desa Sekaroh. Di Indonesia hanya ada dua pantai yang berpasir Pink, Pantai Tangsi (Lombok) dan Pantai Pink di Pulau Komodo NTT. Dan itu sudah saya nikmati beberapa bulan lalu. –>bisa diintip ceritanya di https://siskanurifah.wordpress.com/2013/10/04/bertamu-di-rumah-ora/

Pantai Pink di Nusa Tenggara Timur

Pantai Pink di Nusa Tenggara Timur

Saya pun harus melengkapinya dengan mengunjungi Pantai Tangsi. Nah, letaknya satu jalur dengan Tanjung Ringgit. Dari tanjung ringgit ke Pantai Tangsi hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja. Akan ada marka “Pantai Pink” sebagai petunjuk arah.

IMG_5914

Kendaraan harus kami tinggalkan di pintu masuk. Dan melanjutkan berjalan kaki sekitar 50 meter ke arah pantai. Di pintu masuk, ada penduduk lokal yang bertugas menjaga, jadi anda tidak perlu khawatir meninggalkan kendaraan. Ya, sesampainya di sana, nuansa pantai begitu manis. Mungkin karena pantulan pasir pantainya yang memancarkan warna pink.

IMG_5840

Disini, anda bisa menikmati bersantai di pinggir pantai. Bagai anda yang ingin bersnorkeling disewakan alat disini oleh para penduduk lokal. Karena sudah menjelang matahari terbenam, Pantai Tangsi sudah nampak sepi dari pengunjung. Karena memang, kebanyakan datang di pagi hingga siang hari.

Butiran pasir berwarna merah yang membuat pantai berwarna pink.

Butiran pasir berwarna merah yang membuat pantai berwarna pink.

Pantai ini pun dikelilingi oleh tebing – tebing yang cukup tinggi, diatasnya ada beberapa pondok untuk anda bersantai sambil menikmati hamparan lautan lepas. Ombak pantai pink pun cukup tenang sehingga bisa nyaman bermain-main.

10001379_10203586274081201_197800492_n

Lapar atau haus? Deretan warung sederhana siap melayani anda. Sore ini saya bersantai sambil menikmati kelapa muda.

Gili Kondo , Tanjung Ringgit, dan Pantai Tangsi (Pink) beres dieksplor. Sungguh, pengalaman wisata yang luar biasa menjelajah Lombok Timur. ^_^

Gili Kondo, Si Cantik Dari Lombok Timur

Lombok Timur, NTB

April 2014

Gili Kondo

Gili Kondo

Saat saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, awal April lalu. Entah mengapa saya justru sangat tertarik untuk mengeksplor Lombok bagian timur. Ya, selama ini Lombok memang dikenal memiliki pesisir Senggigi dan tiga gili-nya yang populer di sisi barat. Sementara, di pesisir selatan ada Tanjung Aan, Kuta dan Batu Payung yang mulai diincar banyak pelancong. Bagaimana dengan Lombok Timur?

Jangan salah, di sisi timur pulau yang menjadi rumah Suku Sasak ini juga menyimpan pesona yang tak kalah dengan senggigi dan Gili lainnya. Sayangnya masih ‘pemalu’ atau bisa dibilang ‘masih perawan’ alias belum banyak dieksplor wisatawan. Salah-satunya Gili Kondo yang berhasil memancing rasa penasaran saya. Banyak yang bilang pulau yang berada di Perairan Kecamatan Sambelia (50km utara kota Selong) ini begitu indah dan masih sepi. Untuk menjawabnya, perjalananpun dimulai dengan meninggalkan Kota Mataram mengarahkan ke arah Sambelia di utara pulau.

IMG_6105

Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam hingga akhirnya kami sampai di Padak Guar, sebuah pantai kecil yang menjadi titik penyebrangan kami ke Gili Kondo. Bebeberapa masyarakat lokal disini siap menawarkan jasa untuk menyebrangkan anda. Kali ini, saya ditemani  Pak Jefry (40 thn), yang memiliki sebuah kapal berkapasitas 10 orang.

IMG_5436

Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Pak Jefry begitu baik, sebelum menuju Gili Kondo ia menawarkan saya untuk mengunjungi bebeberapa tempat di sekitar Kondo yang katanya sangat menarik. Saya pun menurut saja. Alat snorkeling pun telah siap, saya menyewa di pak Jefry yang ternyata juga menyiapkan.

Kapal melaju dengan santai. 20 menit berlalu, kami tiba di Gili Lampu sebuah pulau berselimut hutan bakau yang tebal tak jauh dari Gili Kondo. Ini menjadi salah-satu lokasi Terbaik untuk menikmati keindahan bawah laut, kata Pak Jefry. Dari atas kapal, air laut yang jernih sudah merefleksikan sejumlah terumbu karang yang memancing siapa saya untuk tak sabar mengintip kedalamnya. *sorry gak bawa kamera underwater🙂

Yukk,,kita senorkeling...

Yukk,,kita senorkeling…

Senorkeling di perairan dekat Gili Lampu

Senorkeling di perairan dekat Gili Lampu dengan latar belakang Gunung Rinjani

Dan benar, saya begitu menikmati keindahan bawah lautnya yang terbilang masih ‘perawan’ dengan bersenokeling. Belum banyak kerusakan didalamnya karena laut disini sangat dijaga oleh masyarakatnya, ragam jenis coralnya begitu kaya. Ada jenis Tubesponge Boat, Soft Coral, Dendronephthya, dan lainnya. Tak ketinggalan aneka ikan cantik yang ada didalamnya. Seperti kawanan Angle fish, Princ Parrot, Volute, dan masih banyak lainnya. Saya pun menemukan coral besar dengan keluarga ikan badut yang berdiam disana. Saya begitu dimanjakan dengan aneka biota laut didalamnya. Kali ini saya berenang sambil ditemani pemandangan Gunung Rinjani yang gagah dari kejauhan.

IMG_5519

Menelusuri Hutan Bakau Gili Lampu

Menelusuri Hutan Bakau Gili Lampu

Setelah puas menikmati bawah laut. Saya diajak menelusuri pulau lampu. Kapal kami memasuki hutan bakau, jalurnya seolah kami berada di sebuah sungai. Kanan-kiri kami disajikan pepohonan bakau yang lebat yang memanjang sekitar 300 meter memutar pulau. Begitu menenangkan dan menyejukkan mata. Kami tiba di Mulut pintu keluar hutan bakau yang langsung mengarah ke laut lepas.

IMG_5533

IMG_5538

Saatnya, kami beranjak ke Gili Kondo. Tapi, tunggu,, tiba-tiba ditengah perjalanan sebuah pemandangan janggal nampak di depan kami dari kejauhan. Ditengah laut lepas nampak terdapat buih putih yang merupakan pertemuan ombak yang beradu ditengah. Ternyata ada sebuah pulau pasir kecil ditengah laut tersebut.

Penampakan Gili Kapal dari kejauhan

Penampakan Gili Kapal dari kejauhan

“Itu Pulau Kapal yang daratannya hanya muncul saat air laut surut. Sekarang sedang pasang, jadi sebagian besar tertutup laut,” seru  pak Jefry sambil menunjuk ke arah pulau.

Gili Kapal

Gili Kapal

Benar, saat kami singgah, semua pulau tertutup air laut. Tapi masih tersisa daratan pasir seluas diameter 2 meter dengan air laut yang setinggi betis. Saya ingin mencoba sensasi unik ini.

mencicipi hempasan ombak di Gili Kapal

mencicipi hempasan ombak di Gili Kapal

Saya turun dari kapal dan berdiri. Kemudian ombak bermain menghantam saya. Saya harus berpijak kuat, karena salah-salah, saya bisa terhanyut ombak yang kala itu cukup besar.  Jika dilihat dari kejauhan saya bagaikan sedang berdiri diatas laut.

Bergeser ke Gili kondo

Bergeser ke Gili kondo

Gili Kondo

Gili Kondo

Perjalanan kembali berlanjut, tak sampai 15 menit kami tiba di Gili Kondo. Nama Kondo berasal dari sebutan masyarakat lokal karena pulau ini dulu menjadi sarang burung (kondo) yang besar. Saya begitu takjub saat disambut dengan hamparan pasir yang luas.

IMG_5609

Pasir putih bersih nan halus berpadu dengan air laut yang jernih. Belum lagi, permainan gradasi lautnya yang mempercantik penampilan kondo. Hijau muda kebiruan, biru muda, hibgga biru tua. Saya menghabiskan waktu menikmati pasirnya dengan berjalan kaki sepanjang bibir pantai. Anda bisa bermain pantai disini. Bagaikan pulau milik sendiri karena hari itu, baru saya yang mampir.

IMG_5620

IMG_5621

IMG_5617

IMG_5642

Di pulau kosong ini ternyata hanya ada, satu buah penginapan bergaya cottage yang sederhana bahkan bergaya camping lebih tepatnya. Ada tiga bangunan rumah panggung kecil beratap jerami yang bisa anda sewa disini dengan pemandangan yang lansung menghadap laut. Pengelola akan menyediakan kasur. Untuk makan dan minum bisa anda pesan ke pengelola.

IMG_5660

Salah-satu rumah panggung yang bisa digunakan untuk menginap.

Salah-satu rumah panggung yang bisa digunakan untuk menginap.

IMG_5677

IMG_5684

Pak Jefry menunjukkan beberapa gambar ikan-ikan laut yang ada di perairan Gili Kondo juga Gili Lampu.

Pak Jefry menunjukkan beberapa gambar ikan-ikan laut yang ada di perairan Gili Kondo juga Gili Lampu.

Disini, kami istirahat sejenak sambil minum softdrink. Saya pun berbincang dengan Pak Jefry yang ternyata sudah sering mengantar wisatawan dan paham betul isi laut di sekitar Gili Kondo. ia pun memperlihatkan beberapa buku berisi foto-foto jenis coral dan ikan. Serunya mengobrol dengan pak Jefry yang ramah ini.

hmmm…Selesai sudah perjalanan singkat kami di Gili Lampu, Gili Kapal, dan Gili Kondo. Seperjalanan pulang, kapal kami sempat berpapasan dengan rombongan yang hendak bertamu ke Gili Kondo.

IMG_5706

Sungguh, saya begitu menikmati waktu di Gili Kondo. Tempatnya mengingatkan saya pada Lihaga, pulau kosong berpasir putih halus nan cantik di Minahasa Utara yang pernah saya kunjungi. Yang juga sama seperti Gili kondo, si cantik yang pemalu karena seolah ia bersembunyi untuk menunggu ditemukan bagi mereka yang berniat menyapanya. Saya senang karena kembali menemukan mutiara cantik yang tersembunyi . Rasanya tak ingin beranjak pergi. Selain Gili Lampu dan Gili Kondo, ada juga Gili Bidara yang bisa anda kunjungi letaknya juga berdekatan sekali.

Saatnya bergeser ke lokasi seru lainnya di Lombok Timur. Next.. Tanjung Ringgit.

Sampai jumpa Gili kondo. Semoga berjodoh dan bisa bersua kembali ^_^

Sampai jumpa Gili kondo. Semoga berjodoh dan bisa bersua kembali ^_^

#Info:

– Kota mataram-Sambelia (padak guar-gili kondo) 2 jam berkendara.
-bisa juga naik damri dari teminal kota mataram-Terminal Kayaan (Rp25 ribu), lanjut naik angkutan l3 (Rp5 ribu) ke padak guar.
-selain padak guar anda bisa menyebrang lewat pantai transat di Sambelia (sekitar 25 menit) dan pelabuhan Kayangan Labuhan Lombok (sekitar 45 menit). Namun padak guar merupakan alternatif paling cepat.
-sewa kapal: Rp250 ribu (kapasitas 10 prang).
-Sewa Alat Senorkeling Rp25 ribu.
– menginap di Kondo sewa kamar Rp150 ribu permalam.

Terpukau Kegagahan Batu Payung (Lombok)

Lombok, NTB

April 2014

IMG_6220 - Copy

Batu Payung

Saya begitu antusias ingin menikmati keindahan alam dari Pulau Lombok, rumah suku Sasak ini. Gili Air, Gili Trawangan, dan Gili Nanggu di bagian barat pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, memang tak diragukan lagi kemasyurannya. Tapi kali ini, saya ingin mencicip sesuatu yang berbeda. Saya memutuskan untuk bergeser ke bagian selatan pulau Lombok. Pantai Batu Payung di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah memancing rasa penasaran saya.  Masyarakat lokal, menyebutnya Batu payung karena bentuknya yang seperti payung. Lokasinya pun sangat mudah dijangkau, yakni hanya sekitar 45 menit berkendara dari Bandara Internasional Praya ke arah selatan lombok yakni ke arah Pantai Kuta Lombok.

Hmm,,pernahkah anda melihat salah-satu iklan produk rokok. Adegannya, seorang pria tampan, pergi menyelam ke lautan mencari ikan. Setelah itu, ia pergi ke darat yang penuh dengan karang nan eksotis, membakar ikan dengan bumbu sederhana namun nikmat sambil duduk di sebuah karang dengan latar belakang sebuah batu tinggi menjulang yang berdiri gagah tepat di pinggir pantai. Ia pun menikmati sajian ikan, dengan teman-temannya sambil bersukaria. Ya, siapa saja yang menonton pasti mengira bahwa adegan tersebut diambil di luar negeri. Namun, siapa sangka ternyata pemandangan pantai nan eksotis tersebut berada di pesisir pulau lombok bagian selatan. Dialah Pantai Batu Payung.

 

IMG_6137

Usai berkendara, saya tiba di sebuah pantai yang menjadi pintu masuk menuju batu Payung. letaknya disamping kawasan Tanjung Aan. Setibanya disana, penampakan karang yang disebut Batu Payung tersebut belum bisa dilihat. Saya masih harus berjalan melewati karang pantai karena letak batu ini berada di balik bukit. Saya masih harus berjalan kaki, panas terik tak menyurutkan semangat saya tuk melihat si cantik yang pemalu ini. Beruntung,saya ditemani beberapa teman baru yang saya kenal di Lombok yang juga penasaran ingin melihat Batu Payung.

Berjalan menelusuri bibir pantai, menuju Batu Payung yang tersembunyi di balik bukit

Berjalan menelusuri bibir pantai, menuju Batu Payung yang tersembunyi di balik bukit

Berjalan menelusuri karang pantai juga menyajikan keindahan tersendiri. Batuan karang dan pecahan coral aneka warna yang terbawa ombak, menemani sepanjang perjalanan. Lekukan karang yang mirip ombak karena abrasi laut juga menarik perhatian. Tentu saja, dengan pemandangan bukit dan lautan biru yang eksotis menjadi kenikmatan tersendiri.

IMG_6164

Sekitar 10 menit berjalan kaki, sebuah batu karang besar yang menjulang tinggi berwarna krem kehitaman mengintip dari balik bukit.

Tibalah kami di Batu Payung

Tibalah kami di Batu Payung

Saya akhirnya tiba di Batu Payung. Rasa penasaran terjawabkan, saya terpukau dengan batu karang yang indah ini. Dan, memang bentuknya begitu unik mirip payung, yang mana bagian bawahnya lebih kurus kemudian membesar dibagian atasnya, bagai menggantung dan letaknya tepat terpisah menjorok ke laut, terpisah dengan karang bukit didekatnya. Bagian bawah yang kurus nampak begitu aneh, kuat menopang volume batu yang lebih besar diatasnya. Sementara, bagian bawahnya terhampar batuan karang dan sedikit ombak yang bermain.

IMG_6200

Kala itu, sedang surut, jadi kami bisa menyapanya lebih dekat. Jadi sebaiknya anda datang lebih siang atau menjelang sore, karena jika laut sedang pasang, ombak akan lebih besar, dan anda akan sulit mendekati batu ini.  Siang itu, beberapa turis lokal sibuk mengabadikan diri di bawah batu payung ini. Sungguh pemandangan yang tak bosan untuk dinikmati.

IMG_6217

Anda juga bisa sedikit mendaki bukit yang berada didekatnya. Dari sini anda bisa menyaksikan batu payung dari ketinggian, tak ketinggalan disajikan pemandangan spektakuler laut lepas dan perbukitan sekitarnya.

IMG_6184

 

IMG_6187

Masuk ke lokasi ini gratis, anda hanya cukup membayar parkir kendaraan saja. Selain lewat darat, anda juga bisa menjangkau pantai batu payung ini dari laut dengan menaiki kapal selama 10 menit dari Tanjung Aan dengan merogoh kocek sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

IMG_6194 - Copy

Meresapi Ketenangan Di Desa Sasak Ende (LOMBOK)

Lombok, April 2014

image(7)


Saat menginjakkan kaki di Pulau Lombok untuk pertama kalinya, tentu saja, saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk singgah di perkampungan adat Suku Sasak. Saya pun singgah sejenak di Desa Adat Suku Sasak Ende, di Rembitan, Lombok Tengah. Letaknya pun tak jauh dari lokasi Pantai Kuta, hanya sekitar 15 menit berkendara. Sementara dari Kota Mataram, sekitar 30 menit mengarah ke Pantai Kuta. Jadi bagi anda yang ingin mengunjungi Pantai Kuta lombok di sisi selatan pulau, pasti akan melewati desa ini terlebih dahulu.  Berhubung, Desa Sasak Sade sudah lebih tersohor, kali ini saya ingin merasakan Desa adat yang lebih asli dan tidak ramai turis. Maka, Desa Sasak Ende menjadi pilihan yang tepat bagi saya. 

Selamat Datang di Kampung Sasak Ende ^_^

Selamat Datang di Kampung Sasak Ende ^_^



Letaknya tak jauh pula dari Desa Adat Sade. Disini, hanya terdapat 30 kepala keluarga, sementara di Sade komunitasnya jauh lebih besar,. Sayangnya, di Sade nuansanya lebih komersil, karena di pintu masuk Sade dipenuhi beragam pondok yang menjual souvenir dan ramai wisatawan. Makanya, saya lebih memilih ke Desa Sasak Ende.

 Sekilas mengenai Suku Sasak :

Suku Sasak adalah suku yang mendiami Pulau Lombok. Dalam kesehariannya mereka menggunakan bahasa Sakak. Dan sebagian besar suku ini beragama Islam. Menariknya, ada sebagian kecil masyarakat (sekitar 1%) di suku ini yang menganut Islam Wetu Telu, yang ritual beribadahnya agak berbeda dengan islam pada umumnya. Ada juga yang menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut Sasak Boda.

IMG_6015

IMG_5987



Kembali ke persinggahan di Desa sasak Ende. Disini, nuansanya lebih tenang, benar-benar atmosfer kampung desa adatnya kental terasa. Terlihat, beberapa rumah adat khas Suku Sasak dari anyaman bambu dengan pilar bambu sebagai tiang penyangga rumah. Beratapkan jerami membentuk gunungan yang menukik ke bawah menyebar dimana-mana. Suasananyapun begitu asli, karena memang semua rumah disini benar-benar ditinggali oleh penduduk. Nampak pula, aktivitas penduduk berjalan seperti biasa. 

IMG_6022

Beberapa pemandu yang merupakan penduduk lokal Desa Sasak Ende menyambut kedatangan saya. Salah-seorangnya, mengantarkan saya berkeliling. Para pemandu ini siap mengantarkan anda berkeliling, sebagai bayarannya anda bisa memberi uang jasa seikhlasnya. Persinggahan pertama saya ke sebuah rumah kediaman salah-satu penduduk. Seorang nenek terlihat duduk di teras dengan lantai berwarna abu-abu yang terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau yang menjadi cirikhas disini.

Beliau nampak asik mengunyah sirih. Tuk memasuki teras, saya harus menunduk karena atapnya yang condong kebawah. Ternyata, ini pun memiliki filosofi tersendiri, yakni jika bertamu ke rumah orang itu harus sopan dan menghormati si pemilik rumah.   

IMG_6054

IMG_6066

IMG_6048

Setelah itu, Saya lanjut berkeliling kampung yang tenang ini. Nampak pula wisatawan lokal, sepasang suami-istri dengan seorang anaknya turut berkeliling kampung adat ini. Penduduknya yang rata-rata memakai bawahan kain ini begitu ramah menyambut tamu. Disini saya mengunjungi pula, lumbung padi penduduk, dan melihat lebih dekat beberapa rumah penduduk hingga kandang ternaknya. Bagi anda yang ingin mengunjungi rumah adat lainnya yang lebih menjorok kedalam,bisa melewati persawahan dengan berjalan kaki.

IMG_6069

IMG_6080

IMG_6038

Perjalananpun diakhiri dengan menghampiri sebuah showroom sederhana, tempat penduduk menjajakan kerajinan tangan kreasi mereka. Ada kain tenun ikat yang dibuat ibu-ibu disini. Tak ketinggalan, beberapa miniatur rumah adat sasak yang menarik, hingga sendok nasi dari tanduk kerbau bisa juga anda beli disini sebagai oleh-oleh. Semua kerajinan disini, dibuat oleh penduduk disini, karena selain bertani mereka hanya memiliki pemasukan dari berjualan kerajinan. Nantinya, seluruh hasil penjualan disini akan dibagi rata oleh penduduk desa. Jadi anda bisa sekaligus bisa membantu masyarakat disini. so, jangan lupa membeli oleh-olehnya. ^_^

Singgah Sejenak Di Pura Luhur Uluwatu

Februari 2014

Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu

Beres berkeliling GWK dan mencicip mata air suci Parahyangan Somaka Giri disana, perjalanan berlanjut ke Pura Luhur Uluwatu (Uluwatu Temple) yang berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Kami singgah sejenak disini sebelum nantinya merapatkan diri ke Pantai Pandawa untuk menikmati Sunset ^_^.  Jarak Pura Luhur Uluwatu dan Pandawa berdekatan dan sejalan. Hanya berkisar 15-20 menit berkendara saja.

IMG_4365

IMG_4369

Wajib mengenakan kain sebagai penghormatan terhadap Pura

Wajib mengenakan selendang atau kain sebagai penghormatan terhadap Pura

Tibalah kami di Pura Luhur Uluwatu. Sebelum memasuki kawasan Pura, terlebih dahulu para pengunjung diwajibkan memakai kain yang telah disediakan oleh penjaga gerbang. Kain ini wajib digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Pura nan suci ini. Ada dua jenis kain, selendang berwarna kuning yang lebih memanjang dan kecil diperuntukkan bagi pengunjung yang menggunakan rok panjang, atau celana panjang. Sementara, bagi pengunjung yang menggunakan bawahan lebih pendek, seperti celana pendek, wajib ditutupi dengan kain yang lebih lebar berwarna ungu.

IMG_4538

Nah, bagi yang memakai asesori seperti kacamata, anting, membawa kamera poket, dan sebagainya sebaiknya hati-hati, karena di kawasan ini banyak monyet yang berkeliaran. Monyet-monyet yang nakal biasanya suka iseng mengambil barang pengunjung, terutama yang dianggap menarik perhatiannya. Sebelum mencapai Pura, kami pun harus berjalan kaki sebentar melewati hutan kecil yang disebut Alas Kekeran, yang dipercaya berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

IMG_4383

Welcome to Uluwatu Temple

Welcome to Uluwatu Temple

Sampailah kami di ujung tebing karang Pura Uluwatu ini. Lautan luas nan biru, nampak kontras dengan pemandangan tebing karang yang kokoh. Kehadiran bangunan Pura di anjungan tebing karang inipun menjadi begitu Indah.  Atmosfer ketenangan begitu terasa disini, deburan ombak dibawahnya menjadi pengiring nuansa. Pura ini memang menarik, karena letaknya berada di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini.  Pura yang disebut Sad Kayangan ini dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura Uluwatu  memiliki beberapa pura pesanakan (pura yang erat kaitannya dengan pura induk). Yakni, Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan.

Memberi makan monyet di Pura ^_^

Gak afdol kalo gak kasih makan  monyet di Pura…hehehe ^_^

Sebelum memasuki pura, gue dan teman-teman menyempatkan membeli buah-buahan yang ditawarkan penduduk sekitar di pintu masuk. Harganya cuma Rp2000 saja, sudah dapat sekantong kecil berisi potongan kecil pepaya dan pisang. Buah-buahan ini untuk memberi makan monyet-monyet yang berkeliaran di Pura. Tentu saja, gue pun gak mau melewatkan pengalaman memberi makan monyet disini. Hati-hati ya, saat memberi makan, jangan sampai mengagetkan mereka atau kasar, supaya tidak dicakar atau digigit. ^_^

IMG_4414

Beres memberi makan monyet dan tentunya berfotoria. Kami pun terus berjalan berkeliling, mengeksplor sisi-sisi tebing karang. Anak tangga dengan tembok batu yang kuat memagari sepanjang pinggiran tebing.

IMG_4416

Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar.

IMG_4422

Para wisatawan berkeliling Pura

Para wisatawan berkeliling Pura

IMG_4447

Siang itu, nampak selain wisatawan, beberapa umat Hindu berkumpul di sekitar Pura untuk beribadah. Mereka menggunakan busana serba putih dan membawa Calang (sesaji). Wisatawan yang datang, dilarang memasuki Pura, jika tidak untuk beribadah. Dan sebaiknya di sekitar Pura jangan berisik atau rusuh, kita juga harus menghormati saudara kita yang bersembahyang.

IMG_4448

IMG_4454

IMG_4456

IMG_4460

Sisi lain dari tebing

Sisi lain dari tebing

Kami tiba di sisi lain dari kawasan pura. Pemandangan disini juga gak kalah indah. Kembali kami berfotoria tentunyahhh.. Background Tebing karang, lautan biru, dan langit yang cerah memang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan.Beberapa Turis asing juga asik berfoto disini.

Yeahhh...Foto duluuuu...^_^

Yeahhh…Foto duluuuu…^_^

IMG_4480

IMG_4505

Para pengunjung nampak asik memotret monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar Pura

Para pengunjung nampak asik memotret monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar Pura

IMG_4508

IMG_4515

IMG_4516

IMG_4522

Puas berkeliling, kami pun berjalan menuju pintu keluar yang juga kembali melewati Hutan kecil. Kembali, seekor monyet mangkal di tengah jalan. Doi asik menyantap pisang pemberian pengunjung.

monyet ekor panjang

IMG_4535

Pengalaman berkeliling Pura Luhur Uluwatu begitu mengesankan. Semoga berjodoh, dan bisa kembali lagi kesini suatu saat. ^_^

_Info_

Tiket masuk Pura : Rp15.000 / orang (turis lokal)

Secangkir Kopi Nikmat & Menenangkan Di Tengah Keramaian Legian

Diluar keseruan berkeliling GWK, Uluwatu Temple, dan  Pandawa Beach. Ada pengalaman nikmat saat gue berada di Legian. Yup…gue termasuk orang yang amat…sangat… cinta… dengan Kopi… I Love drinking Coffee.. Tiada hari tanpa segelas kopi hitam. Dan Gue anti kopi sachetan yang beragam rasa heboh2 itu…:D

Nah, pas di Legian, gue dan teman-teman memutuskan untuk nongkrong n ngopi2 manis. Maklum, salah-satu kawan gue di Jakarta ada yang bekerja di Bali. Jadi kita sekalian temu kangen..Berhubung kita semua doyan ngopi, kita pun ingin mencari lokasi ngopi-ngopi yang enak dan nyaman malam itu.

IMG_4209

Tiba-tiba kita melihat plang “Kopi Pot”, sebuah Cafe yang berada di pinggir jalan Legian utama. Dari luar nampak seperti sebuah taman or bisa dibilang sekilas mirip halaman rumah (outdoor), diselimuti tanaman hias dan pepohonan rindang. Beberapa meja dan kursi tertata disana-sini. Kontur tanahnya bertingkat membuat menarik. Lampunya pun remang, membuat nuansa romantis begitu terpancar. Aihhh sedapppp…;p

Secangkir Cappuccino hangat ^_^

Secangkir Cappuccino hangat ^_^

Gue dan kawan gue memilih duduk di sebuah meja bergaya klasik yang letaknya agak meminggir ke sisi jalanan. kita memesan Cappuccino. Selain itu ada kopi hitam, coffee latte, dsb yg bisa dipilih. Tuk racikan kopi bisa memilih kopi Bali, Toraja, dan dari luar seperti dari Italia. Harga kopinya pun terjangkau yakni mulai berkisar dari Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Ada juga beberapa homemade cake untuk menemani menyeruput kopi. Seperti Chocolate Cake, Black Forest, Lemon Merigue Pie, dan sebagainya.

Menikmati kopi dan obrolan berselimut nuansa garden bergaya klasik

Menikmati kopi dan obrolan berselimut nuansa garden bergaya klasik

Tak hanya kopi dan cake. Disini,  juga disajikan beberapa makanan berat, seperti Cold Roast Beef, Nicoise Salad, Sate Lilit, dan lainnya. Tapi malam itu, berhubung kita sudah makan berat diluar, kita memilih menyeruput segelas kopi dan Sepotong Chocolate Cake yang kami bagi berempat.😀 . Disini juga terdapat Lone Palm Bar, bangunan kecil bar dengan atap piramid jerami yang eksotis.

Pindah nongkrong di lantai 2

Pindah nongkrong di lantai 2

Nah, malam itu, disaat sedang asik menyeruput kopi dan berbincang, Tiba-tiba Hujan kecil turun, kami pun memutuskan pindah ke lantai dua. Disini,arsitektur tradisional begitu kental terasa. Namun, memberikan nuansa ketenangan dan kenyamanan.Begitu homeee….

IMG_4249

IMG_4252

Pintu tua tradisional menghiasi dekorasi di lantai 2

Pintu tua tradisional menghiasi dekorasi di lantai 2

Obrolan santai ditemani segelas kopi hangat dan sahabat-sahabat berselimut nuansa cafe yang nyaman, begitu nikmat malam itu…^_^

Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam, Berhubung salah-satu teman Bali gue telat datang karena suatu hal. Kita baru lengkap berbincang pukul 11an malam. Alhasil, disaat Cafe harus tutup dan peramusaji meminta bills, gue dan teman-teman belum puas mengobrol. Tapi, meski Cafe telah tutup, kami dipersilahkan oleh peramusaji untuk lanjut berbincang.

Astaga Cafe ini ramah sekaliii…!!! Baiknyahhh Peucahhh..!!”^_^

Yup, kami diperbolehkan lanjut nongkrong meski telah tutup. Karena lantai dua hanya dipisahkan oleh tangga yang langsung mengarah ke halaman tanpa pintu dan pagar, jadi kami bebas untuk pulang (gak takut dikunci). Jadilah kami berbincang ngalir ngidul, kita macam yang punya resto hingga lupa waktu alias sampai jam 2 pagi.😀

Orang Bali itu memegang teguh kejujuran makanya membebaskan kita. Dan kita patut menghormatinnya.  Mantaplah ini tempat, Cafe Kopi Pot, kopinya enak, tempatnya nyaman, plus pramusajinya ramah. Sungguh pengalaman nongkrong,ngopi-ngopi yang mengesankan. Nice….^_^

Mencicip Berkah Air Suci Parahyangan Somaka Giri

Februari 2014

Selamat Datang Di GWK
Selamat Datang Di GWK

Hari ini, gue dan sahabat-sahabat gue berencana menikmati Sunset di Pantai Pandawa di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, bagian selatan Pulau Bali. Tapi, berhubung jam 12 siang, kami sudah cabut dari Kuta. Soo…masih banyak sisa waktu sebelum sore. Alhasil, kami putuskan untuk  mampir mengintip Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Tanjung Nusa Dua, yang masih di Kabupaten Badung.  Jadi rute kami hari itu : GWK  -> Pura Luhur Uluwatu  -> Pandawa Beach. Jarak ketiga lokasi wisata ini berdekatan dan sejalur, jadi sekalian deh. ^_^

Bagian Kepala Patung yang belum selesai..
Bagian Kepala Patung Garuda yang belum selesai..

 

IMG_4287

Beberapa patung cantik menghiasi komplek GWK
Sebelum menanjak ke puncak GWK kami berkeliling sekitar Garuda Plaza. Beberapa patung-patung bernilai seni tinggi dan cantik menghiasi sekeliling. Kehadiran batuan karst yang terbelah rapih disana-sini memberikan sentuhan eksotis. 

IMG_4295

Menanjak menuju Puncak Kepala Garuda
Menanjak menuju Puncak Kepala Garuda

Berlanjut, kami menanjak anak tangga menuju puncak Wisnu Plaza, dimana patung bagian raksasa Kepala Garuda dan Dewa Wisnu berada. Dari atas sini juga semakin jelas komplek GWK, dengan susunan bukit batu yang terbelah rapih tersebut.

“Astaga… ini gunung bisa dibelah jadi balok-balok gini yah..ckckck,” ungkap teman gue berdecak kagum. Seruan serupa juga kembali diungkapkan dia saat kami kami tiba di pintu masuk Pantai Pandawa yang juga berbentuk tebing yang dibelah.  “Wow, tebing bisa dibelah beginih! “-_-“. —->

IMG_4571

“Ini begimana nyusunnyah kalo dah jadi…??!” teman gue berpikir keras sambil memandang Kepala Garuda. “Yahh..gak usah dipikirin cuyyyy…Serahkan pada Nyoman Nuarta…”  -_-“

Garuda Plaza
Garuda Plaza

IMG_4298

Yup…Rencananya memang disini akan dibangun patung raksasa Dewa Wisnu yang menunggangi tunggangannya yakni Garuda.  Tahun 1997, peletakan batu pertama pembangunan GWK, sayangnya tak lama dari situ pembangunan dihentikan. 16 Tahun berlalu, akhirnya Agustus 2013 lalu, diresmikan kembali pembangunan GWK ini. Dan biaya tahap pertama kelanjutan pembangunan GWK sebesar Rp450 miliar.  Dan diharapkan akan rampung sempurna di Tahun 2016 mendatang. Nantinya Patung ini akan mencapai tinggi 127 meter, melebihi tinggi patung Liberty di New York Amerika Serikat yang memiliki ketinggian 93 meter. “Wow! Peucahhh!!”😀

Dewa Wisnu
Patung Dewa Wisnu

Kata Nyoman Nuarta, Inisiator dan Seniman GWk, yang gue lansir dari Antara.com, Garuda Wisnu itu simbol harmoni Tuhan yang menjaga keseimbangan hidup. Perputaran bulan mengutari bumi, bumi yang bekerja mengelilingi matahari dan matahari yang memberikan cahaya sekaligus memberi nafas kehidupan. hmm…semoga pembangunannya lancarrr…jadi pas gue kesini lagi, dah bisa foto dengan patung raksasa yang berdiri sempurna ini. Aminnn….

IMG_4309

IMG_4314

Yakk..demikian update singkat soal pembangunan GWK. Kita lanjut keliling lagi yuk ah…Nah, sampailah gue di puncak GWK, tempat Patung Dewa Wisnu. Lagi asik memandangi Patung raksasa ini, tak jauh dari situ, gue lihat ibu-ibu berkebaya khas bali serba putih bersembahyang di bawah pepohonan lokasi Parahyangan Somaka Giri.

Ada yang sedang sembahyang..
Bersembahyang..

Si ibu pun kemudian duduk di sebuah batu. Lagi asik motret dibalik pagar yang membatasi, tiba-tiba si ibu memanggil.  “Mau masuk?” katanya, “Memang boleh bu?” tanya gue, soalnya gue lihat gak ada satupun yang masuk ke bagian persembahyangan  ini.  “Sedang ‘halangan’ (menstruasi) tidak?” tanyanya, “Tidak bu..” jawab gue, “Boleh kesini saja..” Si ibu memberi ijin.

 Seorang Ibu, duduk di depan Mata Air suci Parahyangan Somaka Giri


Seorang Ibu, duduk di depan Mata Air suci Parahyangan Somaka Giri

Gue langsung masuk ke kawasan tempat sembahyang itu. Sebuah batu berlubang dengan air didalamnya menarik perhatian gue. Gue pun mulai bertanya, “Ini apa bu?”. Si ibu yang ramah ini pun menjelaskan bahwa itu adalah mata air Parahyangan Somaka Giri. Mata air ini secara historis telah dipercaya oleh rakyat di daerah tersebut sebagai berkat dengan kekuatan magis yang kuat untuk penyembuhan penyakit. Karena lokasinya di tanah tinggi (di atas bukit), fenomena alam ini dianggap orang suci dan lokal diyakini itu menjadi air suci.

“Ini mata air suci. Karena muncul di bukit karst, yang seharusnya tak ada mata air. Dipercaya, untuk penyembuhan. Mauuu…??” Jelasnya.  “Boleh deh bu…” jawab gue.

Jujur, gue selalu antusias kalo disuruh nyobain sumber mata air, apalagi kalau dipercaya suci dan berkhasiat. hehehe…  Sebelumnya, gue sempat ke Bali dan mampir ke Tirta gangga, tempat Pemandian Raja Karangasem. Disini juga terdapat Sumber Mata air suci yang terletak dibawa pohon beringin tua yang berumur ratusan tahun. Atas ijin sang penjaga, gue pun meminumnya.

Sumber Mata Air Tirta Gangga,Karangasem.
Sumber Mata Air Tirta Gangga di Karangasem.

 Iyak..kembali ke GWK. Gue pun melepas sendal dan mulai duduk didepan mata air tersebut.

“Baca doa menurut kepercayaannya yah…” kata si Ibu.

Berhubung, gue muslim, gue pun membaca Al-Fatihah. Setelah doa beres,  gue mengadahkan kedua tangan gue, “Bismillah” ucap gue dalam hati. Si ibu pun menyipratkan air suci itu menggunakan semacam kumpulan lidi kecil ke kedua tangan gue. Gue langsung meminumnya sebanyak 3 kali, dilanjut membasuhkan air ke wajah gue sebanyak tiga kali juga. Tak ketinggalan, si ibu juga menyipratkan ke kepala gue. Baru kali ini gue punya pengalaman minum air suci dengan ritual seperti ini. Biasanya hanya baca doa, dan minum langsung dari tangan.

Mata Air keramat. Konon, dipercaya untuk penyembuhan...
Mata Air Parahyangan Somaka Giri. Konon, air suci ini dipercaya untuk penyembuhan…
Melantunkan Doa.
Melantunkan Doa.
Gue percaya beragam sumber mata air itu berasal dari pemberian Tuhan Yang maha Esa. Jadi sambil minum, kita juga berdoa memohon berkah dan ridho dari Tuhan. Barangkali bisa jodoh lagi ke Bali. Seperti doa yang pernah gue lantunkan di Karangasem dua tahun lalu, supaya diberi kesehatan,umur panjang, dan berjodoh kembali di Tanah Dewata. Dan benar, Alhamdulillah, sampai sekarang masih diberi kesehatan oleh Allah SWT dan kembali lagi ke Pulau Dewata. ^_^  
Gue bersyukur dan beruntung punya pengalaman mencicip air suci ini. Diantara banyak pengunjung, kok cuma gue yang dipanggil untuk mencicip, pasti atas restu Dewata Agung juga. Nah,berarti temen gue belum direstui, soalnya pas gue icip air suci, entah dimana teman-teman gue berada. Padahal, gue pengen minta difotoin.😦 Pas udah beres, baru pada keliatan. -_-“

IMG_4332

IMG_4325

Parahyangan Somaka Giri

Teluk Benoa dari kejauhan
Pemandangan Teluk Benoa dari kejauhan
Puas berkeliling GWK, kami pun lanjut merapatkan kendaraan kami ke Pura Luhur Uluwatu yang letaknya tak jauh dari sini. Saat hendak berangkat, teman gue sempet-sempetnya bertanya:
“Loe tadi minum air suci sambil minta Jodoh yah…??” tanyanya menyinyir…
“Mau Tahu aja…”😛
 

-Info-

Tiket masuk GWK: Rp40.000 / orang (turis lokal)

Pandawa, Surga Terselubung Di Balik Tebing Karst

Februari 2014

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Kembali ‘Temu Kangen’ dengan Pulau Dewata. Bali memang selalu menyimpan daya tarik yang tak pernah ada habisnya. Hmm…berhubung gue dan sahabat gue yang turut liburan kali ini agak bosan dengan pantai Kuta. Kita pun memutuskan untuk bergeser ke pantai lainnya. Dan kali ini, Pantai Pandawa di Desa Kutuh, yang terletak di bagian selatan Pulau Bali menjadi pilihan kami.  Pandawa kita pilih sekaligus ingin menjawab rasa penasaran kami, seperti apa sih pantai yang dulu sering disebut (secret beach)? yang katanya Kesohorannya mulai membayangi kepopuleran Kuta ini. Yup,,,menikmati Sunset di Pandawa sepertinya seru.

Bali is always kept that fascination never-ending. Hmm … since me and my friend a bit bored with the beach of Kuta. We decided to go to the other shore. And this time, Pandawa Beach in Kutuh village, which is located in the southern part of the island became our choice. We choose Pandawa, also wanted to answer our curiosity, what is look like, the beach which was often called (secret beach)? that began to be a rival the popularity of Kuta. Yup,,, enjoy Sunset in Pandavas seemed exciting.

IMG_4542

Perjalanan kami pun dimulai dari Kuta, tempat kami menginap. Pantai ini bisa ditempuh hanya sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, menuju arah Uluwatu. Dulu, pantai ini tak banyak diketahui karena memiliki akses yang sulit karena lokasinya tepat dibalik perbukitan. Tapi kini, akses pejalanan sudah mudah. Bagaimana tidak? kini tebing karts yang menutupi keberadaan pantai ini, telah dibelah dan membuka jalan bagi kendaraan yang ingin menuju ke pandawa.

Our journey began from Kuta, where we were staying. This beach can be reached only about 1 hour drive from Ngurah Rai Airport, heading towards Uluwatu. In the past, this beach is not widely known because of difficult access due to its location right behind the hills. But now,’s journey has been easy to access. now karts cliff hass been cut and paved the way for vehicles that want to go to the Pandawa.

IMG_4544

Perjalanan Menuju Pantai Pandawa

Setelah lebih dari 1 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di gerbang Pantai Pandawa. Tebing karst nan kokoh yang terbelah menjadi pintunya. Pemandangan ini pun begitu unik dan menarik. “Wow, gokil, tebing dibelah beginih!” seru kawan gue terkagum. Siang itu, beberapa wisatawan nampak menghentikan kendaraan mereka  sejenak untuk menikmati Pemandangan pantai dan laut dari ketinggian.

After more than 1 hour drive, we finally arrived at the gates of Pandawa Beach. Karst cliffs are split into gate. This view is so unique. Some tourists stop they vehicle for a moment to enjoy the beach and sea views from the heights.

Tebing yang terbelah menjadi pintu asuk menuju Pandawa

Tebing yang terbelah menjadi Pintu Masuk Menuju Pandawa

Banyak turis asing yang merapat kesini...

Banyak turis asing yang merapat kesini…

IMG_4584

Pantai Pandawa dari sisi Tebing

Pantai Pandawa dari sisi Tebing

Usai menikmati laut dari sisi tebing, kami melanjutkan kendaraan kami menuruni tebing menuju Pantai yang jaraknya tinggal 3 menit berkendara saja.

After enjoying the sea from the cliff side, we continue our vehicle down the cliff to the beach that were located only a 3 minute drive.

Menuruni Tebing menuju Pantai...

Menuruni Tebing menuju Pantai…

Perjalanan menuruni tebing pun menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya, sepanjang dinding tebing nampak beberapa patung besar Pandawa dari cerita Mahabarata (Yudhistira, Bima, Nakula, dan sebagainya). Patung berukuran besar ini begitu cantik, dan berdiri kokoh di dinding tebing karst ini. Beberapa wisatawan pun terlihat asik berfoto disini.

The trip down the cliff into an interesting sight. Along the cliff walls appear several large sculptures Pandavas of the Mahabharata (Yudhishthira, Bhima, Nakula, and so on). This large statue is so beautiful, and stands firmly in the karst cliff wall. Some tourists were seen taking pictures here.

Patung-patung besar Pandawa Lima dari kisah Mahabarata terpahat di dinding Tebing

Patung-patung besar Pandawa Lima dari kisah Mahabarata terpahat di dinding Tebing

beberapa wisatawan berfoto di depan patung...

beberapa wisatawan berfoto di depan patung…

Patung-patung ini menemani perjalanan menuju Pantai...

Patung-patung ini menemani perjalanan menuju Pantai…

Welcome to Pandawa Beach...

Welcome to Pandawa Beach…

Yeahhh…!! kami pun tiba di Pantai Pandawa. Aroma laut begitu menyegarkan. Hamparan pasir putih nan halus selaras dengan lautnya yang biru bergradasi biru tua hingga biru muda. Indah. Bebas sampah tidak seperti Kuta. Tapi, berhubung saat itu hari Minggu (hari libur), alhasil nampak banyak wisatawan yang berkunjung. Tapi, jika anda datang di hari biasa pasti akan lebih sepi. Meski begitu, tak mengurangi kenikmatan berlibur kami, karena Pandawa memang masih belum banyak yang singgah. Not to crowded lahhhh…

Yeahhh …!! we arrived at Pandawa Beach. The scent of the ocean, so refreshing. A fine stretch of white sand in accordance with the blue sea. Beautiful. Free from rubbish not like Kuta. But, as we came in on the Sunday (day off), many tourists who visit. But, if you come on a normal day would more quite. Even so, its not reduce the enjoyment of our holiday, because Pandawa is still not much to come. Not to crowded..

IMG_4638

Payung-payung dan kursi panjang untuk berjemur dan bersantai, berderet rapih sepanjang pantai. Siang itu, wisatawan begitu menikmati waktu mereka. Ada yang memilih bersendagurau dengan keluarga dan teman-teman, ada yang bermain pasir pantai, bersantai di kursi sambil membaca, berjalan kaki di sepanjang pantai, dan  tentu saja berenang menikmati ombak yang ramah. Beberapa turis asing juga nampak asik berjemur di terik matahari Pandawa. Untuk menyewa payung-payung ini anda cukup merogoh kocek Rp50 ribu (2 kursi panjang + 1 payung)  dan anda bisa menggunakannya bebas sepanjang waktu hingga matahari terbenam.

Umbrellas and long chairs for sunbathing and relaxing, lined up neatly along the coast. That afternoon, many tourists enjoy their time. There they were playing sand beach, relaxing in a chair and reading, walking along the beach, and of course enjoy a swim with a friendly waves. Some foreign tourists were seen basking in the sun. To rent the umbrellas you simply spend 50 thousand rupiahs (2 + 1 lounger umbrellas) and you can use it free all the time until sunset.

deretan payung disediakan, bagi anda yang ingin bersantai....

deretan payung disediakan, bagi anda yang ingin bersantai….

IMG_4648

Enjoying The Beauty of Pandawa

Enjoying The Beauty of Pandawa

IMG_4660

Jagung bakarr...jagung bakar...

Jagung bakarr…jagung bakar…

Bagi anda yang lapar tersedia deretan warung makan yang siap melayani anda. Lapar,,,tinggal pesan nasi goreng, bakso, ayam goreng, mie goreng, mie rebus, jagung bakar, dan lainnya. Atau haus, bisa menyeruput es kelapa muda, soft drink, dan lainnya. Para penjual juga siap mengantar makanan ke payung anda.

Here also there is a row of food stalls are ready to serve you if hungry come. there are fried rice, meatballs, fried chicken, fried noodles, boiled noodles, grilled corn, and more. you can also drink coconut ice, soft drinks, and more. The seller is ready to deliver food where you sit.

Deretan warung makan..

Deretan warung makan..

Kemanapun pergi...indomi selalu di hati..:D

Kemanapun pergi…indomi selalu di hati..:D

 

IMG_4706

Seru-seruan dengan Kano

Seru-seruan dengan Kano

Disini, terdapat beberapa Perahu Kano yang ditawarkan oleh penduduk setempat untuk disewa. Dengan Rp20 ribu/ jam, anda bisa menyewa kano dan bermain di laut. Anda bisa mendayung sendiri berkeliling, atau bisa juga didayung oleh abang yang menyewakan.

Here, there are several Canoeing offered by locals to be hired. With Rp20 thousand / hour, you can rent a canoe and play in the sea. You can paddle yourself around, or it could be rowed by tenants.

IMG_4758

tongsis tetep eksis..

tongsis tetep eksis..

Sunset @ Pandawa

Sunset @ Pandawa

Sunset pun akhirnya tiba. Matahari mulai pelan-pelan bersembunyi dibalik tebing. Menariknya, air laut yang mulai surut, membuat hamparan rumput laut yang berada di sepanjang pesisir mulai menampakan dirinya.  Dahulu, sebelum dibuka untuk umum, pantai ini memang sempat dimanfaatkan warga untuk budidaya rumput laut. Namun, sejak 2012, telah difokuskan menjadi pantai wisata. Kehadiran rumput laut ini pun menjadi pemandangan yang unik bagi pengunjung.

Sunset was finally arrives. The sun is hiding plans flipped cliff. Interestingly, the waters began to recede, making seaweed along the coast are beginning to emerge. First, before opening to the public, this beach is used by the citizens for the cultivation of seaweed. However, since 2012, has focused on a tourist beach. The presence of sea grass is already a unique view of the visitors.

Laut mulai surut...Rumput laut mulai tampak..

Laut mulai surut…Rumput laut mulai tampak..

IMG_4825

IMG_4787

IMG_4806

Lovely Pandawa Sunset...

Lovely Pandawa Sunset…

Warna langit keemasan dari Pantai Pandawa menjadi penutup pengalaman seru kami disini. Pandawa, kecantikan tersembunyi di Selatan Bali. Jadi, bagi anda yang agak bosan dengan pantai Kuta yang ramai dan ingin menikmati keindahan pantai yang tak jauh dari pusat Kuta, Pandawa bisa menjadi pilihan yang tepat. ^_^

The golden sky of Pandawa Beach became our close call experience here. Pandawa, the hidden beauty in the South of Bali. So, for you are quite bored of Kuta beach and want to enjoy the beauty of the beach not far from the center of Kuta, Pandawa could be the right choice.

_Info_

– Perjalanan menuju Pandawa hanya sekitar 1 jam berkendara dari Bandara Ngurah Rai menuju arah Uluwatu.

– Tiket masuk ke pantai hanya Rp3000 perorang.

– Sebelum menikmati sunset di Pandawa, anda bisa mampir ke Garuda Wisnu Kencana dan Uluwatu Temple yang satu jalur menuju Pandawa.

– Travel to the Pandavas only about 1 hour drive from Ngurah Rai Airport heading towards Uluwatu.

– The ticket to entrance to the beach just 3000 rupiahs / person.

– Before enjoying the sunset at the Pandavas, you can stop by the Garuda Wisnu Kencana and Uluwatu Temple is one path to the Pandavas.

Menembus Kegelapan Goa Batu Cermin (NTT)

Nusa Tenggara Timur (NTT)

_September 2013_

Siap Menjelajahi Gua Batu Cermin, Desa Wae Sambi, Labuan Bajo, NTT

Siap Menjelajahi Gua Batu Cermin, Desa Wae Sambi, Labuan Bajo, NTT

Akhirnya saya menginjakkan kaki di ‘Tanah Manggarai’. Sebelum menyeberang ke Pulau Komodo di keesokan harinya, saya penasaran ingin mengeksplor daratan Labuan Bajo. Menurut penduduk setempat, “Goa Batu Cermin” bisa menjadi pilihan yang menarik. Letaknya pun cukup dekat, yakni di Desa Wae Sambi yang hanya sekitar 4 kilometer dari Pusat Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

berJalan kaki menuju mulut goa

berJalan kaki menuju mulut goa

Welcome To Batu Cermin, Mirror Stone Cave, tulisan besar ini menyambut saya dan rombongan lainnya sesampainya di pintu masuk lokasi wisata. Saya pun semakin penasaran seperti apa sih batu cermin itu?. Tapi untuk menjelajahinya, anda wajib didampingi para pemandu lokal agar tidak tersesat. Cukup merogoh kocek Rp10 ribu untuk tiket masuk dan tambahan Rp10 ribu/orang untuk jasa pemandu. Fatir, 25 dan Sipri, 19, rangers lokal Wae Sambi menemani saya dan beberapa rekan serombongan saya dari Jakarta. Ya, untuk menjelajah, memang dibatasi hanya sekitar 10-15 orang/rombongan. Demi keamanan dan kenyamanan, katanya.

Peralatan wajib : Helm goa dan Senter.

Peralatan wajib : Helm dan Senter.

Sebelumnya, masing-masing dari kami diberikan helm dan senter oleh Fatir. Helm gunanya untuk menghindari kepala dari stalaktit dan senter tentunya untuk membantu penglihatan kami saat didalam goa nanti. Kami pun lanjut berjalan sekitar 15 menit menuju Mulut Goa. Sesampainya kami di mulut gua, Sipri mengumpulkan kami, dan menjelaskan sejarah Goa Batu Cermin ini.

Berkumpul di Mulut Gua Batu Cermin

Berkumpul di Mulut Goa Batu Cermin

Jadi, di tahun 1951, seorang Pastor yang juga arkeolog bernama Theodore Verhoven menemukan goa ini. Kemudian, di tahun 1986 akhirnya dibuka untuk wisata umum hingga saat ini.  Sayangnya, lokasi wisata seluas 19 hektar ini belum banyak yang mengenalnya. Kebanyakan yang datang justru wisatawan mancanegara dari Eropa.

Sipri menceritakan sejarah gua.

Sipri menceritakan sejarah goa.

Komodo 065

Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Sipri, kami melanjutkan perjalanan. Sejenak kami menelusuri bebatuan, dan juga sebuah tangga yang baru dibangun beberapa tahun lalu, hingga akhirnya sampai di mulut Goa sungguhan.

Menapaki anak tangga memasuki bagian dalam goa.

Menapaki anak tangga memasuki bagian dalam goa.

Komodo 075

Komodo 077

Dari luar, saya melihat goa itu begitu gelap dan sempit. Kami semua menyalakan senter masing-masing, didampingi pemandu, satu persatu kami memasuki sela-sela goa yang super gelap itu.

Helm siap! senter siap! siappp menembus kegelapan Goa Batu Cermin!

Helm siap! senter siap! siappp menembus kegelapan Goa Batu Cermin!

Tantangan pun dimulai, diawal perjalanan kami harus menunduk sejauh dua meter, kemudian kembali menelusuri sela dinding-dinding gua, dan kembali harus jalan menunduk sejauh lima meter. Sesekali, “PRAKK!!” Bunyi helm membentur stalaktit diatas kami. “Untung pake helm! Ucap Diding, 29, salah satu pengunjung yang barusan terbentur stalaktit.

Semakin dalam, semakin menunduk, semakin merangkak :p

Semakin dalam, semakin menunduk, semakin merangkak :p

Semakin dalam,semakin menantang...Semangatt!!

Semakin dalam,semakin menantang…Semangatt!!

Beberapa menit berjalan, kami menelusuri lorong goa. Kemilau stalaktit yang cantik dan unik disuguhkan. Semakin menelusup kedalam gua, perjalanan semakin menantang.

Kemilau Stalakmit

Kemilau Stalakmit

Asik memotret di dinding dan langit goa.

Asik memotret di dinding dan langit goa.

Kegelapan terus menyelimuti kami, dan hanya cahaya senter kecil yang menjadi penerang kami. Kami pun harus jalan jongkok dan merangkak sesekali. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah ruangan goa yang cukup besar. Ruangan ini hanya setinggi 3 meter,sehingga kami bisa menyentuh dindingnya.

Fosil Penyu di langit goa.

Fosil Penyu di langit goa.

Fatir menunjukkan sebuah fosil penyu yang menempel di langit goa. “ribuan tahun lalu daratan dan gua ini berada di bawah permukaan laut,” katanya.

Semakin diperkuat dengan lubang-lubang yang memenuhi dinding langit ruangan gua yang tercipta akibat arus laut dan penemuan fosil ikan di dinding gua bagian luar yang juga kami temui.

Gelap total, hanya bermodal cahaya senter.

Gelap total, hanya bermodal cahaya senter.

Puas melihat fosil penyu, kami kembali melanjutkan perjalanan menelusuri goa. Menariknya, kami pun sempat menemui batuan bercahaya yang menempel didinding yang bentuknya seperti “Bunda Maria”.

Batu ini begitu bercahaya dibandingkan yang lain, dan kalau diperhatikan seksama, bentuknya seperti Bunda Maria.

Batu ini begitu bercahaya dibandingkan yang lain, dan kalau diperhatikan seksama, bentuknya seperti Bunda Maria.

Terus berlanjut, hingga akhirnya kami tiba di titik Batu Cermin. Jangan membayangkan ada batu seperti kaca cermin disini. Jadi kami ada di sela dinding gua, dimana bagian atas gua ada lubang kecil tempat cahaya masuk.

Lubang Di langit goa.

Lubang Di langit goa.

Jadi, jelas, Fatir, Batu Cermin merupakan fenomena yang terjadi di waktu tertentu. Sekitar pukul 9 pagi hingga 12 siang, cahaya akan masuk dari lubang dengan kemiringan tertentu, memantul kedalam direfleksikan oleh dinding gua sehingga akan terang benderang. Jika terjadi saat musim hujan, dan terdapat genangan air dibawah lantai gua, akan terpantul sempurna seperti cermin. Sayangnya, kami tak sempat melihat fernomena langka ini, karena memang langka terjadi.

Fosil ikan purba yang ditemukan di dinding Goa

Fosil ikan purba yang ditemukan di dinding Goa

Berkeliling bagian luar Goa. Kalau dilihat2 batu ini seperti weajah manusia.

Berkeliling bagian luar Goa. Kalau dilihat2 batu ini seperti wajah manusia.

Beringin tua yang menyelimuti bagian luar goa hingga akarnya menembus bagian dalam goa.

Beringin tua yang menyelimuti bagian luar goa hingga akarnya menembus bagian dalam goa.

Namun, kekecewaan kami cepat sirna, karena kami terus menemui pemandangan unik dan langka dalam perjalanan selama 30 menit ini. Medan penelusuran pun masih tergolong tidak terlalu ekstrem, sehingga anda bisa mengajak keluarga atau anak-anak kesini. Jika ingin sensasi yang lebih optimal,anda bisa meminta pemandu mengantarkan anda ke puncak goa. Disana, anda bisa melihat pemandangan Desa dan laut dari ketinggian. Tentu,ada tambahan ongkos untuk pemandunya.

Komodo 118

Ya, meskipun kami tidak bisa melihat perwujudan fenomena cermin tersebut, namun perjalanan menelusuri Gua ini, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

_info_

– tiket masuk: lokal Rp10 ribu/orang

mancanegara Rp20 ribu/orang

– biaya pemandu: Rp10 ribu/orang

-sebaiknya memakai sepatu kets.

buka: 7 pagi -5 sore.

Bersantap & Menari Bersama Di Horom Sasadu (Jailolo)

Mei 2013

“Yar pidang sijoun duang duang bolonyang? (Apakah makanannya telah siap?) ?” ungkap Thomas Salasa, Kepala Adat Suku Sahu berseru.

“Duang duang! (sudah siap)” jawab ibu-ibu.

HOROM SASADU

HOROM SASADU

Inilah seruan khas, saat hendak memulai upacara Makan Adat Horom sasadu.  Teluk Jailolo, tak hanya memiliki panorama alam yang indah. Namun, terdapat beragam adat budaya yang menarik. Salah-satunya, upacara makan adat yang khas, yakni Horom Sasadu yang didadakan di Rumah Adat Sasadu Desa Gamtala, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Sasadu, Rumah Adat Suku Sahu di Desa Gamtala

Sasadu, Rumah Adat Suku Sahu di Desa Gamtala

Saat berkunjung kesini, kami pun tak mau melewatkan upacara adat makan yang masuk dalam rangkaian Festival Teluk Jailolo 2013 ini. Sebelum memasuki rangkaian pesta makan adat, terlebih dahulu kedatangan kami disambut dengan tarian adat yang ditarikan anak-anak desa ini.

Tarian Soya-soya menyambut para tamu

Tarian Soya-soya menyambut para tamu

jailolo 291

Horom Sasadu sendiri berasal dari kata Horom yang berarti Makan dan Sasadu yakni Rumah Adat. Sebelum agama masuk,masyarakat disini dulu memuja Dewa kesuburan dan alam. Dan saat panen berlimpah, mereka akan mengadakan pesta makan adat untuk merayakannya. Dahulu, pesta diadakan selama sembilan hari sembilan malam. Namun, seiring waktu, semakin berkurang, terkadang 3 hari 3 malam atau semalam. Semua sajian dimakan berhari-hari, bermalam-malam, tanpa pernah kekenyangan. Dalam setahun, makan adat digelar dua kali.

jailolo 012

Tentu saja, kami pun tidak mau melewatkan sajian khas dari upacara makan adat ini. Nasi Kembar, menjadi menu santapan wajib yang harus ada di acara ini. Sekilas, tampilannya mirip dengan lontong. Nasi ini dimasak dengan cara dibakar dalam bambu.

Nasi Kembar

Nasi Kembar

Dinamakan kembar karena nasi ini dibungkus dengan gulungan pelepah pisang yang membentuk dua selongsong nasi. Nah, untuk teman bersantap, ada sayur sop, ikan tongkol pedas, balado teri kacang, dan lainnya. Usai berdoa, kami semua pun langsung melahap makanan yang disajikan. Menariknya, meja makan beralaskan daun pisang yang melambangkan kesuburan dari tanah desa ini. Sementara, meja para tamu yang berada ditengah beralas kain putih. Meski terlihat sederhana, namun rasa dari masakannya begitu lezat, dan rasa kekeluargaan dan kebersamaan membuat semakin nikmat.

Kepala Adat Suku Sahu membuka acara

Kepala Adat Suku Sahu membuka acara

Berdoa sebelum makan

Berdoa sebelum makan

Sebelum memulai acara, Kepala Adat Sahu membuka acara dengan bahasa adat setempat. Doa pun dilantunkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada para nenek moyang demi kelancaran acara adat ini.

Pesta Makan Adat Horom Sasadu pun dimulai

Pesta Makan Adat Horom Sasadu pun dimulai

Sensasi bersantap semakin nikmat karena kami langsung bersantap dibawah atap Rumah Adat Suku Sahu, Sasadu. Sasadu yang menjadi berdiri di atas beberapa tiang kayu, tak berdinding, dan beratapkan daun sagu. Meja makan antara pria dan perempuan dipisah di sisi kanan dan kiri Sasadu. Sementara para tamu berada di tengah.

jailolo 303

Tak ketinggalan, disela-sela acara makan, tifa sepanjang 4 meter, alat musik khas Jailolo dimainkan diiringi pula dengan gong dan Kube (alat musik dari pelepah sagu) sambil masyarakatnya menarikan tarian khas Legu Salai.

Tifa pun dibunyikan mengiringi pesta

Tifa pun dibunyikan mengiringi pesta

jailolo 329

Usai bersantap, para tamu diajak menari diiringi alunak musik tifa yang energik.

Usai bersantap, para tamu diajak menari diiringi alunak musik tifa yang energik.

Membuat acara santap semakin nikmat. Selain itu, anda pun harus mencicip minuman wajib acara makan adat ini, yakni saguer atau yang populer disebut arak cap tikus. Disaat para penduduk Suku Sahu menuangkan anda Saguer,wajib bagi anda untuk mencicipi. Karena ini merupakan bentuk simbol bahwa anda telah diterima di Sasadu oleh Suku Sahu. Dan untuk para muslim, boleh menolak saguer. Sebagai gantinya, penduduk akan menawarkan air tape, yang lebih halal.

Kepala adat menawarkan Saguer ke para tamu yang hadir.

Kepala adat menawarkan Saguer ke para tamu yang hadir.

Berdansa bersama Kepala Adat

Berdansa bersama Kepala Adat

Berfoto bersama , kenang-kenangan sebelum berpisah ^_^

Berfoto bersama , kenang-kenangan sebelum berpisah ^_^

UJI NYALI DENGAN SABETA

Sabeta alias ulat sagu bakar

Sabeta alias ulat sagu bakar

Wilayah Indonesia bagian Timur memang memiliki beragam kuliner yang khas. Saat kami berkunjung ke Jailolo, Halmahera Barat pun kami tak mau melewatkan sajian unik dari daerah ini. Sabeta alias ulat sagu menjadi kudapan kami kali ini. Ya, tak hanya di Papua saja, di Jailolo pun, masyarakatnya terkadang menyantap Sabeta ini.

Untuk menyantapnya, erlu bekeranian tersendiri. Pasalnya, tampilan ulat sagu yang berwarna putih, berukuran jempol, dan meliuk-liuk saat bergerak tentu membuat sebagian orang merinding. Tapi jangan salah, jika anda pintar meraciknya, akan menjadi sajian yang lezat.

jailolo 403

Seperti yang dilakukan beberapa pekerja kebun di Desa Susupu, Jailolo, Halmahera Barat. Mereka menangkap ulat sagu dari batang-batang pohon sagu yang ada disekitarnya. Biasanya, saat tidak dapat tangkapan ikan dilaut, masyarakat akan mencari ulat sagu untuk alternatif makanan mereka. Disini, ulat sagu ditusukkan ke salam tusuk sate. Sebelum dibakar terlebih dahulu diolesi bumbu dari perasan jeruk untuk menghilangkan amis.

jailolo 406jailolo 409jailolo 410

Yang menjadi pembeda sajian ulat sagu daerah lain dengan ala Jailolo, adalah, ulat sagu disajikan bersama dengan sambal colo-colo. Yakni, sambal yang dibuat dari potongan bawang, cabe, tomat, yang diberi perasan jeruk limo dan sedikit gula dan garam. Perpaduan sabeta yang gurih dengan dijamin bisa membuat anda ketagihan. Bisa juga disantap dengan pisang bakar. Sementara, jika dimakan mentah, akan terasa tawar dan asam.

Jiaaa...ada yang ketagihan...:D

Jiaaa…ada yang ketagihan…:D

Jangan salah, meski tampilannya sedikit ekstrim, namun ulat sagu ternyata memiliki kandungan yang baik untuk tubuh.  Kandungan protein ulat sagu sekitar 9,34%. Selain kandungan protein yang cukup tinggi, ulat sagu juga mengandung beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%). Tempat hidupnya di dalam batang ulat sagu, membuat ia hanya mengkonsumsi bagian dalam sagu, dan jauh dari kontaminasi kotoran luar. Berani mencoba?

MULU BEBE & GOROKA

Kami pun tak mau melewatkan kudapan Pisang Mulu Bebe khas Jailolo. Mulu Bebe, merupakan salah-satu jenis pisang khas di daerah ini. Mulu Bebe berasal dari kata Mulu (Mulut) Bebe (Bebek). Dinamakan ini, karena bentuknya yang memeanjang seperti mulut bebek.

Pisang Mulu Bebe

Pisang Mulu Bebe

Pisang ini biasanya disajikan dengan digoreng langsung tanpa tepung. Pisang diambil yang setengah matang. Kemudia, diiris memanjang tipis, diberi bumbu khas. Kemudia digoreng hingga renyah. Menariknya, pisang mulu bebe ini disajikan dengan sambal segar khas timur. Anda cukup mencocol dengan sambal dan melahapnya selagi hangat. Rasany begitu lezat gurih, dengan sensasi pedas dari sambalnya.

Semakin nikmat lagi dengan minuman pendampingnya, yakni goroka. Minuman ini terbuat dari air rebusan jahe panas dan diberi butiran kacang kenari yang telah ditumbuh halus diatasnya. Rasanya begitu hangat dan segar.

Goroka

Goroka

Kolaborasi pisang mulu bebe dan goroka ini paling pas untuk disantap malam hari. Seperti yang kami lakukan kali ini, bersantap pisang mulu bebe disebuah warung dipinggir teluk Jailolo. Ditemani pemandangan laut dimalam hari, deburan ombak dan angin laut yang menyejukkan. Tak ketinggalan, kami juga mencoba Papare. Makanan ringan dari singkong yang direbus bersama tepung singkong, dihaluskan diberi mentega, santan dan gula. dibentuk, kemudian diberi isian parutan kelapa. Rasanya juga tak kalah gurih dan lezat. Pisang mulu bebe ini pun juga terkadang disajikan dalam bentuk keripik, yang cocok untuk oleh-oleh.

 

NASI KUNING IKAN KHAS TERNATE

Nasi Kuning Ikan

Nasi Kuning Ikan

Bagi anda yang hendak menyeberang Jailolo dari Ternate, namun ingin berburu sarapan khas Ternate terlebih dahulu. Nasi Kuning Ikan bisa menjadi pilihan tepat sarapan anda. Anda bisa menemuinya, salah-satunya di Rumah Makan Al Hikmah yang terletak di Jalan Ais Nasution No.26, Ternate.  Disini, anda bisa mencicipi sajian nasi Kuning yang lezat. Berbeda dengan nasi kunig pada umumya, disini memiliki lauk-lauk pedamping yang  spesial.

Antara lain, ikan tongkol yang dimasak manis dengan gula merah sebagai bahan utamanya. Adapula singkong yang diiris kecil-kecil dan digoreng kering dengan bunmbu yang manis, telur rebus, ayam bakar dan lauk lainnya . Jika ingin lauk berisi Ikan tongkol dan telur hanya dibanderol Rp16 ribu. Sementara, dengan isian lauk ayam Rp25 ribu.

Explore The Sunrise of Java (Banyuwangi)

Pulau Merah Nan Eksotis

Mei 2013

Pulau Merah

Pulau Merah

Kegagahan bukit Pulau Merah menjadi latar penampilan para perselancar dunia pagi itu. Puluhan surfer dari 20 negara terlihat asik berlaga diatas gulungan ombak di Pantai Pulau Merah yang terletak di Desa Sumberagung Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur itu. “Red Island Banyuwangi International Surfing Competition” digelar 24-26 Mei lalu. Bagi anda yang bosan berselancar atau bersantai di Pantai Kuta,  pantai Pulau Merah bisa menjadi pilihan yang tepat.

banyuwangi 053

banyuwangi 076

Selama ini, Pantai Plengkung atau yang populer disebut G-Land memang dikenal sebagai lokasi Terfavorit di Banyuwangi bagi pecinta surfing dunia. Namun, Pulau Merah yang selama ini tersembunyi juga memiliki daya tarik yang tak kalah dengan G-Land.

banyuwangi 057

banyuwangi 058

banyuwangi 059

Banyuwangi, memang menyimpan potensi alam dan wisata yang mengaggumkan. Salah-satunya, Pulau Merah. Ya, Mutiara yang terpendam, banyak perselancar menyebut Pantai Pulau Merah bagaikan Pantai Kuta di era 80an. Masih virgin, jauh dari keramaian, dengan pasir pantai nan halus, dan tentu saja ombak yang menyenangkan untuk para surfer. Sayangnya, belum banyak yang mengetahuinya tempat cantik ini.

banyuwangi 051

“Aku penasaran dengan Pulau Merah dan berangkat dari Bali. Ternyata ombak disini bagus, dan pemandangan Pulau Merah ini begitu indah, sangat menyenangkan, masyarakatnya pun ramah,“ ungkap Regan Green, 21, perselancar asal New Zealand yang mengaku begitu terpesona dengan Pulau Merah.

banyuwangi 167

Tak hanya menikmati keindahan pantai Pulau Merah dan keseruan para perselancar yang berlaga diatas ombak. Kami tak ketinggalan menikmati atraksi kesenian khas Banyuwangi yang disajikan disini. Salah-satunya, penampilan anak-anak yang memainkan tarian Jaranan Buto Cilik.

banyuwangi 064

banyuwangi 115

Buto Cilik

Buto Cilik

banyuwangi 139

banyuwangi 119

banyuwangi 117

banyuwangi 155

banyuwangi 163

Pantai Pulau Merah berjarak 60 kilometer dari Kota Banyuwangi. Akses jalan sangat baik. Tersedia puluhan homestay yang bisa anda sewa dengan harga hanya Rp100 ribu hingga Rp150 ribu permalam.

Plengkung, Dasyatnya Raja Ombak Dunia

G-land aka Plengkung Waves  (dok.g-land bobby's Surf Camp)

G-land aka Plengkung Waves (dok.g-land bobby’s Surf Camp)

Hawaii sering disebut-sebut sebagai surganya para perselancar dunia. Namun, siapa sangka Indonesia pun ternyata memiliki surga selancar yang tersembunyi diujung selatan Banyuwangi. Orang lokal menyebutnya Pantai Plengkung, tak banyak masyarakat Tanah Air yang mengetahui tempat ini. Tapi bagi perselancar dunia, pantai yang berada di Taman Nasional Alas Purwo ini begitu populer dan mereka menyebutnya G-Land.

Bagi para perselancar dunia, ombak Plengkung mendapatkan predikat Ombak Terpanjang (terkonsisten) nomor 1 di Dunia. Bisa mencapai panjang 2 kilometer dalam formasi 7 gelombang bersusun. Sementara, untuk Terbesar dan Tertinggi, menempati urutan Kedua setelah Hawaii dengan tinggi mampu mencapai 5-6 meter. Jika anda parqa pecinta selancar ingin merasakan sensasi Maha Dasyat Dari Ombak di ujung Selatan Banyuwangi ini, anda bisa datang dalam musim ombak besar dibulan Juni-Juli.

Penasaran, kami pun memutuskan untuk mengintip Pantai Plengkung alias G-Land ini. Kami berangkat dari Pulau Merah, dan memakan waktu sekitar 3 jam berkendaran.

Menelusuri Hutan Alas Purwo menuju Pantai Plengkung

Menelusuri Hutan Alas Purwo menuju Pantai Plengkung

Namun, saat mencapai pantai Pancur, kami masih harus mengganti kendaraan offroad. Maklum pantai Plengkung berada ditengah hutan Alas Purwo, dan medannya cukup menantang untuk menembus hutan tersebut. Kebanyakan perselancar yang datang kesini mengambil rute terdekat dari bali. Menggunakan kapal dari bali selama dua jam, langsung berlabuh di depan pantai plengkung.

Karena medannya yang menantang, dari pantai Pancur hingga Plengkung kami harus Berganti mobil offroad.

Karena medannya yang menantang, dari pantai Pancur hingga Plengkung kami harus Berganti mobil offroad.

Siapa sangka di daerah yang terbilang terpelosok ini, kami justru menemui tiga hotel mewah bergaya cottages disini. Salah-satunya, Hotel G-Land Bobby’s Surf Camp yang menjadi hotel pertama di pantai ini.  Dan disini, memiliki fasilitas yang super lengkap dan kamar-kamar yang nyaman. Tapi disini, tarifnya dolar loh.

Hotel Pertama yang ada di Plengkung. Ada sejak tahun 80an.

Hotel Pertama yang ada di Plengkung. Ada sejak tahun 1976.

banyuwangi 276

Saat berkunjung, kami menemui tamu yang seluruhnya merupakan perselancar dari luar negeri. Kami pun, berkesempatan berbincang dengan para perselancar ini. Kami menemui Gualgirmi, 24, perselancar asal Brazil. Ia memang baru pertama menjajal papan seluncurnya di laut Plengkung. Namun, perselancar yang juga berprofesi sebagai Enginering di Brazil ini begitu jatuh cinta dengan G-Land. Selain karena ombaknya yang mengagumkan, lokasinya yang terletak ditengah Hutan menjadi daya tarik tersendiri.

“Ombaknya mengaggumkan, saya pernah ke Mentawai, Bali, tapi inilah yang Terbaik. Lokasi ditengah hutan, tidak ramai. Jelas, lokasi ini sangat recomended,” ungkap Gualgirmi.

Tempat ini memang membuat para peselancar dunia ketagihan. Kami menemui Kimbo, 57, perselancar asal Australia yang mengaku telah 30 kali mengunjungi G-Land dan ia tak pernah bosan. Ya, sejak terekspos dunia di tahun 70an, banyak perselancar profesional dunia telah mencicipi kedasyatan gulungan ombak Plengkung ini hingga saat ini. Seperti perselancar profesional asal Amerika Serikat Kelly Slater dan Gerry Lopez, Peter McCabe (Australia), dan lainnya.

Keelokan Hutan Mangrove Bedul

Hutan Mangrove Bedul

Hutan Mangrove Bedul

Tak hanya G-Land, Hutan Alas Purwo pun memiliki hutan Mangrove Terbesar Di Pulau Jawa yang terletak di Desa Sumber Asri Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Lokasi ini berjarak 50 kilometer dari Kota Banyuwangi atau sekitar dua jam berkendara.

banyuwangi 170

Anda bisa menelusuri teluk memanjang Segoro Anak dengan menggunakan kapal dan menikmati keelokan hutan magrove ini. Di hutan mangrove alami seluas 1200 hektar ini, anda bisa menemui 26 jenis dari 16 family Mangrove. Terdapat pula, aneka fauna didalamnya yang bisa anda temui. Jika Anda menelusuri kearah Barat menuju Cungur, aneka jenis burung migran siap menyapa anda.

banyuwangi 258

banyuwangi 195

menelusuri Segoro Anak

menelusuri Segoro Anak

Nah, bagi anda yang tidak memiliki banyak waktu namun ingin melihat nuansa pantai Selatan. Anda hanya cukup, menyebrang  dengan kapal selama 15 menit dari Dermaga Bedul, keseberang sisinya. Anda hanya perlu merogoh kocek R7000 perorang saja.

asik neduh dibawah magrove

Asik neduh dibawah mangrove

 

Anda akan langsung disambut dengan segerombolan monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis).  Pengunjung bisa bebas melihat dan beinteraksi dengan monyet-monyet yang memang dibiarkan bebas dialamnya ini.

banyuwangi 235

 

banyuwangi 240

 

banyuwangi 251

 

banyuwangi 239

 

berjalan menuju Pantai Selatan

berjalan menuju Pantai Selatan

Anda bisa pula memberi makan, tapi harus berhati-hati agar tak dikejar-kejar. Setelah puas bermain dengan monyet, anda bvisa meneruskan perjalanan hanya 15 menit, menuju Pantai Selatan melewati rimbunnya hutan tropis.

 

Mengintip Penyu Di Ngagelan

banyuwangi 203

Kami begitu menikmati menelusuri Hutan Mangrove Bedul, selama 1 jam dengan kapal menuju kearah Timur. Namun, kali ini, titik finish kami adalah Pantai Ngagelan. Kami pun turun di pinggir hutan bakau, yang menjadi pintu masuk ke Pantai dan meneruskan perjalanan menembus hutan.

banyuwangi 226

banyuwangi 224

 

Misi kami berikutnya, ingin mengintip penyu-penyu yang bertelur disini. Hanya butuh waktu 30 menit berjalan-kaki, kami pun tiba di pantai.

Pantai Nagelan

Penangkaran Penyu di Pantai Nagelan

Ngagelan memiliki panjang bibir pantai yang landai sepanjang 20 kilometer. Disinilah, penyu-penyu biasa mampir untuk bertelur di pinggi pantai. Pantai ini menjadi favorit para penyu, karena disini juga terdapat empat jenis pasir pantai yang disukai para penyu.

banyuwangi 216

Kami bisa melihat beberapa penyu yang dipelihara di kolam-kolam khusus, untuk nantinya pada umur tertentu akan dilepas kembali ke laut . Telur-telur ini dipelihara dan dierami dengan sistem semi-alami. Setelah sekitar, 47 hari, penyu-penyu ini akan keluar dari telurnya dan berjalan menuju Laut.

Ratusan telur penyu dierami secara semi-alami

Ratusan telur penyu dierami secara semi-alami

 

banyuwangi 205

 

banyuwangi 199

Jika ingin melihat secara alami Penyu bertelur, anda harus menunggu hingga malam hari. Di pantai ini, setahun bisa terdapat 400 induk penyu yang bertelur. Kebanyakan adalah jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Juni, menjadi bulan dengan kedatangan penyu Terbanyak. Di bulan ini,  rata-rata terdapat 30 induk penyu perharinya yang mampir bertelur di sepanjang pantai.

banyuwangi 210

Selain, mengenal lebih dalam soal Penyu, anda juga bisa sejenak menikmati keindahan pantai dan deburan ombak yang atraktif. Jika beruntung, anda bisa melepas tukik-tukik yang dipelihara disini. Selain di Ngagelan, anda juga bisa menemuinya di Pantai Sukamade.

_Info_

Paket menuju sungai Kere, melihat mangrove Rp150 ribu (perkapal /kapasitas 15 orang). Ada pula paket menuju Cungur-Grajakan Rp200 ribu. Sementara, paket Bendul menuju Pantai Nagelan dikenakan harga Rp400 ribu.  Sebaiknya, anda membawa makanan sendiri, karena di lokasi-lokasi tujuan tidak terdapat pedagang makanan yang berjualan.

 

Pulau Tabuhan

banyuwangi 032

Saat berada di sekitar Kota Banyuwangi, kami pun menyempatkan diri untuk singgah sebentar Pulau Tabuhan yang berjarak 20 km dari kota Banyuwangi, tepatnya berada di desa Bangsring,Kecamatan Wongsorejo. Pulau tidak berpenghuni ini nampak cantik, dan sangat berpotensi untuk dijadikan objek wisata. Namun, masih memerlukan pembenahan. Karena, di beberapa bagian pantai masih kotor dengan sampah laut. Terumbu karangnya pun perlu perhatian khusus. Namun, yang perlu disalutkan adalah tekad kelompok nelayan dan masyarakat pembudidaya ikan hias di pinggiran pantai Desa Basring yang begitu perhatian, dan melakukan pemantauan pemburuan ikan hias liardan pemeliharaan terumbu karang. Mereka bahkan menciptakan Fish Apartement bawah laut loh…

banyuwangi 035

banyuwangi 037

banyuwangi 044

 

Barikin, Ujung Tombak Topeng Banjar

Banjarmasin, Maret 2013
Tarian Topeng Banjar di Desa Barikin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tarian Topeng Banjar di Desa Barikin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tibalah kami di Banjarmasin, Kota Seribu Sungai. Kali ini, bersama Gelar Cultural Trip bertajuk “The Mask”, kami mencoba menguak tradisi Topeng Banjar, yang kini terancam punah. Perjalanan dimulai dengan mendatangi Desa Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Disinilah, kampung para seniman Topeng Banjar yang Tersisa. Kami pun harus menempuh perjalanan sejauh 135 kilometer dari Kota Banjarmasin. Setelah 2,5 jam perjalanan darat, kami pun tiba di desa Barikin ini. Nuansa tentram dan damai begitu kental terasa. 
 
Astaliah, Sang Maestro
Nenek Astaliah yang kini berusia 117 tahun. Maestro Tari Topeng Banjar yang Tersisa.

Nenek Astaliah yang kini berusia 117 tahun. Maestro Tari Topeng Banjar yang Tersisa.

Sambil menunggu pergelaran tari yang akan dimulai nanti malam, terlebih dahulu kami menemui Sang Maestro Tari Topeng Banjar. Senyuman Nenek Astaliah menyambut kami dengan hangatnya. Alangkah terkejutnya kami, saat mengetahui usianya ternyata menginjak 117 tahun.
KTP Nenek Astaliah. Kelahiran tahun 1895.

KTP Nenek Astaliah. Kelahiran tahun 1895.

 

Copy of banjarmasin 059

Meski lahir di tahun 1895, perempuan yang sudah menari sejak berusia 15 tahun ini, masih memiliki ingatan yang kuat. Nenek Astaliah, masih bisa mengingat nama-nama topeng, dan bercerita soal topeng kesayangannya. Ia pun, memperlihatkan beberapa topeng yang dimilikinya dan ia satu-satunya maestro yang mampu memainkan beragam karakter topeng Banjar. Saat usianya menginjak 70 tahun, ia berhenti menari. Sayangnya, anak maupun cucu-cucunya tidak ada yang tertarik untuk meneruskan jejaknya sebagai penari. Saat kami bertanya apa rahasia dibalik umurnya yang panjang, nenek hanya menjawab. “Shalawat, Shalawat, terus Shalawat Nabi,” sambil tersenyum. 
Turun Temurun
syarbain

Syarbain memperlihatkan beberapa Topeng Banjar Warisan Datu Taruna

 

Syarbaini, 58, Pemimpin Sanggar Seni Tradisional Ading Bastari Barikin yang juga generasi keenam Datu Taruna (moyang yang mewarisi topeng Banjar) memperlihatkan pada kami beberapa Topeng Banjar yang telah berusia empat abad. Terakhir yang pernah menggunakan adalah Astaliah. Karakternya antara lain Ranggajiwa, Pamindo, Patih, Pantul, Hambam, Kelana, Penambi, Panji, Tumenggung. Karakter topeng Banjar didominasi warna putih. Dipercaya, topeng-topeng beragam karakter ini memiliki ruh kayu tersendiri yang mendiaminya. Inilah yang kerap membuat penari kerasukan. 
Topeng Banjar berusia ratusan tahun

Topeng Banjar berusia ratusan tahun

 
Topeng Banjar, sendiri merupakan warisan dari Datu Taruna, pelatih karawitan di Kerajaan Dipa sampai masa Kerajaan Daha pada abad ke-14 silam. Saat terjadi pergolakan kerajaan, Datu Taruna mengasingkan diri ke daerah yang saat ini dinamakan Barikin. Disinilah, secara turun-temurun, generasi ke generasi, Tradisi topeng Banjar ini terus diperjuangkan untuk dilestarikan. 
Tarian Topeng Banjar di Desa Asal
 
Aneka sesaji dipersembahkan kepada leluhur.

Aneka sesaji dipersembahkan kepada leluhur.

Tepat pukul 9 malam, bertempat di ruang sebuah Sekolah Dasar di desa ini, pertunjukkan pun dimulai. Terlihat aneka sesaji terpajang di tengah ruangan. Selanjutnya, tetua adat melantunkan doa memohon restu nenek moyang. Maklum, Tarian ini tidak bisa sembarangan ditarikan, biasanya hanya pada acara adat tertentu untuk menolak bala. Nuansa kesakralan begitu kental terasa.
Upacara pun imulai

Memohon restu kepada Sang Leluhur, sebelum memulai tarian 

 

Copy of banjarmasin 093

banjarmasin 110

Copy of banjarmasin 119
Alunan musik karawitan dimainkan para pemuda ber-Laung. Kemuian, masuklah empat remaja perempuan, lengkap dengan kostum Kida-kida khas Banjar dan topeng putih diwajah membuka acara.
Para Pamindo

Para Pamindo

banjarmasin 244
Mereka para Pamindo, yang berkarakter keriangan dan kegembiraan. Meski, masih terbilang muda, mereka begitu luwes menari. Selanjutnya, seorang, ibu-ibu paruh baya, tampil solo, menarikan karakter topeng Patih, yang lebih gagah perkasa. Para penari masih memiliki hubungan saudara. Pasalnya,berdasarkan wasiat Datu Taruna, hanya para keturunannyalah yang boleh menarikan tarian ini. Kini, di Barikin hanya tersisa empat remaja inilah yang mau belajar dan meneruskan seni tari leluhurnya ini. Tarian begitu hikmat, mengalun syahdu dengan gamelan Banjar dan nuansa malam hari yang menguatkan nuansa misterius dari tarian sakral ini. Masyarakat sekitar pun tumpah ruah, menyaksikan. 
Copy of banjarmasin 254
Copy of banjarmasin 227
banjarmasin 203
 
Copy of banjarmasin 159
s

Seorang ibu menarikan Topeng Patih

Copy of banjarmasin 305
Copy of banjarmasin 318
“Menonton langsung tarian dan tradisi langsung dari Desa aslinya,membuat feelnya lebih dapat. sambutan hangat masyarakat, bertemu dengan sang maestro, melihat tarian mereka, memakan makanan mereka, menjadi pengalaman yang unik dan tidak terlupakan,” ungkap Sri Wahyuni, 72, turis asal jakarta yang turut serta dalam perjalanan kali ini.
 banjarmasin 332
Copy of banjarmasin 336
Copy of banjarmasin 341
Ya, perjalanan kali ini memang memberikan pengalaman tersendiri dan pembelajaran yang besar akan perjuangan dan rasa cinta akan tradisi leluhur. Dan ternyata masih banyak tradisi, adat, budaya nenek moyang kita yang belum banyak terekspos, namun justru tengah terancam kepunahan. 
 
_Info_
 
TRIP-ONLY Rp. 2.200.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua)
Biaya sudah termasuk : Transportasi lokal, akomodasi 2 hari 1 malam, makan selama trip, narasumber lokal dan donasi keberlangsungan dan keberlanjutan seni budaya tradisi.

Kabui, Tebaran Pulau Karang Nan Eksotis

Teluk Kabui, Raja Ampat, Papua Barat

Teluk Kabui, Raja Ampat, Papua Barat

-Oktober 2012-

Enam jam perjalanan udara kami dari Jakarta, meninggalkan rasa lelah dan pegal di sekujur tubuh. Tapi begitu menginjakkan kaki di tanah Sorong, Papua Barat, seketika rasa lelah menghilang berganti luapan rasa penasaran dan antusiasme besar, ingin segera mencicipi keindahan Kepulauan Raja Ampat. Tanpa basa-basi, kami pun langsung melanjutkan perjalanan laut menyebrang dari pelabuhan Rakyat dengan menaiki kapal besar. Keindahan sepanjang perjalanan laut ini bahkan sudah memicu antusiasme besar untuk segera mengeksplor Raja Ampat. Dua jam membelah lautan menuju Pulau Waigeo, kami pun akhirnya bersandar di Dermaga Waisai.

Selama ini, Wayag menjadi ikon Raja Ampat yang Tersohor hingga kepenjuru Dunia. Tebaran pulau-pulau karang yang begitu cantik, tak ketinggalan dunia bawah lautnya yang memukau. Tapi, untuk kesini, anda harus menghabiskan waktu 6 jam (pulang-pergi) dari Waisai. Sayangnya, waktu kami begitu terbatas. Hmm,,tapi kekecewaan kami yang tak sempat mengunjungi Wayag, terbayar dengan kesempatan mencicipi Teluk Kabui yang letaknya tidak terlalu jauh dari Waisai. Jangan salah, Teluk Kabui juga menawarkan sensasi keindahan alam yang tak kalah dengan Wayag. Keesokan paginya kami pun merapat menuju Kabui, dengan menaiki speedboat bersama wisatawan lainnya.

Lets Go!

Lets Go!

IMG_6652

Teluk Mayalibit

Teluk Mayalibit

IMG_6660

Selama perjalanan, kami disuguhkan pemandangan laut nan indah. Senangnya, karena langit begitu cerah pagi ini. Sebelum mencapai muka Kabui, kami melewati sejenak perkampungan Tanjung Besi. Rumah-rumah kayu sederhana berdiri di pinggiran pantai desa itu. Uniknya, meski hanya melewati perkampungan dari kejauhan diatas kapal yang kami tumpangi, bau semilir amisnya ikan tercium jelas. Maklum saja, para penduduk disini ternyata bermatapencaharian sebagai pembuat terasi.

Kampung Tanjung Besi

Kampung Tanjung Besi

IMG_6679

Tak sampai 1,5 jam, kami pun tiba di perairan Teluk Kabui. Pulau-pulau karang beraneka bentuk dan ukuran bertebaran dimana-mana. Kami pun berkeliling menikmati pulau-pulau karang bagai menggantung diatas laut. Kami seolah dibuat bagai mengitari sebuah labirin tebing karang. Sesekali kami melewati, tebing karang besar,dengan hutan hijau yang nampak kontras dengan laut. Kami menemui pemandangan unik, sebuah karang yang berdiri tegak dan tinggi, dengan sarang burung Rajawali di puncaknya. Saat kami mendekat tuk menyapa, sang Rajawali langsung terbang menghindar. Pemandangan Kabui sungguh indah, tak bosan rasanya berkeliling perairan bertabur karang cantik ini.

Ya, Kabui memang menjadi alternatif bagi pengunjung yang tidak sempat mengunjungi Wayag. Kondisinya yang mirip Wayag, membuat Kabui memiliki sensasi tersendiri bagi mereka yang mendatanginya. Bedanya, disini anda tidak bisa menaiki puncak pulau-pulau kecilnya untuk menikmati pemandangan keseluruhannya dari atas dan hanya bisa menikmati sensasinya dari bawah. Tapi, disini anda bisa bersnorkling di sekitar perairan ini. Tapi jika anda ingin menyelam bisa menuju mulut Kabui (perairan luar teluk Kabui). Disini anda bisa menemui anek terumbu karang nan cantik, dan beragam biota laut. Bahkan, anda bisa menemui Ikan Pari Manta disini. Merapatlah sebentar ke Pulau Kri yang tidak jauh dari Kabui, tuk menikmati keindahan bawah laut. Ya, Kabui hanya satu dari sekian banyak destinasi wisata alam lainnya yang tersebar di Negeri ribuan Pulau ini.

yeaa,, Sampai juga  di Teluk Kabui, saatnya berkeliling b^_^

yeaa,, Sampai juga di Teluk Kabui, saatnya berkeliling ^_^

IMG_6692 IMG_6698

IMG_6710

IMG_6722

IMG_6726

IMG_6737

IMG_6741

IMG_6803

Rajawali Raja Ampat

Rajawali Raja Ampat

IMG_6809

 IMG_6813

IMG_6858

IMG_6819

Selain Kabui, di Pulau Misool pun bertebaran pulau-pulau karang yang sama indahnya. Dalam perjalanan pulang ke Waisai, kami pun menyempatkan diri untuk singgah di perkampungan Saporkren, yang berjarak 30 menit dari Waisai. Disini, anda bisa menikmati pasir putih, atau iseng mandi atau bersnorkling. Atau sekedar bersantai di pinggir pantai. Siang itu, anak-anak kampung desa ini terlihat asik bermain di dermaga. Biru langit yang cerah, serasi dengan birunya laut yang masih jernih tersebut. Kalau anda ingin mengunjungi perkampung adat, anda bisa mengunjungi kampung Mayalibit, Mansuar, Sawingrai, dan Arborek.

Goodbye Kabui

Goodbye Kabui

Saporkren Village

Hallo ^_^

Hallo ^_^

Sarpokren Village

Sarpokren Village

IMG_6948 IMG_6961

IMG_6971

 

IMG_6972

IMG_6976

IMG_6983

 

IMG_7008

 

IMG_7025

 

IMG_7034

 

IMG_7044

 

Waiwo,menyusul….:D

Pelangi Di Raja Ampat


Festival Budaya Raja Ampat 2012

Papua Barat

Welcome to Raja Ampat ^_^

Welcome to Raja Ampat ^_^

Panas terik menyengat menembus pasir pantai tak dihiraukan puluhan ‘Bin Sopen’ (perempuan berseluring) itu. Tanpa alas kaki, mereka berjalan beriringan, menari lepas, bersorak-sorai, sambil meniup suling Tambur khas Papua. Sesekali air disiram ke telapak kaki dan kepala mereka tuk mengusir panas.

736305_10200321381060916_1676651427_o

735968_10200321414541753_1881317355_o

736732_10200321387901087_1732364542_o

190635_10200321393141218_148776641_n

738120_10200321398181344_635209783_o  739672_10200321396061291_498418080_o IMG_6553

741185_10200321425182019_1391616937_o

 

 

741048_10200321457782834_1647957401_o

740491_10200321500623905_852386495_o

739682_10200321506944063_962130282_o

 

Sementara, topi bulu Kasuari menghiasi kepala para pemuda yang bersemangat menabuh Tifa. Lukisan beragam motif dari kapur menghiasi tubuh mereka. Aneka warna cerah dari busana nampak menarik dan kontras dengan kulit mereka yang hitam. Keindahan Laut Biru dan deretan pohon kelapa menjulang tinggi menjadi latar aksi mereka.

739710_10200321559625380_2077981610_o
IMG_6621

738274_10200321376700807_180101353_o

737555_10200321377140818_725565211_o

737286_10200321476063291_703363286_o

IMG_6570 IMG_6571

740676_10200321516304297_1692150180_o

IMG_6597

553257_10200321529624630_1137700106_n

IMG_6611

Semua larut dalam kemeriahan Festival Budaya Raja Ampat yang digelar di Pantai Waisai Tercinta, Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat pada 18-21 Oktober lalu. Tak peduli jauh menyebrang lautan, masyarakat dari perkampungan di Negeri Ribuan Pulau ini berkumpul menjadi satu menyajikan tarian, musik dan kesenian tradisional mereka. Tua, muda, anak-anak semua bersukaria.

735841_10200321554425250_1869153167_o 739833_10200321555825285_1570706494_o

Wisatawan lokal dan asing antusias menyaksikan pergelaran tahunan ini. Mereka mengintip ‘mama-mama’ membuat kerajinan Topi Durian nan unik khas masyarakat Sawinggrai, pembuatan “Molo” (kacamata selam tradisional dari kayu khas Papua), atau mencoba buah pinang dan sirih yang menjadi cemilan favorit masyarakat disini.

Mama2 membuat Topi Durian khas R4

Mama-mama membuat Topi Durian khas Raja Ampat

737644_10200321374300747_474747718_o (1)

Kacamata Selam Tradisional

Molo

737416_10200321722349448_446796583_o

Bagai pelangi, warna-warni seni dan adat istiadat menjadi kesatuan warisan budaya yang eksotis. Bersyukur, senyuman tulus tidak pernah terlepas dari wajah-wajah mereka yang masih hidup dalam kesederhanaan. Sisi lain dari Negeri yang Tersohor akan surga bawah lautnya yang mengaggumkan. ^_^

Pelangi Raja Ampat at Media Indonesia ^_^

Pelangi Raja Ampat at Media Indonesia ^_^

____ Tantangan Mencicip Buah Pinang_____

Ini Dia Buah Pinangnya :p

Ini Dia Buah Pinangnya :p

Kaka2 ini begitu asik nyemil buah pinang, macam makan permen karet,,

Kaka2 ini begitu asik nyemil buah pinang, macam makan permen karet,,

tambah terusss buah pinangnya bang,,perhatian: buah pinang ini begitu pahittttt saudara2,,jadi penasaran,,,

tambah terusss buah pinangnya bang,,perhatian: buah pinang ini begitu pahittttt saudara2,,jadi penasaran,,,

 

KORBAN KITA😛

Kita tengok perubahan ekspresi wajahnya :p

 

GW: "Ayo cuy,,coba dulu, enak nih buahnya", KORBAN: "buah apa??" GW: "ga tau, tapi manis kok, endang pokoknya",KORBAN: "Masa' sih..coba ahh,,,,,nyamm,,nyamm.."

GW: “Ayo cuy,,coba dulu, enak nih buahnya”, KORBAN: “buah apa??” GW: “ga tau, tapi manis kok, endang pokoknya”,KORBAN: “Masa’ sih..coba ahh,,,,,nyamm,,nyamm..”

 

“nyamm,,nyamm,,hmmm,,nyamm,,nyamm,,hmmm,,okehh,,,sepertinya ada yang tidak beres..” (dalam hatinya)

(tuinggg!!tiba2 pening!) “hmmm,,,dikerjain gw,,,PAHITTT MAKK..!!”

 

“ampunnnn!!Pahitnya bikin Pening!!” (tak mampu lagi berkata-kata, hanya bisa menerima nasib) lol

Mae Fah Luang, Cinta Kasih Ibu Suri (Thailand)

 Mae Fah Luang Garden

Mae Fah Luang Garden

Febuari 2012

Puas mengeksplor daerah perbatasan Segitiga Emas dan Museum Sang Jendral Candu, kami pun merapatkan kendaraan kami menuju daerah pegunungan Doi Tung, yang letaknya sekitar 70 kilometer  dari pusat Kota Chiang Rai. Dibalik pegunungan ini terdapat taman cantik yang bernama “Mae Fah Luang Garden”, salah-satu destinasi wisata yang tidak boleh anda lewatkan saat berkunjung ke Tanah Chiang Rai.

Dulu, Doi Tung merupakan kawasan gersang yang hampir keseluruhannya dipenuhi ladang opium.  Tapi kini, semua berubah drastis. Anda akan berdecak kagum saat mengunjungi pegunungan Doi Tung ini, terutama Mae Fah Luang Garden.  Ladang opium kini berubah menjadi taman-taman indah dengan ratusan bunga cantik, dengan desain taman (landscape) yang mengaggumkan.

DSCN8469

Berjalan menelusuri taman

Berjalan menelusuri taman

DSCN8482

Lebih dari 400 jenis bunga dan pepohonan besar ditanam di taman Mae Fah Luang ini. Ada yang tanam ditanah, digantung dalam sebuah pot-pot aneka ukuran dan bentuk, beberapa di green house, dan ada yang dibentuk aneka gaya dengan nilai seni yang tinggi. Anda bisa menyelusuri taman yang terdiri dari medan perbukitan kecil, melewati tangga, track bebatuan, jembatan-jembatan bambu, dan lainnya. Siang itu, udara begitu sejuk. Beberapa turis mancanegara terlihat asik berkeliling menikmati keindahan taman. Ada yang asik berjalan santai, berpose mengamadikan moment, atau duduk-duduk santai.

Taman Berarsitektur Cantik

Desain Taman nan Cantik

DSCN8524

Banyak tempat bagus untuk berpose, ga akan bosan-bosan

Banyak tempat bagus untuk berpose, dijamin tidak akan bosan

DSCN8504

DSCN8499

DSCN8518

Beberapa tanaman langka juga bisa anda lihat disini. Beragam jenis anggrek, kantung semar, sweet osmanthus, impatiens new guinea, auspicious gaereb, mawar-mawar ukuran besar, dan lainnya. Terbagi menjadi beberapa zona antara lain, Winter, flower garden, Rock Garden, dan Foliage Garden. Dengan keindahannya, taman ini membuat anda seolah berada di surga dunia.

DSCN8511DSCN8538

DSCN8536

 

DSCN8522

DSCN8521

Tak hanya itu, Disini juga terdapat Doi Tung Royal Villa (peristirahatan Ibu Suri) yang terbuka umum, dengan suguhan taman yang juga cantik. Objek ini terletak berdampingan dengan Mae Fah Luang Garden, yang bisa anda tempuh dengan berjalan kaki. Tak ketinggalan, Mae Fah Luang Arbotretum, didalamnya terdapat hall of Inspiration, semacam museum dimana pengunjung dapat mengetahui proses kesuksesan perubahan di kawasan Lumbung opium Doi Tung dan sekitarnya.

DSCN8413

DSCN8414

Mempelajari bagaimanan kesuksesan perubahan Doi Tung

Mempelajari bagaimanan kesuksesan perubahan Doi Tung

Berderet Cafe-cafe untuk anda bersantai

Berderet Cafe-cafe untuk anda bersantai

DSCN8456

Beberapa hasil produksi dari Doi Tung Development Project yang dimotori Mae Fah Luang Foundation pun dijual disini. Jika ada yang tertarik membeli tanaman-tanaman unik, juga terdapat beberapa toko bunga. Beberapa cafe juga berderet di sepanjang jalan raya Mae Fah Luang yang juga dipenuhi pot-pot bunga cantik ditengah jalannya.

Berburu beragam oleh-oleh khas Doi Tung

Berburu beragam oleh-oleh khas Doi Tung

DSCN8446

Ayo belanja tanaman hias cantik

Ayo belanja tanaman hias cantik

416932_3340503555164_1574131071_n

Mae Fah Luang  berarti Yang Mulia Yang Turun Dari langit. Nama, tersebut diambil dari kerja-keras Ibu Suri di tahun 1988, yang selalu turun dengan helicopter ke pegunungan doi Tung (kala itu tanpa akses jalan) untuk mengatasi permasalahan opium di gunung ini.

Ibu Suri Srinagarindra

Ibu Suri Srinagarindra

Pegunungan yang letaknya berdekatan dengan perbatasan segitiga emas ini, membuat kawasan ini dikenal multi etnik. Terdapat enam suku gunung di disini, antara lain Suku Akha dengan baju berhiaskan perak, Palong yang berkuping besar dengan anting besar, Lu Mien Yao  dari China, dan yang paling beda adalah suku Karen berleher  panjang (dibelit logam). Selain bisa ditemui di desa masing-masing, beberapa bisa ditemui karena menjadi pekerja di Mae Fah Luang, bahkan beberapa berjualan cendramata di sekitar Mae Fah Luang.

Bareng ibu2 Suku Akha

Bareng ibu2 Suku Akha

Ya, berkeliling kawasan Segitiga Emas memang menjadi pengalaman unik yang tidak terlupakan. Melihat dan merasakan transformasi dari sebuah pegunungan tandus dan miskin di masa lampau, berubah menjadi pegunungan indah yang menawarkan kedamaian dan ketentraman didalamnya.

Info:

Untuk memasuki Mae Fah Luang Garden pengunjung dikenakan tiket sebesar 50 bath (Rp15 ribu), Hall Of Inspiration 90 bath, dan Doi Tung Royal villa 90 bath. Terdapat paket hemat yang ingin sekaligus tiga tiket tersebut yakni 190 bath (Rp57 ribu).

DOI TUNG, Perjuangan Melawan Opium

Pegunungan Doitung yang dulu kritis dan menjadi ladang opium, kini berubah menjadi pegunungan hijau nan subur

Pegunungan Doitung yang dulu kritis dan menjadi ladang opium, kini berubah menjadi pegunungan hijau nan subur

Mengubah Doi Tung tidak semudah membalikkan telapak tangan. Doi Tung di masa lalu dikuasai oleh Khun Sa, yang merupakan seorang Jenderal dan panglima perang Burma yang memiliki pasukan sendiri untuk memerangi komunis di Myanmar. Mulai tahun 1963, Khun Sa beserta ribuan pasukannya menguasai wilayah Doi Tung seluas 150 kilometer persegi tersebut. Doi tung merupakan wilayah pegunungan yang gersang dan kritis. Khun Sa pun mengarahkan masyarakat disana untuk menanam opium dan Khun sa memonopoli pembelian seluruh panen opium disana. Ia juga turut mengatur jalur peredaran dan distribusi opium dari segitiga emas (The Golden triangle) ke dunia. Wilayah ini pun menguasai 75% pasokan opium ke dunia. 
 
Jendral Khun Sa

Jendral Khun Sa

Selama bertahun-tahun percobaan memerangi kekuasaan opium Khun Sa terus dilancarkan. Mulai dari penangkapan, percobaan pembunuhan atas desakan US Drug Enforcement Agency, dakwaan penyelundupan opium internasional dan berbagai upaya lainnya dilancarkan. Berujung di tahun 1996, Khun Sa akhirnya menyerah kepada pemerintah Burma. 
 
Kondisi masyarakat pun kian kritis. Di tahun 1988, Ibunda Raja Thailand Bhumibol, Ibu Suri Srinagarindra terjun langsung ke pegunungan yang berada di wilayah Chiang Rai, utara Thailand ini. Medan yang berat tanpa akses jalan, membuat Ibu Suri selalu menggunakan helicopter untuk sampai ke desa-desa. Ibu suri melihat permasalahan kemiskinan, kesehatan, dan ketergantungan opium membelenggu masyarakat yang terdiri dari enam etnik yang berbeda ini. 
 
Dimotori Mae Fah Luang (MFL) Foundation yang dibentuk Ibu Suri dibawah naungan Kerajaan Thailand, berbagai aksi dilancarkan dengan pendekatan yang halus namun tegas. Kesehatan menjadi perhatian utama. Pertama, secara bertahap warga direhabilitasi untuk menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan opium. Pasalnya, hampir 572 ribu penduduk disini tak hanya menanam tapi juga menjadi pecandu opium. 
 DSCN8384
Lewat Doi Tung Development Project, langkah yang penting pun dilakukan, yakni reforestasi ladang-ladang opium. Potensi alam dipelajari, tak hanya sekedar dimusnahkan, ladang opium pun diubah menjadi lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Irigasi segera dibentuk untuk mendukung pertanian dan keseharian masyarakatnya. Kopi dan pohon macademia (salah-satu kacang termahal di dunia) yang cocok tumbuh disini, dan memiliki nilai manfaat dan jual tinggi dipilih menjadi komoditas utama. Masyarakat yang semula bertani opium, berubah menjadi petani-petani kopi, macademia, dan tanaman lainnya. Potensi kerajinan tradisional pun dikembangkan, prasarana, seperti sekolah, rumah sakit, jalan, dan lainnya pelan-pelan dibangun. Seluruh strategi development project memiliki target 30 tahun. Namun, berkat keseriusan berbagai pihak hanya dalam waktu 12 tahun, keberhasilan sudah mulai tercapai. 
Dahulu menanam opium kini menjadi Penenun

Dahulu menanam opium kini menjadi Penenun

 DSCN8346
DSCN8357
Kini, opium benar-benar terhapus dari tanah Doi Tung. Pegunungan yang semula gersang dan dipenuhi opium, berubah menjadi pepohonan hijau yang subur. Tahun, 1993 pabrik-pabrik secara bertahap dibangun. Doi Tung Development Project seluas 8 hektar tersebut yang berjarak 70 kilometer dari kota Chiang Rai ini, kini memiliki lima pabrik, yakni pabrik keramik, pabrik kertas, pabrik penenunan kain tradisional Doi Tung, pabrik ceremix dan pabrik pengolahan kopi dan Macademia.
Aneka produk dari para petani Doi Tung

Aneka produk dari para petani Doi Tung

Sebisa mungkin, produk-produk tidak dijual mentah dibuat hingga kemasan terakhir (finishing) untuk menaikkan nilai jual. Contohnya kopi, dibuat . Pasar penyerapannya pun disediakan, mulai dari toko-toko  dengan brand “Doi Tung Lifestyle” yang tersebar di beberapa daerah di Thailand, memasarkan berbagai propduk dari Doi Tung. Keramik pun menjadi pemasok bagi Ikea, sebuah perusahaan meubel kelas dunia asal Swedia.
Pemuda-pemudi Doi Tung membuat aneka produk Keramik, yang kebanyakan diekspor keluar negeri

Pemuda-pemudi Doi Tung membuat aneka produk Keramik, yang kebanyakan diekspor keluar negeri

 
Aneka produk keramik Doi Tung

Aneka produk keramik Doi Tung

DSCN8367
Tak perlu mencari mata pencaharian diluar, tiga generasi keluarga, para orang tua dan muda-mudi bekerja di kawasan Doi Tung ini. Para wanita pun diperdayakan secara maksimal. Ada 1700 pekerja, dan hampir seluruhnya merupakan warga asli Doi Tung. 
 
Doi Tung pun berubah menjadi objek-objek wisata terkenal yang jadi incaran wisatawan. Ladang-ladang opium disulap menjadi Mae Fah Luang Garden, taman cantik dengan lebih dari 400 jenis tanaman dan bunga, dengan dekorasi taman yang indah.
DSCN8505 DSCN8714 DSCN8619
Terdapat pula Hall of Opium, bangunan yang berisi sejarah opium di dunia, dan pelajaran akan jahatnya opium dan upaya penyadaran masyarakat dan penurunan demand opium. Rumah kediaman Khun Sa yang berada di pegunungan Doi Tung pun tidak dihancurkan dan dimuseumkan. Agar masyarakat lokal dan mancanegara yang berkunjung dapat mempelajari sejarah Doi Tung. Sementara daerah The Golden Triangle berubah menjadi objek wisata favorit wisatawan asing ditengah perbatasan Laos dan myanmar. 

Perjuangan melawan opium membuahkan hasil. Masyarakat semakin sejahtera dan mandiri dengan pendapatan rata-rata dari semula 5000 bath pertahun, meningkat menjadi rata-rata 30 ribu bath per tahun per kepala. Jika Lamteuba (Aceh) atau Mandailing Natal (Sumatera Utara), yang saat ini masih terjerat sebagai daerah sumber ladang ganja Terbesar di Indonesia dan salah-satu Asia ingin Terbebas. Harus banyak belajar perjuangan dari Doi Tung yang mampu berhasil bebas dari jeratan opium.

The Golden Triangle Thailand

Febuari 2012

 DSCN8695

The Imperial Golden Triangle at Chiang Rai, Thailand

The Imperial Golden Triangle at Chiang Rai, Thailand

The Golden Triangle atau Segitiga Emas Thailand. Siapa saja yang mendengar sebutan ini, pikirannya akan langsung terbayang pada perbatasan rawan konflik yang populer juga sebagai lokasi perdagangan narkoba dan lumbung opium (bahan baku narkoba) Terbesar di Dunia. Ya, kawasan pegunungan yang berada di perbatasan utara  Thailand ini memang pernah menjadi sejarah kelam negara yang ‘Gajah Putih’ ini.  Bersama dengan tetangganya Laos dan Myanmar, yang membentuk Segitiga Emas, pegunungan ini menjadi penghasil 75% pasokan opium dunia.  Namun, siapa sangka kawasan ini telah berhasil terbebas dari belenggu opium dan berubah menjadi lokasi wisata incaran para pelancong lokal maupun wisatawan mancanegara.

DSCN8717

DSCN8718

Jika anda berharap akan menemui lokasi yang kritis dan ekstrem seperti halnya kondisi di masa lalu, bersiaplah kecewa. Karena kawasan  The Golden Triangle (segitiga Emas) ini sudah berubah total dan justru menawarkan sensasi wisata yang mengaggumkan. Bagi yang ingin mencari wisata yang berbeda dibandingkan pantai-pantai eksotis Thailand, tempat ini menjadi pilihan yang tepat.  Lokasi ini berjarak 70 kilometer atau dua jam berkendara dari pusat Kota Chiang Rai dan mengarah ke pegunungan utara menuju Chiang San. Sesampainya di lokasi The Imperial Golden Triangle, pemandangan indah langsung terpajang. Nuansa kedamaian begitu kental terasa menyambut kedatanganku.

Berfoto diatas Lambang Chiang Rai

Berfoto diatas Lambang Chiang Rai

DSCN8762

DSCN8725

Sepasang patung gajah berukuran besar menjadi pusat monumen The Imperial Golden Triangle yang menjadi titik segitiga perbatasan antara Thailand, Laos, dan Myanmar tersebut.  Pilar-pilar besar bendera (thong) lambang kerajaan dengan nuansa serba emas menyala nampak memukau mata. Para wisatawan asing terlihat asik mengagumi dan sesekali mengabadikan diri didepan monumen tersebut.  Sementara dipuncak antara patung gajah terdapat tempat yang bisa dinaiki para pengunjung yang ingin berfoto diatas patung.  Disini, tidak dipungut bayaran, namun jika ingin menaikinya sebaiknya memberikan sumbangan seikhlasnya di kotak amal yang disediakan.

Anak-anak kecil dan gurunya berputar dibawah patung Gajah memohon Doa dan keberuntungan :)

Anak-anak kecil dan gurunya berputar dibawah patung Gajah memohon Doa dan keberuntungan🙂

Anak-anak asik bersantai

Anak-anak asik bersantai

Sementara dibagian bawah patung gajah, pemandangan menarik muncul. Seorang guru dan beberapa muridnya yang duduk di taman kanak-kanak yang juga berwisata kesini, terlihat memutari bagian bawah patung Gajah yang menjadi lambang suci negara ini.  Ya, di monumen Gajah ini ternyata terdapat kepercayaan tersendiri.

“Setiap pengunjung yang memutari patung ini selama tiga kali akan bernasib baik. Dimana, putaran pertama dipercaya untuk menarik hoki (keberuntungan), kedua untuk umur panjang, dan terakhir membuang berbagai sial,” ungkap salah-satu warga Thailand yang saya temui disana.

Penasaran, aku pun akhirnya ikut mencoba berputar patung itu selama tiga kali.  Ya, iseng-iseng,  istilahnya belum ke Golden Triangle namanya jika belum mencoba ritual ini. ^_^

Ikutan muter 3 kali biar Hoki,,,heheheh :p

Ikutan muter 3 kali biar Hoki,,,heheheh :p

DSCN8777

Puas mengeksplor Monumen Gajah tersebut, aku pun menghampiri bagian belakang monumen. Pemandangan indah Sungai Mekong yang merupakan sungai terpanjang ke-12 di dunia langsung tersaji di hadapan. Dengan panjang 4909 km, sungai raksasa yang tenang ini melewati beberapa negara dan dipertemukan bersama sungai Sop Ruak dan menjadi pembatas utama ketiga negara segitiga emas ini.

The Golden Triangle, perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos.

The Golden Triangle, perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos.

 

Kapal-kapal nampak berlalu-lalang di sungai besar tersebut. Menariknya, hanya dengan merogoh kocek 100 Baht (sekitar Rp 30.000) per orang, anda bisa langsung menyeberang sungai menggunakan perahu dan menginjak tanah Laos yang berada disebrang sungai Mekhong tersebut. Tapi, anda hanya bisa singgah sebentar di tepi sungai di sisi Laos. Pasalnya, untuk lebih masuk kedalam negara ini, harus menyiapkan paspor dan perijinan tertentu.

Anda bisa menyebrang dengan perahu kecil, dan sejenak singgah di Laos..

Anda bisa menyebrang dengan perahu kecil, dan sejenak singgah di Laos..

Mengintip perbatasan lewat Teleskop,,

Mengintip perbatasan lewat Teleskop,,

Tak perlu menyebrang, anda pun juga bisa langsung melihat Laos dari kejauhan, dengan menyewa belasan Teleskop yang terpajang di beberapa titik di kawasan ini. Dengan merogoh kocek 5 bath anda sudah bisa langsung menggunakannya.

Kuil diatas perahu besar berornamen kepala naga. Diatasnya patung Budha besar setinggi 46 meter.

Kuil diatas perahu besar berornamen kepala naga. Diatasnya patung Budha besar setinggi 46 meter.

Salah-satu yang menarik perhatian disini adalah kuil yang berada ditepi sungai besar Mekong. Kuil ini berada di sebuah bangunan yang menyerupai perahu besar dengan ornamen kepala naga diujung perahu dan sentuhan warna-warna yang cerah. Sementara diatasnya terdapat patung Budha besar berwarna emas setinggi 46 meter. Baik penganut Budha, maupun kepercayaan lainnya, bebas untuk memasuki kuil. Namun sebaiknya membunyikan gong yang terletak di pintu masuk sebagai bentuk penghormatan. Kawasan ini memang menawarkan atmosfer yang damai. Suasana yang sejuk dan tentram, dengan alunan doa-doa terdengar membahana, dipanjatkan dari beberapa kuil yang berada di sekitar lokasi ini.

DSCN8730

DSCN8732

DSCN8734

 DSCN8735

Nah, jika ingin melihat kawasan perbatasan lebih jelas, anda bisa menuju bukit Petiti Kamas, yang letaknya hanya berjarak tempuh 5 menit berkendara dari Monumen Golden Triangle. Disini, anda bisa puas menikmati keindahan pemandangan Sungai Mekong dari ketinggian. Tak ketinggalan, berburu oleh-oleh yang dijual pedagang di sekitar bukit.

Mekong River

Mekong River

DSCN8703

Jika anda ingin berbelanja berbagai handmade khas pegunungan utara, terdapat ratusan toko oleh-oleh yang berderet rapih sepanjang Jalan utamanya. Anda bisa berburu aneka souvenir khas Chiang Rai dan Thailand.

DSCN8773

Berburu Oleh-oleh

Berburu Oleh-oleh

DSCN8721

Anda bisa dengan bebas memilih oleholeh, mulai dari berbagai kaos, baju-baju khas suku pegunungan, berbagai asesori mulai dari gantungan kunci, gelang-gelang, dan lainnya. Semua dijual dengan harga miring alias murah dan bisa dengan bebas ditawar. Berbagai jajanan murah meriah juga ditawarkan disini. Sensasi wisata diujung perbatasan utara Thailand ini memang menjadi pengalaman wisata unik dan tidak terlupakan. Dan The Golden Triangle, hanya satu dari sekian banyak destinasi wisata seru yang bisa anda nikmati di Chiang Rai. ^_^

Sunset at Chiang Rai

Sunset at Chiang Rai

Marih Bersantai Di Kuta Lombok

Lombok, NTB

April 2014

Kuta Lombok

Kuta Lombok

Tak sekedar menikmati Pantai Batu Payung & Tanjung Aan. Rangkaian plesir saya di sisi selatan Pulau lombok ini pun ditutup dengan bersantai sambil menikmati kecantikan Pantai Kuta Lombok. Pantai ini terletak di Desa Kuta, Lombok Tengah, sekitar 45 menit dari Bandara Internasional Praya atau sejam dari Kota Mataram (54 kilometer tenggara kota Mataram).

IMG_6273

Pantai disini jauh lebih halus dan putih. Deburan ombak yang tenang mengalun perjalanan saya menelusuri pantai sambil bertelanjang kaki. Pemandangan sekitar, perbukitan, lautan yang biru begitu menghipnotis. Tak bosan-bosan memandang pantai ini. Siang itu, beberapa wisatawan asing pun terlihat asik berjemur dan berjalan santai di bibir pantai. Bagi wisatawan yang ingin menginap, beberapa hotel yang berdiri disepanjang jalan Kuta bisa menjadi pilihan anda. Letaknya pun dekat pantai, jadi anda bisa langsung berjalan kaki menuju pantai. Pantainya luas dan memanjang, jadi anda bisa puas bersantai dimanapun.

IMG_6293

Pantai ini juga tersohor dan menjadi primadona dari Pulau Lombok, dan kerap diselenggarakannya Bau Nyale. Yakni, upacara para pelaut mencari cacing Nyale di laut yang diadakan setahun sekali. Menurut legenda, dahulunya ada seorang putri cantik bernama Putri Mandalika. Banyak sekali pangeran dan pemuda yang ingin menikah dengannya. Karena ia tidak dapat mengambil keputusan, maka ia terjun ke air laut. Ia berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang kemudian menjadi cacing Nyale tersebut. Biasanya, upacara adat ini diadakan setiap bulan Febuari atau Maret. Selain itu, ada beberapa pantai cantik yang masih bisa anda nikmati di kawasan Selatan, seperti pantai Seger, Mawi, Selong Belanak, Rowok dan Mawun.

IMG_6280

Disini, anda juga akan menemui beberapa penduduk lokal menawarkan kerajinan tangan khas Lombok seperti tenun ikat dan gelang-gelang etnik. Nah, disini dikenal, pedagangnya yang agak memaksakan pengunjung untuk membeli. Jadi jika memang anda tidak ada niatan membeli lebih baik menolak secara tegas tapi halus sedari awal. Seperti “Tidak, Terima kasih”, atau “Maaf, tidak”. Jangan pernah bilang, “Sebentar yah”, “nanti yah”, “tunggu,nanti setelah main”,basa-basi seperti ini tidak mempan, karena nanti akan disangka anda akan membeli setelah pulang, dan mereka akan setia menunggu anda.  Tapi jika memang anda ingin melihat-lihat, anda bisa meminta mereka menunggu, sambil anda main-main terlebih dahulu. Karena tenun yang dijual disini cukup murah dan bisa ditawar-tawar. heheheh ^_^

Tanjung Aan, Si Cantik Dari Selatan (Lombok)

Lombok, NTB

April 2014

Tanjung Aan

Tanjung Aan

Usai puas menikmati keindahan Pantai Batu Payung, saya siap menghampiri primadona lainnya dari pesisir selatan Lombok, Pantai Tanjung Aan. Letaknya dekat sekali dengan Pantai Batu Payung, yakni hanya sekitar 7 menit berkendara dari batu payung. Bahkan, untuk mendatangi Batu Payung, kita melewati dulu  Tanjung Aan dan Kuta Lombok karena memang sejalur.

IMG_6270

Sesampainya di Tanjung Aan, saya disajikan pesisir pasir putih nan elok. Disini, anda bisa puas bersantai, bermain pasir, berjemur, berenang atau berjalan kaki di sepanjang pantai landai yang memiliki panjang sekitar 1 kilometer ini. Pantainya bersih, dengan butiran pasirnya yang begitu unik yakni sebesar merica. Disini, juga terdapat beberapa kapal milik penduduk lokal yang bersandar di sisi timur pantai , siap mengantarkan anda yg ingin berkeliling di laut.

IMG_6240

Pemandangan tanjung Aan dari bukit kecil di tengah pesisir

Pemandangan Tanjung Aan (sisi barat) dari atas bukit kecil di tengah pantai

IMG_6238

Bagi anda yang ingin menikmati pemandangan landscape Tanjung Aan dari ketinggian, bisa menanjak sebuah bukit kecil yang berada di tengah-tengah pesisir pantai ini. Bentuk pantai ini memang menarik, yakni mirip seperti huruf “W” dengan bagian tengah yakni bukit berumput kecil ini. Dari atas sini, anda bisa menikmati Tanjung Aan yang cantik secara keseluruhan.  Pesisir pantai putih yang landai, begitu kontras dengan perbukitan hijau disekitarnya, semakin cantik dengan lautan biru yang tergradasi dengan cantik.

Pemandangan Tanjung Aan (sisi timur) dari atas bukit di tengah pantai

Pemandangan Tanjung Aan (sisi timur) dari atas bukit di tengah pantai

IMG_6246

 

IMG_6255

Singgah di Tanjung Aan dijamin akan memberikan pengalaman berlibur yang berkesan bagi anda. Pantai indah dan bersih, dengan pemandangan yang cantik dan suasana yang masih sepi.  Jadi, anda bisa tenang bersantai dan bermain-main disini. Bagi anda yang ingin menginap, jangan khawatir karena terdapat beberapa penginapan yang letaknya tak jauh dari lokasi pantai. Dari penginapan-penginapan ini anda tinggal berjalan kaki sedikit ke arah pantai. ^_^